sebuah momen


image

Kaysa Syakira Haya.

Saya menulis ini sambil sesekali melirik dan menatap wajah imutnya. Mata yang bulat berbinar tertutup kelopak yang dihiasi bulu mata lentiknya. Tampaknya ia cukup pulas. Sesekali terbangun sebentar, terkejut hanya oleh kebisingan kecil. Bahkan dering handphone ini saya matikan demi kepulasannya itu. Selain karena kenyang setelah mimik, tampaknya ia cukup lelah setelah sibuk selfie dengan ayahnya tadi. (*salah satu fotonya dipajang di atas.. hhe)

Sudah 3 bulan usia kaysa sekarang. Sudah 3 bulan juga saya menjadi ayah.

(more…)

image

6 September..

Sudah satu tahun ya sayang.. Satu tahun memang terasa singkat, namun setiap momennya sangat hangat. Walaupun ada segelintir saat-saat yang berat.

Saat perjanjian yang kokoh itu diikrarkan, saat itu aku meyakini bibit cinta itu mulai tertanam. Ketika pertama kali kusentuh tanganmu, setitik bibit itu mulai tersentuh.

Makin hari makin terpupuk, akarnya menghujam, tunasnya menyeruak. Batangnya perlahan bertambah tinggi dan kokoh. Dahan dan rantingnya terus tumbuh bercabang, dengan dedaunnya yang meneduhkan.

Aku teringat bisikanmu waktu itu:

“Hari ini aku mencintaimu lebih besar daripada kemarin. Meskipun cintaku hari tidak sebesar cintaku esok hari..”

Memang bisikan dahsyat itu kau akui terbaca di layar sosial media. Tapi aku tahu, itulah yang sebenarnya kau rasakan. Dan aku sadar, itulah yang kita rasakan.

Baru setahun, sedangkan bibit cinta itu sudah tumbuh menaungi kita. Dan semoga akan semakin tumbuh besar tiap harinya. Tumbuh besar tak terbayangkan.
_________

cover buku

Sudah lebih sebulan saya merasakan sebuah fase baru dalam hidup. Merasakan sempurnanya separuh agama. Selama ini, apa yang pernah saya tulis tentang cinta, yang semula hanya cita dan imajinasi, pada akhirnya berbentuk sebagai laku nyata.

Beberapa bulan sebelum pernikahan kami, tulisan-tulisan yang pernah saya tulis di blog saya kumpulkan beserta beberapa tulisan dari sang calon (sekarang sudah menjadi istri, ^_^) untuk menjadi sebuah buku. Setelah melalui penyaringan dan banyak editing – baik desain maupun konten tulisan – kumpulan tulisan itu pada akhirnya dicetak juga. Dengan dibalut dengan cover tambahan berupa undangan, jadilah sebuah undangan dengan buku kami di dalamnya, Judul buku itu adalah “Rahasia Ar-Rahman”. 

Karna jumlah cetaknya  sangat terbatas, hanya 600 eksemplar, maka tidak semua orang bisa membaca dan memiliki buku ini. karena banyaknya permintaan, namun keterbasan biaya cetak (hhe), maka e-book adalah solusi yang cukup bijak untuk kawan-kawan yang belum berkesempatan membacanya.

Silahkan di-download di sini: Rahasia Arrahman_ebook

Buku ini berisi beberapa tulisan dangan tema berbeda dan waktu penulisan yang acak, dibagi menjadi beberapa bagian: Prolog, Looking for You, The Rain, Jalan Kita, Make a Wish, dan ditutup dengan Epilog. “Prolog” berisi tentang mimpi kami membangun rumah tangga dan sedikit cerita saya sebagai arsitek yang baru lulus kuliah, serta cerita perjuangannya untuk menjadi dokter. “Looking for You” berisi tentang harapan akan jodoh. “The Rain” adalah bab khusus tentang hujan, “Jalan Kita” sedikit membahas tentang jalan dakwah. Dan “Make a Wish” tentang usaha berupa doa. Buku ini ditutup dengan “Epilog”. Jika tulisan di bab lainnya adalah tulisan kami masing-masing dengan kisah masing-masing, di penutup ini, kami hadirkan tulisan kami bersama tentang kisah kami bersama.

Kami hanya berharap buku ini bermanfaat. Selamat membaca 🙂

image

Kawan, aku sedang merancang sebuah rumah. Memang, sepertinya ini hanya sebuah proyek kecil. Tapi bagiku, ini adalah proyek terbesar dalam hidup.

Selagi masih kuliah dulu, aku mulai membayangkan konsep desainnya. Rumah yang kokoh. Nyaman. Indah dipandang. Di sana keceriaan dan masalah bertoleransi di dalam ruang pengertian. Di sana kerinduan dan perjumpaan berpadu dalam ruang kasih sayang. 

Rumah itu, walaupun dibanjiri nikmat dan harta takakan membuat pada Allah penghuninya lupa. Walaupun dibadai prahara dan fitnah takkan membuat iman penghuninya lemah. 

Sangat ideal bukan?

(more…)

image

Seragamnya loreng-loreng. Gagah. Tertulis jelas bordiran di dadanya: TNI-AD. Dari wajah dan tubuhnya, benar-benar dia sudah sangat matang dari segi usia dan pengalaman lapangan.

Setelah perhitungan suara di tingkat Kecamatan tadi, dia duduk santai bersama seorang dari Kelurahan, Bawaslu, dan seorang kepala preman di daerah ini. Ngobrol ringan sepertinya. Saya pun diajaknya bergabung di majelis ‘ngobrol ringan’ itu.

Awalnya, seperti yang saya prediksi, hanya orolan ringan. Seputar serba-serbi piala dunia dan politik.

Lalu obrolan tidak lagi disebut ringan ketika masuk ke konflik Gaza. Obrolan semakin berbobot ketika dia menanyakan satu per satu ke kami, “Agama kamu Islam kan?”

Satu-satu ditanya. Dan satu-satu mengangguk. “Iya”.

Lalu dia melanjutkan, “Dalam Islam, tidak ada yang namanya doa penghapus dosa!”.

Saya sedikit bengong. (more…)

image

Sore tadi langit mendung menghitam. Awan berarak berkumpul dalam satu tujuan: hujan

Begitu juga hati kami. Mendung berisi duka. Peduli. Cinta. Juga geram. Berarak ratusan massa berkumpul dalam satu tujuan: solidaritas.

Tak lama, mendung berubah menjadi rinai. Rinai berlanjut gerimis.

Tak lama, aksi dimulai. Bendera-bendera berkibar. Spanduk telah terbentang. Lalu Tilawatul Quran. Saat itu langit mengirim rinai. Begitu juga hati kami, mulai rinai.

Kotak-kotak penggalangan dana menyebar ke beberapa titik jalanan. Orasi-orasi mewarnai. Membakar semangat. Menggetarkan nurani. Saat itu langit menjadi gerimis. Begitu juga hati kami, gerimis. (more…)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sudah 25 tahun ya..
Sudah seperempat abad…

Jika umur ini adalah sebuah perahu yang kita tumpangi, maka ketika kutolehkan pandangan ke belakang, ternyata perahu ini hanya seperti bergerak sejauh 25 inci saja. Hanya bergeser sedikit saja dari dermaga yang kusebut “kelahiran”.

Saat kucoba mencelupkan wajah, aku sadar. 25 inci tadi begitu dalam. Tak terlihat dasarnya. Namun pekat oleh kotoran. Hitam memenuhinya hingga ke dasarnya yang tak terhitung. Tak terhitung ikan-ikan yang terluka bahkan sekarat di sana. Salah satu ikan yang sekarat itu, dengan sisa-sisa tenaganya, menghardik keras, “ini semua adalah dosa-dosamu!!”

Aku tersentak. Tersedak air yang asin bercampur pahit itu.

“Tuk..tuk..tuk”, tiba-tiba pinggiran perahu dipatuk angsa. Ada sepasang angsa berenang mengiringiku. Salah satunya berkata, “Walaupun dosa sedalam lautan, ingatlah, ampunan-Nya melebihi luasnya langit dan bumi”. Lalu dengan anggunnya ia terbang. Angsa yang satunya lagi menambahkan, “Lanjutkan saja pelayaranmu. di depan, samudera tak bertepi harus kau lalui. Bahkan bukan tak mungkin dirimu terbang mengangkasa menggapai semua mimpi-mimpi.” Lalu ia pun terbang tak kalah anggunnya.

Aku tersentak. Lalu tersadar.

Benar juga. Jika umur adalah sebuah perahu. Maka ia harus melaju. Bahkan bukan tak mungkin untuk mengangkasa.

Ternyata baru 25 tahun ya….
Baru seperempat abad. . . .

Next Page »