Ketika diminta untuk mengisi materi tentang SWOT, aku langsung terpikir untuk mencari dan membuka kembali binder-binder di rak buku. Catatan tentang materi itu pernah kutulis di sana semasa SMA dulu. Binder-binder itu sudah lama tak kubuka. Tampak lusuh sejak bertahun-tahun tersimpan di pojok kamar. Memang hanya ada dua binder yang kupunya, tapi ada ratusan makna dan ilmu tersimpan di sana (hhe.. lebay).

Memang binder tak mempunyai kapasitas yang dapat disamakan dengan ratusan giga harddisc. Sangat jauh. Tapi memang media favorit di waktu itu tak  dan tak bukan: binder

Di dalamnya ada catatan sekolah maupun awal kuliah, les, pelatihan (dauroh) yang kuikuti semasa SMA, termasuk catatan ngaji. Ada juga beberapa puisi (buatan sendiri dan kawan sekelas), lirik lagu nasyid, bahkan lagu ciptaan kawan sendiri. Ada juga sketsa-sketsa gambar yang kubuat sendiri. Buatan kawan juga ada (walaupun – menurutku – tidak sebagus gambar buatanku ^.^ ). Di dalamnya juga aku menempelkan  artikel menarik dan sebagian klipping kartun buatanku yang dulu selalu terbit dimuat di koran. Maklumlah, aku salah satu crew wartawan pelajar di Visi – sekarang namanya Ekspresi – Sumatera Ekspress, salah satu koran terkemuka di daerahku. (more…)

Kepada langit malam di awal tahun…

 

Maaf.. aku tak ikut serta menyapamu

Bersama orang-orang yang membakar sumbu penyulut api

Yang melesat menyentak lalu mewarnai  angkasamu

Menemani indahnya gemerlap bebintang dan sinar bulan

 

Maaf.. aku tak ikut mengelu-elukanmu

Bersama orang yang saling berpegang tangan dan menari bersama

Sembari menyaksikan dentum dan lengkingan irama konser khusus untukmu

Sembari meniupkan terompet penghormatan yang riuh menyambutmu

 

Aku lebih memilih di sini

Mencoba membakar setiap sumbu-sumbu dosa dan khilaf

Berharap semua melesat memenuhi angkasamu

Membiarkan mereka meledak lalu berpijar gemerlap

Lalu seketika itu juga gugur ditiup angin dan ditelan awan

 

Aku lebih memilih di sini

Bersama secarik kertas usang dan sebatang pena

Menggenggamnya erat, lalu menari bersamanya

 

Meneruskan barisan puisi yang tak mengenal titik

Menuliskan nada-nada lagu rindu, lagu tentang mimpi

Sesekali menghentakkan ujung pena, mencari ritme

Lalu melanjutkan goresan gambar sketsa hidupku.. juga matiku

 

010112

Aku sedang mengingat lagi masa kanakku. Saat aku mulai belajar tentang kehidupan. Saat imajinasiku yang polos melompat-lompat, bahkan terbang berputar-putar. Dan aku teringat gambar sketsa yang umumnya digambar oleh anak-anak, termasuk aku dulu, juga dirimu: sebuah gambar pemandangan dengan sepasang gunung, matahari bundar, awan-awan, beberapa pasang garis melengkung seperti sayap burung, sungai/jalan yang berkelok dari kaki gunung sampai ke garis tepi buku gambar, lalu ditambah beberapa petak sawah, pohon-pohon, dan rumah kecil. Tentu kau masih ingat bukan?

Gambar pemandangan itu sangat biasa. Sangat biasa. Bisa dikatakan, itu adalah  gambar standar anak-anak yang baru belajar memegang pensil dan crayonnya di atas kertas. Tapi tahukan kau, Rhasya? Ada nilai kehidupan yang digambarkan oleh imajinasi polos kita di masa itu. Aku pun baru menyadarinya.

Garis yang pertama kugores di atas kertas gambar adalah sebuah garis horizontal. Kita sekarang menyebutnya garis cakrawala. Ya.. yang pertama digores tak lain adalah sebuah garis lurus. Bayangkan, dengan tangan yang masih mungil dan kaku,betapa sulitnya membuat garis lurus seperti itu, walaupun menggunakan penggaris. Begitulah.. itulah usaha pertama kita sebagai manusia: mencoba selurus mungkin dalam kehidupan.

Lalu selanjutnya, yang digambar adalah sepasang gunung. Ada yang berbentuk setengah lingkaran. Ada yang segitiga. Aku dulu membuatnya  lebih bagus. Lebih mirip gunung: garis lengkung dengan sedikit aksen pada puncaknya, seperti kawah. Objek pertama yang kugambar adalah sepasang gunung; orang pertama yang kusayang adalah papa-mama. Ya.. gambar gunung itu adalah pengejawantahan dari orangtua. Kokoh. Damai. Tempat berbagai elemen hidup: cinta, pengorbanan, air mata, tanggung jawab, nafkah.

Lalu matahari bundar adalah bentuk pemahaman pada Tuhan yang mulai kukenal. Sumber cahaya. Menghangatkan. Tanpanya tak mungkin ada kehidupan. Lalu kugambar juga beberapa gumpalan awan sebagai cita-citaku yang terbang bebas di langit yang tinggi. Juga beberapa burung sebagai teladan orang-orang terdahulu yang kudengar dari Bu Guru dan Ustadzah.

Dimulai dari satu titik dari garis cakrawala yang pertama kugores tadi, kutarik dua garis yang sedikit berkelok dan terus melebar. Itulah sungai. Beberapa anak menggambarnya sebagai jalan raya. Begitulah perjalanan hidup. Dimulai dari satu titik, lalu  semakin melebar mengalir. Dan tentu dua garis itu harus berhenti di tepi  kertas. Karna memang perjalanan hidup di dunia akan terputus oleh kematian.

Gambar itu lalu kutambahkan dengan beberapa pohon,  juga kapal kecil di lengkungan garis pantai tak jauh dari beberapa petak sawah di dekatnya. Karena, kita perlu keteduhan. Perlu penghidupan. Perlu kerja keras.

Tentunya aku tak tau makna yang kugambar di masa kanak itu dulu. Ia hanyalah bentuk imajinasi polos masa kanak tentang makna kehidupan. Mereka menggambarkannya saja dengan dituntun oleh makna kehidupan yang sedang dipelajarinya. Dan sekarang aku baru memaknainya.

(more…)

Inilah kebiaasan baik sekaligus kebiasaan burukku.. menggambar di berbagai kesempatan: saat kuliah, denger materi, atau segala sesuatu yang bikin bosan dan ngantuk.

Tapi sayangnya semua hasil sketsa itu berserakan entah ke mana. Ada yang terbuang. Ada yang terselip di antara buku-buku. Ada yang langsung dicomot teman. Ada yang memang tak bisa terdeteksi karna memang digambar di berbagai media yang kebetulan ada (kertas buram, buku pelajaran, blognote, sampe fotocopy-an).

Sketsa ‘cavalry Knight’ ini ditemukan di antara tumpukan kertas di lemari kecil kamarku.

Coba tebak di kertas apa gambar ini digambar! …. Di balik kertas DPT (Daftar Pemilih Tetap) Pilpres tahun kemarin..

Ya… Setidaknya sebagai saksi salah satu kandidat, saya sudah berusaha mengalihkan kebosanan dengan menggambar. (^.^)

Ini adalah kebiasaan baik bagi para mahasiswa arsitek, arsitek, desainer, atau para pembelajar visual. Tapi tampaknya kebiasaan buruk bagi bidang lain.

Teruslah menggambar!
Teruslah menulis!!