Tragedi Halte Tugu Tani – seperti itu kebanyakan orang menyebutnya – masih terlalu sesak untuk diingat. Sampai sekarang pemberitaan di berbagai media masih membahas berbagai sudut dari peristiwa naas di Jl Ridwan Rais, tepat di depan Kantor Pelayanan Pajak tersebut. Bayangkan… Sembilan orang meregang nyawa ditabrak sebuah laju 100 km/jam sebuah mobil maut yang dikendarai wanita pecandu narkotik. Hari yang cerah itu, ahad, 22 Januari 2012, saat seharusnya mereka menghiasinya dengan senyum lebar untuk berlibur, kematian datang begitu mendadak. Tak terduga. Menyesakkan. Mengguncang hati keluarga dan orang terdekat para korban. Menyentak nurani setiap orang yang mendengarnya. Empat orang sekeluarga yang jauh-jauh berlibur dari Jepara tercabut nyawa sekaligus. Seorang suami harus meninggalkan istrinya tanpa sempat melihat anak pertamanya dilahirkan. Juga sahabat yang sangat disayangangi dan orang-orang yang dekat di hati.

Ada sebuah video ‘recommended‘ yang muncul di halaman channel youtube saya. Saya jadi teringat dengan Firmansyah, salah satu korban yang meninggalkan istrinya yang baru setahun dinikahinya, yang sedang mengandung 7 bulan. Mungkin seperti itulah rasa kehilangan seorang istri. Begitu juga anak yang lahir tanpa seorang ayah. Hanya saja, bedanya, di video ini, sang suami sempat merekam pesan terakhir untuk anaknya yang akan lahir.

Izrail hanya menyapa kita. Selalu menyapa kita. Karena setiap kematian yang manusia saksikan dan dengarkan adalah sapaan lembut darinya. Mengingatkan bahwa cepat atau lambat perpisahan antara jasad dan jiwa manusia pasti terjadi.

“If I die tomorrow.. I’d be alright

because I belive… That after we’re gone..

The spirit carries on”

Saya teringat lirik “The Spirit Carries On“, sebuah lagu favorit dari band legendaris: Dream Theater. Lagu ini adalah sebuah renungan tentang kematian.

Tak banyak yang bisa saya bahas di sini. Renungkan saja tentang misteri yang pasti: kematian. Silakan renungkan sembari mendengarkan lagu tadi.

Kepada langit malam di awal tahun…

 

Maaf.. aku tak ikut serta menyapamu

Bersama orang-orang yang membakar sumbu penyulut api

Yang melesat menyentak lalu mewarnai  angkasamu

Menemani indahnya gemerlap bebintang dan sinar bulan

 

Maaf.. aku tak ikut mengelu-elukanmu

Bersama orang yang saling berpegang tangan dan menari bersama

Sembari menyaksikan dentum dan lengkingan irama konser khusus untukmu

Sembari meniupkan terompet penghormatan yang riuh menyambutmu

 

Aku lebih memilih di sini

Mencoba membakar setiap sumbu-sumbu dosa dan khilaf

Berharap semua melesat memenuhi angkasamu

Membiarkan mereka meledak lalu berpijar gemerlap

Lalu seketika itu juga gugur ditiup angin dan ditelan awan

 

Aku lebih memilih di sini

Bersama secarik kertas usang dan sebatang pena

Menggenggamnya erat, lalu menari bersamanya

 

Meneruskan barisan puisi yang tak mengenal titik

Menuliskan nada-nada lagu rindu, lagu tentang mimpi

Sesekali menghentakkan ujung pena, mencari ritme

Lalu melanjutkan goresan gambar sketsa hidupku.. juga matiku

 

010112

Aku sedang mengingat lagi masa kanakku. Saat aku mulai belajar tentang kehidupan. Saat imajinasiku yang polos melompat-lompat, bahkan terbang berputar-putar. Dan aku teringat gambar sketsa yang umumnya digambar oleh anak-anak, termasuk aku dulu, juga dirimu: sebuah gambar pemandangan dengan sepasang gunung, matahari bundar, awan-awan, beberapa pasang garis melengkung seperti sayap burung, sungai/jalan yang berkelok dari kaki gunung sampai ke garis tepi buku gambar, lalu ditambah beberapa petak sawah, pohon-pohon, dan rumah kecil. Tentu kau masih ingat bukan?

Gambar pemandangan itu sangat biasa. Sangat biasa. Bisa dikatakan, itu adalah  gambar standar anak-anak yang baru belajar memegang pensil dan crayonnya di atas kertas. Tapi tahukan kau, Rhasya? Ada nilai kehidupan yang digambarkan oleh imajinasi polos kita di masa itu. Aku pun baru menyadarinya.

Garis yang pertama kugores di atas kertas gambar adalah sebuah garis horizontal. Kita sekarang menyebutnya garis cakrawala. Ya.. yang pertama digores tak lain adalah sebuah garis lurus. Bayangkan, dengan tangan yang masih mungil dan kaku,betapa sulitnya membuat garis lurus seperti itu, walaupun menggunakan penggaris. Begitulah.. itulah usaha pertama kita sebagai manusia: mencoba selurus mungkin dalam kehidupan.

Lalu selanjutnya, yang digambar adalah sepasang gunung. Ada yang berbentuk setengah lingkaran. Ada yang segitiga. Aku dulu membuatnya  lebih bagus. Lebih mirip gunung: garis lengkung dengan sedikit aksen pada puncaknya, seperti kawah. Objek pertama yang kugambar adalah sepasang gunung; orang pertama yang kusayang adalah papa-mama. Ya.. gambar gunung itu adalah pengejawantahan dari orangtua. Kokoh. Damai. Tempat berbagai elemen hidup: cinta, pengorbanan, air mata, tanggung jawab, nafkah.

Lalu matahari bundar adalah bentuk pemahaman pada Tuhan yang mulai kukenal. Sumber cahaya. Menghangatkan. Tanpanya tak mungkin ada kehidupan. Lalu kugambar juga beberapa gumpalan awan sebagai cita-citaku yang terbang bebas di langit yang tinggi. Juga beberapa burung sebagai teladan orang-orang terdahulu yang kudengar dari Bu Guru dan Ustadzah.

Dimulai dari satu titik dari garis cakrawala yang pertama kugores tadi, kutarik dua garis yang sedikit berkelok dan terus melebar. Itulah sungai. Beberapa anak menggambarnya sebagai jalan raya. Begitulah perjalanan hidup. Dimulai dari satu titik, lalu  semakin melebar mengalir. Dan tentu dua garis itu harus berhenti di tepi  kertas. Karna memang perjalanan hidup di dunia akan terputus oleh kematian.

Gambar itu lalu kutambahkan dengan beberapa pohon,  juga kapal kecil di lengkungan garis pantai tak jauh dari beberapa petak sawah di dekatnya. Karena, kita perlu keteduhan. Perlu penghidupan. Perlu kerja keras.

Tentunya aku tak tau makna yang kugambar di masa kanak itu dulu. Ia hanyalah bentuk imajinasi polos masa kanak tentang makna kehidupan. Mereka menggambarkannya saja dengan dituntun oleh makna kehidupan yang sedang dipelajarinya. Dan sekarang aku baru memaknainya.

(more…)

Sebenarnya, episode terakhir bukanlah akhir yang sebenarnya..

Ia adalah potongan-potongan penting yang menentukan awal selanjutnya, atau bahkan awal yang baru..

Ia adalah jalinan rantai terakhir yang tersambung ke jalinan rantai baru.

Jalinan yang tak akan pernah habis.

Tentu, episode terakhir adalah episode yang paling ditunggu-tungggu dalam sebuah serial atau cerita lainnya. Dalam episode itu, akan ada rasa yang tercampur manis. Ada kepuasan tersendiri yang membuncah-buncah. Akan ada sebuah kesimpulan akhir di sana. Entah itu akhir bahagia, sedih, atau bahkan akhir yang gantung. Walaupun, ada rasa berat karena merasa akan berpisah dengan cerita yang telah kita ikuti dari episode awalnya. Semua penikmat karya film maupun sastra pasti mengakuinya.

Oh ya.. aku menulis ini setelah semalam menonton episode akhir dari sebuah serial (hhe..) dan tepat pada tanggal 1 Muharram. Sebuah tanggal yang ditetapkan Khalifah Umar ibn Khaththab sebagai awal tahun Hijriyah. Momen hijrah dijadikan awal perhitungan dalam perhitungan tahun umat Islam itu sejatinya  adalah sebuah episode terakhir. Episode terakhir dari fase perjuangan yang diwarnai oleh air mata dan darah penindasan sebagai umat minoritas yang lemah. Setelah episode panjang dakwah Rasulullah selama 13 tahun menegakkan aqidah di Mekkah, akhirnya dimulai episode Negara Islam yang kuat dan menyebar ke seluruh dunia.

Episode tentang hijrah tadi tampaknya cukup menjelaskan maksud yang kutulis seperti di atas tadi:

“Sebenarnya, episode terakhir bukanlah akhir yang sebenarnya..

Ia adalah potongan-potongan penting yang menentukan awal selanjutnya, atau bahkan awal yang baru..

Ia adalah jalinan rantai terakhir yang tersambung ke jalinan rantai baru.

Jalinan yang tak akan pernah habis.”

 

 Agar lebih jelas akan kuberi penjelasan sedikit lagi.

Episode terakhir, yang kita tunggu, memang dibuat sebagai episode pamungkas dalam setiap cerita. Tapi sejatinya itu bukanlah cerita terakhir yang akan kita tonton/baca. Akan ada lanjutan cerita di sekuel atau season selanjutnya. Kita tau, sinetron Tersanjung yang berkembang sampai Tersanjung 6, serta Cinta Fitri yang entah sudah sampe season berapa (korban sietron pasti tau. Hha..). Kita juga tau kisah Harry Potter dan Twilight yang sekuelnya selalu ditunggu-tunggu. Dan masih banyak contoh yang lainnya.

Kalaupun cerita itu tak punya sekuel/season, setidaknya akan lahir cerita-cerita sejenis atau cerita lain yang terinspirasi dari beberapa potong cerita yang telah berakhir sebelumnya. Seperti kisah Romeo & Juliet serta Laila Majnun, banyak cerita cinta yang berkembang dari cerita mereka. Cerita tentang cinta dua dunia seperti The Little Mermaid tampaknya juga menginspirasi cerita Twilight, Inuyasha, dan juga My Girlfriend is a Gumiho. Cerita gumiho dan Naruto pun punya bentuk inspirasi yang sama: The nine Tailed fox (orang korea menyebutnya  gumiho; orang jepang menyebutnya kyuubi). Kalau dikasih gambaran tentang film seperti ini, pasti semua lebih mudah memahami. (more…)

“Aakuuu bebaas!!!”, teriaknya. Lepaslah sudah ia dari belenggu yang mengekangnya dalam satu bulan penuh ini. Nyengir. Jingkrak-jingkrak. Walaupun ia risih dengan gema takbir yang membahana, tapi ia tetap merayakannya kebebasannya itu. Setidaknya, ada pesta kemilau dan ledakan percon yang juga tak kalah hebohnya dengan takbir.

“Allahuakbar…Allahuakbar…Allahuakbar… Laa ilaha illallahu Allahuakbar

Allahuakbar… Walillahilhamd. . .”

“psssiuuu…. duaarrr…!!! psssiuuu…. duaarrr…!!!”

Ia adalah setan. Entahlah, ia dari golongan jin atau manusia. Yang jelas, ia merasa terbelenggu selama bulan Ramadhan. Ia tersenyum puas. Walaupun terkekang selama satu bulan, tapi ia tidak melihat perubahan ke arah taqwa pada orang-orang itu. Mereka tetap kembali. Kembali mejadi pemuda yang menghamburkan uang, suka mabuk-mabukan, berjudi, durhaka. Kembali menjadi pejabat yang korup. Kembali menjadi wanita penggosip. Mereka benar-benar kembali pada dunianya.
(more…)

Jalannya kaku. Setapak demi setapak. Meraba-raba ubin dengan indra perasanya di telapak kaki. Ya.. begitulah caranya melihat. Lalu ia naik ke mimbar. Walau tatapannya kosong, aku bisa melihat keluasan pandangnya. Senyumnya tulus dilemparkan kepada kami, para jama’ah shubuh di Masjid besar ini.  Ada getar jiwa yang kuat dari sosok pria kecil itu.

Ustadz Juju, panggil saja ia seperti itu. Dari umur satu tahun, ia sudah tidak bisa membedakan siang dan malam, terang dan gelap. Tapi dari pria itu, aku belajar tentang kesyukuran. Sudut pandangnya tentang kesyukuran menyadarkan bahwa sungguh aku termasuk orang yang sedikit sekali bersyukur.

Untuk sedikit memahami sudut pandang syukur ini, coba perhatikan gambar di bawah. Apa yang anda lihat di sana?


Apa yang anda lihat di sana? Sekilas, dan sebagian besar orang akan mengatakan itu adalah sebuah titik hitam..

Coba pandangi sekali lagi. Apa yang anda lihat pada gambar di atas? Kali ini dengan sudut pandang lain. Apakah tetap sebagai sebuah titik hitam? Tapi maksudnya bukan dengan memiringkan sudut anda ke layar monitor ya.. (ini bukan hologram atau gambar 3 dimensi lho.. hhe)

Apakah masih dengan jawaban yang sama: sebuah titik hitam?
(more…)

Ketika sebuah komputer masih berukuran sangat besar dan menghabiskan tempat yang sangat besar di sebuah ruang yang cukup luas, Bill Gates bermimpi setiap rumah memiliki komputer. Tentu ia awalnya hanya dicap sebagai pengkhayal gila.

Ketika dua orang bocah miskin, Ikal dan Arai bersekolah di tempat yang tidak layak disebut sebagai sekolah, di tempat terpencil nan jauh dari keramaian kota, apalagi keramaian geliat sumber pendidikan, bahkan waktu belajar mereka pun tersita oleh kerja keras untuk makan, mereka berani bermimpi untuk menginjakkan kaki di sorbone dan berkeliling dunia. Tentu mereka hanya dikira sebagai bocah-bocah pemimpi yang aneh.

Ketika manusia hidup dalam kejahiliyahan yang mendarah daging. Saat ritual pagan dan penyembahan kolot pada patung-patung berhala menjadi rutinitas, wanita direndahkan serendah-rendahnya hingga bayi wanita yang dikubur hidup-hidup dianggap menyelamatkan martabat keluarga, serta peperangan saudara antar kabilah manjadi hal yang biasa. Muhammad, dihadirkan di sana, di sebuah dataran hijaz yang menjadi kubangan sejarah, bahkan Romawi maupun Persia pun tak tertarik untuk menjajah tanah itu. Sang Rasulullah bermimpi agar manusia hanya menyembah Rabb yang satu dan berakhlak mulia. Tentu beliau dianggap sebagai orang gila.

Tapi itulah kekuatan mimpi. Kekuatan yang mampu mengepakkan seluruh potensi, menancapkan akar keteguhan hati, menghadirkan setiap kemungkinan dan pertolongan yang mampu menerbangkan mimpi itu, serta menguatkan diri untuk terus berdoa dan percaya.
(more…)

Kemarin, tanggal 1 Mei atau biasa disebut sebagai May Day adalah hari yang kita kenal sebagai Hari Buruh Internasional. Pada tanggal tersebut para buruh seluruh dunia turun ke jalan. Menyuarakan aspirasi mereka. Menuntut hak-hak mereka.

Lalu hari ini, tanggal 2 Mei, kita memperingatinya sebagai Hari Pendidikan Nasional, yaitu tanggal lahir Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan kita di Indonesia.

Lalu, apa hubungan kedua hari tersebut? Saya mengambil benang merah dari keduanya dari keyword “pendidikan” dan “buruh”. Kata “pendidikan” tentu sangat erat kaitannya dengan “belajar”. Sedangkan “buruh” hampir mirip dengan “budak” . Buruh adalah istilah masa kini, dan budak adalah istilah masa lalu, bahkan budak tidak memiliki kemerdekaan dari tuannya seperti buruh (walaupun kemerdekaan itu sangat terbatas).

Jadi saya simpulkan, judul dari post kali ini “Belajar dari Seorang Budak dan Tuannya”.. (hehe.. maksa banget ya…)

Kemarin, saat buka twitter, saya membaca tweet menarik dari mas Salim.A.Fillah. Ada 21 tweet yang merangkai kisah ini. Kisah tentang seorang budak dan Tuan yang saling mempercayai. . . .

Ini setutur tentang  buruh <tepatnya; budak>, di zaman ketika para pekerja mau mencerdaskan diri & para majikan sudi mendengar suaranya. Dia Mubarak. Namanya nan berkah mengalir jadi doa untuk kebun anggur yang dia jaga. Panen berlimpah sejak bulan pertama tugasnya.

Maka di bulan ketiga, si majikan meninjau kebun itu. “Mubarak!”, panggil sang tuan, “Ambilkan untukku setangkai anggur terbaik!”

Bergegas Mubarak memilih di antara sulur-sulur anggur; dipetiknya setangkai yang buahnya tampak paling kokoh, liat, & mengkilat. Diserahkannya anggur pilihannya itu pada sang majikan. Mengernyit sejenak, si tuan mencicipi sebutir. Dan benar! Masam kuadrat!
(more…)

Aku adalah rahasia Ar-Rahman yang tersimpan di tempat yang terjaga
Aku adalah keniscayaan Ar-Rahim bagi setiap insan yang menghamba
Dan aku adalah hadiah terbaik bagi hamba-Nya yang baik.
Namun aku adalah pemberian kehinaan bagi hamba yang terhina

Beberapa baris goresan kata-kata di atas adalah ‘Favourite quotations’ yang termuat di sebuah profil Facebook, yaitu “Rahasia Ar-Rahman”. Ia (sekarang) adalah karakter fiktif, yang keberadaannya adalah keniscayaan.  Sesuai namanya, ia masih sebuah rahasia. Namanya masih tersimpan rapat di tempat yang terjaga.

tentang status ’Aas Hasbee’ (FB saya) engaged to Rahasia Ar-Rahman’ yang saya buat sekitar sebulan yang lalu, ada berbagai tanggapan dan pertanyaan, mulai melalui chatting, sampe lewat SMS. (saya cuma jadi geli sendiri). Padahal, jika info di profilnya dan note-nya dibaca dengan seksama, semua pasti akan mengerti sendiri kok. ^.^

Saya sengaja membuat sendiri  account ‘Rahasia Ar-Rahman’ ini dan menjadikannya ‘engaged’. Setidaknya, ia bertujuan hanyalah utk meyucikan niat, membasuh hati, menguatkan jiwa, dan meluruskan ikhtiar… Tak lain sebagai pembatas diri. Perisai diri. Juga dalam mengingatkan saudara-saudariku fillah.

Saya hanya prihatin dengan teman-teman yang menempuh jalan ‘pacaran’. Juga teman-teman yang mengaku ‘Say No to Pacaran’, tapi menggunakan media lain untuk mencari pasangannya (terutama handphone dan internet). “Yang penting tak ada kontak fisik. Secara syar’i”, katanya. Kontak fisik memang tak ada. Tapi, tahukah kalian, ada kontak dan getar hati di sana. Ada jiwa yang beresonansi di sana.

Dikhawatirkan, cinta itu tumbuh di hati yang belum benar-benar siap. Siap untuk memberi.. menumbuhkan.. merawat..dan menjaganya. Dikhawatirkan, ia hanya akan menjadi benalu perusak tunas cinta pada Allah yang masih rapuh.. juga bibit cinta Rasulullah yang sedang berkecambah.

Padahal, siapapun itu, namanya pasangan hidup kita sudah tertulis di Lauh Mahfuzh, sebagai rahasia Ar-Rahman. Yang membedakannya adalah cara kita menjemputnya. Yang membedakannya adalah cara Allah memberikannya pada kita. Apakah Allah memberikannya dengan lemah lembut dan penuh kemulian. Ataukah dilempar ke wajah kita penuh murka dari-Nya, “Nih ambil! Memang dia buatmu kok!!!”. Na’udzubillah…

Ya.. yang membedakannya adalah berkah atau tidaknya. Yang membedakannya adalah diridhoi Allah atau tidak.
(more…)

“Tanggal 14 Februari adalah sebuah hari duka untuk cinta. Warna pink sungguh tak tepat sebagai tema yang dipakai pada hari itu. Hanya hitam yang pantas. Karna hari itu lebih tepat dikenang sebagai hari berkabung atas kematian St. Valentine.”

Pemuda itu memulai penjelasannya dengan hati-hati. Tapi penuh antusias. Entah pesona apa yang dipancarkannya, sehingga hari ini menerima segunung coklat dengan beraneka bentuk dan ukuran. Tentu dengan kotak dan bungkus berwarna pink. Ia hanya seorang mahasiswa PPL berjaket kuning, almamater yang hanya dipakainya saat aksi turun ke jalan atau dipakai saat berperan sebagai guru PPL di SMA ini.

“Besok, tanggal 15 Februari, atau 12 Rabiul Awal, adalah sebuah hari yang lebih tepat untuk kita hayati. Warna pink ataupun putih pun tak sebanding sebagai tema kelahiran baginda Rasulullah Muhammad SAW. Karna ada jutaan warna berpendar di sana. Ada jutaan makna darinya. Bertepatan dengan kelahiran beliau, runtuhlah sepuluh balkon istana Kisra, padamlah api yang biasa disembah Majusi, dan runtuhnya gereja di sekitar Buhairah setelah gereja-gereja itu ambles ke tanah.”

Para siswi hanya manggut-manggut. Takzim. Entah karena terpesona akan penjelasan guru muda itu, atau terpesona akan sang guru muda itu sendiri. Ia hanya pemuda yang penampilannya sederhana. Sesekali jarinya memperbaiki letak kacamatanya. Rambutnya hanya disisir seadanya, dengan secuil minyak rambut, walaupun ia tak pernah pake shampoo. Dan postur tubunya bisa dibilang ’tidak tinggi’. Tapi tampak keramahan dan kebijakan dalam senyum lebar dua centinya. Tampak sorot keteduhan dari kedua matanya. Tegas suaranya, tapi lembut masuk ke hati. Tertawanya pun sangat khas. Mungkin itu yang membuat para seantero siswi SMA itu kesemsem padanya.

Kebetulan hari ini ia menyampaikan sambutan mewakili teman-teman guru PPL yang turut berperan sebagai Pembina salah satu rangkaian acara OSIS. Belumlah ia sempat bicara, para fans-nya sudah menghambur memberikannya kado coklat berbungkus pink. Mungkin ada ratusan. Awalnya ia bingung. Tapi ini adalah kesempatan untuk menjelaskan tentang Valentine. Juga Rasulullah. Intro tadi cukup berhasil. Mereka – terutama para siswi – tersihir oleh kata-katanya.

“Starting point berhasil”, gumamnya dalam hati, “Akan kulanjutkan dengan sejarah Valentine dengan versi yang mudah mereka cerna. Maklum, ada banyak versi tentang mitos ataupun sejarah tentang hari yang disebut ‘Hari Kasih Sayang’ ini.

“Pada abad ke-3 Masehi, disebuah Negara adidaya Romawi, kaisar yang berkuasa saat itu, Claudius II mengeluarkan dekrit yang melarang pernikahan. Ia memerlukan banyak tentara. Sedangkan ia menganggap pria yang sudah menikah tentu akan berat meninggalkan kekasih sekaligus istri mereka untuk berangkat ke medan juang.

Itu membuat gundah seorang pemuda. Ia bernama Lucas. Hatinya telah takluk pada seorang wanita. Ia jatuh cinta. Entahlah.. cinta itu datang begitu saja. Ia mencintai mata indah wanita itu. Hidung mancungnya. Bibir merahnya. Lesung pipinya. Dan kulit putih bersihnya. Ia menyebutnya sebagai ‘falling in the love in the first sight’. Mungkin lebih tepatnya disebut nafsu mata kali ya..

Dan ternyata cinta tak bertepuk sebelah tangan. Sang wanita – yang bernama Anne – juga jatuh cinta pada Lucas. Cinta itu merasuk ke dalam jiwanya. Ia mencintai tubuh gagah Lucas. Harta warisan orangtuanya. Baju mewahnya. Dan kuda perkasa yang selalu ditungganginya. Ia menyebutnya ‘endless love’. Mungkin lebih tepatnya disebut nafsu dunia kali ya..

Di belahan bumi yang lain. Di dimensi waktu yang berbeda. Seorang pemuda menyimpan rasa cintanya dalam hati. Hanya Allah dan dirinya lah yang tau kedalaman cintanya. Ia mencintai Fathimah. Putri Rasulullah SAW. Ketika Muhammad dilempari dengan batu dan kotoran oleh para musyrik Mekkah, Fathimah menangis melihat penderitaan ayahnya itu, sembari membersihkan luka dan kotoran di tubuh sang ayah. Lalu Fathimah kecil, tanpa takut berkata lantang sembari menunjuk ke arah hidung para pemuka Mekkah itu, “Wahai pemuka Quraisy! Siapa yang telah berani mengganggu bapakku!” Lantang. Menantang. Tapi tak seorang pun yang berani menghadapi gadis kecil itu. Tapi ada seorang pemuda yang hatinya bergetar saat itu. Mulai saat itu, cintanya pada Fathimah mulai bertunas. Pemuda itu adalah ‘Ali.
(more…)

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 67 other followers