Tidak seperti game  Assassain’s Creed yang kental akan latar sejarah – perang salib ke-3 pada tahun 1191 (silahkan baca posting saya sebelumnya: Legenda Assassin di Balik Perang Salib) – sekuel selanjutnya, yaitu Assassin’s Creed II dan Assassin’s Creed Brotherhood serta Revelations – lebih berfokus pada figur tokoh utamanya. Walaupun juga berlatar sejarah, yaitu Italia zaman Renaissance, unsur sejarahnya lebih redup dibanding unsur figuritas seorang Ezio Audiore, sang tokoh utama dalam game ini.

Saya menyebut game ini sebagai sebuah novel virtual dengan sudut pandang orang ketiga pro-aktif (halah… istilah ngasal ^.^  – maklum, tokoh utamanya dimainkan oleh gamer.. hhe). Bayangkan saja, novel virtual ini dimulai dari kelahiran Ezio. Lalu cerita bergulir tentang keluarganya. Lalu konspirasi penangkapan ayah dan kedua saudaranya untuk dihukum mati karna dianggap berkhianat. Untung saja, saat penangkapan itu, Ezio sedang tidak di rumah, sehingga ia dapat lolos. Dimulai dari sini, dengan bimbingan dari pamannya, ia belajar untuk menjadi seorang Assassin, seperti ayahnya. Ceritanya berputar tentang pembalasan dendamnya yang juga mengungkapkan konspirasi dalam politik Italia.

Yang membuat novel virtual berlatar sejarah ini lebih hidup, selain suasana kota zaman Renaissance dengan grafis memukau, juga tak lepas karena adanya tokoh-tokoh sejarah di sekitar Ezio, di antaranya:

  • Rodrigo Borgia, atau lebih dikenal sebagai Paus Alexander VI. Karena berbagai konspirasi dan korup ia adalah musuh utama Ezio.
  • Cesare Borgia. Anak dari Rodrigo Borgia. Keras dan ambisius. Dalam Assassin’s Creed Brotherhood, ia yang menjadi musuh utama. Bahkan ayahnya pun mati di tangannya.
  • Leonardo Da Vinci. Semua orang kenal dengan nama ini. Seorang jenius dalam berbagai bidang. Ia yang membantu Ezio memecahkan kode-kode dan merancang senjata untuk Ezio.
  • Niccolo Machiaveli
  • dan masih banyak lagi.. (more…)
Advertisements

Assassin, sebuah kata yang mungkin tak asing lagi bagi kita. Para gamer tentunya tahu akan karakter dan kisahnya. Selain itu, kata-kata assassin sudah sering terdengar di media internet, televisi, ataupun majalah. Assassin adalah salah satu legenda yang kurang tercium masyarakat dunia di tengah berkecamuknya Perang Salib.

Saya menemukan beberapa literatur tentang ‘ninja’ timur tengah ini dari buku yang membahas Perang Salib, beberapa webpage, dan juga game Assassin’s Creed. Dari buku dan internet tentunya saya dapatkan informasi mengenai fakta dan berbagai asumsi tentang Assassin. Sedangkan dari game, saya mendapatkan literatur imajinasi visual yang kurang lebih dapat dipercaya, karena game ini didesain dan dikembangkan oleh tim multikultural dan agama. Ada beberapa benang merah antara literatur yang saya temukan dan alur dalam game ini.

Assassin sebenarnya adalah lafaz dan istilah dari barat yang bersumber dari kata Hasyasyin. Hasyasyin adalah kelompok pembunuh rahasia yang terkoordinir dan terlatih dengan baik. Sebelum terjadinya Perang Salib, Hasyasyin dibentuk oleh Hassan Ibn Shabah yang tersingkir dalam suksesi di Mesir pada tahun 1090. Kemudian ia menggalang kekuatan Syi’ah di Syiria untuk membunuh para tokoh dan pimpinan Muslim Sunni (Ahlus Sunah wal Jamaah). Syi’ah sendiri adalah paham yang telah melenceng dari ajaran yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW. Hassan juga membuat benteng Masyaf yang kuat di Alamut, sebelah selatan laut Kaspia dan utara Iran. Posisi benteng yang strategis ini mempermudah para hasyasyin melakukan penyusupan dan aksi pembunuhan mereka.
(more…)