Hujan tumpah ruah dari langit sore kota ini. Airnya turun tak terkira. Jalanan basah. Pohon-pohon basah. Bahkan kios tampal ban kecil ini juga basah, tak mampu lagi melindungi orang-orang yang berteduh di bawahnya.

Aku jadi teringat pengalaman yang selalu kurasakan ketika hujan dan kutuliskan dalam sebuah narasi sederhana di blog-ku beberapa waktu lalu, Ketika Hujan Bercerita: ”Ketika hujan turun, selalu begitu. Gemericiknya, gemuruhnya, seolah membisikkan cerita padaku. Rinainya, tetes-tetes  beningnya yang berjatuhan dari langit, seolah memproyeksikan imaji cerita tersebut. Cerita tentang kenangan. Cerita tentang harapan. Cerita tentang cerita lainnya.”

Tapi kali ini sedikit berbeda. Hujan membisikiku untuk lebih menikmati keberadaannya lebih dalam. Bukan sekedar cerita dari gemericik dan gemuruhnya. Bukan sekedar pemandangan menakjubkan akan tetes beningnya yang berkah turun dari langit. Lebih dari itu. Ia mengajakku untuk terjun memanjakan semua indra.

Okelah.. aku turuti ajakannya. Sudah terlanjur kehujanan. Berteduh di sini pun akan tetap basah. Kusimpan handphone dan dompet ke dalam tas yang sudah aman dengan raincover. Lalu rapikan jaket. Dan, whusssh… kupacu motor bersama hujan yang semakin menderas.

Benar memang.. Sensasinya beda. I do like it.

Hujan langsung membasahiku secara total. Entah mengapa aku melupakan rasa dingin. Yang ada hanyalah rasa membuncah yang tak terkira. Lebih menyenangkan dibanding  saat aku dulu mandi hujan di bawah pancuran air saat masih berseragam putih-merah dulu. Lebih mengasyikkan dibanding saat aku memacu sepeda menembus hujan seperti saat masih berseragam putih-biru dulu. Berteriak riang, sambil berlomba untuk memuncratkan becek pada sepeda lain di belakang. Lebih seru dibandingkan saat aku berjalan dengan seragam putih-abu-abu yang basah kuyup sembari menengadah menikmati titik-titik hujan menyentuh wajahku. Dan lebih hangat dibanding saat kami berjalan bersama, juga sambil bercerita dan menikmati hujan…  atau saat aku bersepeda mengiringimu berjalan sambil bercerita dan menikmati hujan membasahi seragam kita.. (more…)

image

Ketika hujan turun, selalu begitu. Gemericiknya, gemuruhnya, seolah membisikkan cerita padaku. Rinainya, tetes-tetes beningnya yang berjatuhan dari langit, seolah memproyeksikan imaji cerita tersebut. Cerita tentang kenangan. Cerita tentang harapan. Cerita tentang cerita lainnya.

Pernah hujan bercerita padaku tentang kita yang basah kuyup sepulang sekolah. Aku di atas sepeda. Kau berjalan kaki. Tapi sepedaku seirama dengan langkah kakimu. Entahlah, tak terpikir untuk berteduh waktu itu. Kita menikmati guyuran hujan. Semua anak-anak juga menikmatinya. Sesekali menengadahkan tangan mencoba menggenggam hujan, sesekali mengulurkan lidah mencoba menikmati dinginnya hujan masuk ke korongkongan. Tak peduli seragam basah. Tak peduli sepatu sekolah basah. Biarlah.. toh, besok libur sekolah. Kupikir teman-teman juga berpikir yang sama.

Ceritanya memang hanya sebatas itu. Tapi siklus hujan tak berhenti. Saat seragam dan sepatu kita dijemur, titik-titik air yang ada di sana diangkat matahari bersama cerita di dalamnya. Lalu mereka bertemu dengan cerita-cerita lainnya di awan. Ketika hujan, saat aku mendengar gemericik atau gemuruhnya, juga saat aku melihat tetes-tetes dalam rinai ataupun derasnya, saat itu lah hujan menceritakan cerita itu padaku. Cerita tentang kenangan. Cerita tentang harapan. Cerita tentang cerita lainnya.

(more…)