Siang yang begitu terik itu menjadi luluh.. Syahdu. Walaupun riuh kendaraan berlalu lalang tanpa henti, orang-orang hilir mudik dengan kesibukannya masing-masing, dan para petugas berseragam polisi bersiaga, semuanya tak berpengaruh pada syahdunya suasana ini. Suasana kecintaan yang kental. Suasana kepedihan yang dalam. Suasana keterikatan yang erat. Semua rasa itu tertuju pada saudara kami nan jauh di sana, di bumi perjuangan Palestina.

Para mahasiswa dengan berbagai almamater, dengan mengusung panji-panji perjuangan, membentuk shaf-shaf yang rapat. Setelah tiga setengah kilometer massa itu berjalan dalam barisan, diiringi orasi-orasi bergelora, sambil membagikan lembar pemikiran agar masyarakat juga memahami dan peduli terhadap penderitaan muslim Palestina dan kebiadaban yahudi Israel, akhrinya kami mencapai titik pemberhetian aksi massa ini.

Di sini kami berdiri, di bundaran air mancur, tepat di depan gerbang Masjid Agung Palembang Darussalam yang gagah menjulang. Orasi berhenti. Shaf-shaf semakin dirapatkan. Kemudian komando diambil alih oleh imam di depan. Shalat ghaib untuk lebih dari 390 syuhada* di palestina pun dimulai. Begitu syahdu. Sambil diiringi tilawah Qur’an masjid agung yang menggema sembari menunggu waktu shalat zuhur tiba.
(more…)

Sungguh biadab bangsa zionis itu. Mereka mewarnai pergantian tahun baru mereka bukan dengan meluncurkan kembang api, tapi dengan meluncurkan roket dan rudal ke jalur Gaza. Mereka tidak menikmati percik api di langit, tapi kobaran api di permukiman penduduk.
Mereka lebih senang mendengar dentuman ledakan dan desingan peluru ketimbang tiupan terompet.
Sepertinya telinga mereka lebih memilih jerit tangis wanita dan anak-anak dibanding konser musik yang memuakkan. Bahkan mereka berpesta pora dengan daging manusia yang terbakar dan darah yang bercecer tertumpah.

Sungguh aneh bangsa ini. Mereka lebih memilih merayakan pergantian tahun umat lain. Mereka mewarnainya dengan pesta kembang api, konser musik, tiupan terompet, makan sate maupun jagung bakar semalaman suntuk. Begadang. Besoknya, mereka terpejam tanpa tenaga di kasur masing-masing. Tanpa manfaat. Hanya kesia-sian belaka.
Semoga mata mereka terbuka lebar-lebar.

1 Januari 2009