image

“Ya Allah, jika apa yang ada pada diri saya sekarang membuat saya lalai padaMu, ambil saja ya Allah!”

Sama seperti dulu. Selalu. Wajah dengan senyum khas. Tatapan tajam tapi meneduhkan. Dan selalu, inspirasi yang menghujam dari lisannya.

Doa itu beliau panjatkan di salah satu malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Setelah puas tilawah berjuz-juz. Setelah qiyamulail di sepertiga malam terakhir. Bayangkan, betapa kuatnya tenaga doa itu menembus langit.

(more…)

Advertisements

use-breakdown

Hari ini media dipenuhi tentang aksi mogok dokter sebagai solidaritas terhadap rekan seprofesi mereka..

Lalu terlintas juga aksi mogok kerja para buruh maupun karyawan yang tak terhitung di berbagai titik di dunia..

Juga tak terhitung aksi mogok makan dari orang-orang yang jengah akan keadilan.

_____________

Bukan.. Saya tak akan mengkritisi aksi-aksi mogok itu. Tak akan juga menghakimi yang mana yang benar dan yang mana yang salah.

Adalah sangat manusiawi ketika manusia menggugat sistem yang juga dibuat manusia lainnya bukan? Sistem yang rapuh.. Dibuat dan dijalankan oleh manusia yang rapuh.

Saya hanya berpikir : “Bagaimanakah ketika manusia mogok beribadah pada Tuhannya?” Maka itu adalah kiamat bagi eksistensi iman dalam dirinya.

Lalu terlintas pertanyaan: “Bagaimanakah ketika seluruh manusia di bumi mogok ibadah global?” Maka saat itu bumi berhenti berputar. Matahari digulung, manusia ternganga menyaksikannya terbit dari barat. Bintang-bintang jatuh berserakan. Gunung-gunung dihancurkan, seperti bulu yang dihamburkan. Manusia kalang-kabut, seperti anai-anai bertebaran.

Maka itu adalah akhir dari eksistensi dunia. Hanya manusia yang telah kiamat eksistensi imannya yang akan ‘menikmati’ kengerian hari itu.

Maka tanyakanlah pada diri kita. “Masih eksis kah iman ini?”