hanya puisi


Seperti hujan malam ini yang berlimpah ruah
Seperti itu juga limpahan nikmat-Mu yang berberkah
Hingga aku harus berteduh karenanya.

Mungkin seperti ini lah caraku menikmati hujan,
menikmati nikmat-Mu
Memperhatikan setiap bulirnya terjun menghujan
Sesekali mengadahkan tangan merasakan sejuk beberapa tetesnya saja
Sembari menyedekapkan tangan di dada, mengeratkan hangat.

Ketika tinggal rinai,
Barulah ku lanjutkan perjalanan

Ketika menderas lagi,
Berteduh lagi..

Cukup seperti itu…
Karena aku tau kadar ketahananku

Tak mampu jika semua bulir itu kuminum
Tak mampu juga kusimpan dalam bejana raksasa lalu kubawa
Tak mampu juga kuterobos hingga demam menggigil menyerang.

Mungkin seperti ini lah caraku menikmati hujan,
menikmati nikmat-Mu

Harapku, setelah ini akan kusaksikan lengkung menawan pelangi di langit-Mu

Harapku, setelah perjalan ini, aku pulang disambut handuk hangat dan secangkir kopi panas.

Harapku, setelah perjalanan panjang ini,
akan kusaksikan wajah-Mu
Pulang ke kampung surga abadi
Disambut bidadari dan jamuan hangatnya.

Kulihat sekeping bulan merah di malam cerah..

Mungkin ia memerah karena terluka. Parah tampaknya ia menggantung sempoyongan di langit yang terbelah-belah.

Mungkin ia memerah karena marah.. Gerah tampaknya ia akan manusia yang suka menumpahkan darah dan menyebar fitnah.

Atau mungkin ia memerah karena sendirinya yang hening. Pening tampaknya ia setelah kawannya bebintang cahayanya makin kering.

Ah.. Aku coba berprasangka baik saja. . .
Mungkin bulan memerah karena malu. Tersipu ia karena tiap malam kutatap melulu.

Saat aku bertanya, “Mengapa bintang-bintang tak muncul malam ini?”
Saat itu aku lupa, bahwa mereka terus bercahaya, tak pernah pergi.

Saat aku bertanya, “Mengapa aku menggigil kehujanan?”
Saat itu aku lupa, Ia menurunkan manfaat dan berkah yang tak terkira.

Saat aku bertanya, “Mengapa ada cinta?”
Saat itu aku lupa, cinta adalah sebab itu sendiri. Jawaban atas semua tanya ‘mengapa’.

Saat aku bertanya, “Mengapa aku selalu bertanya?”
saat itu aku lupa, ‘aku’ adalah pertanyaan terbesar, sejak aku mulai bertanya.

Kepada langit malam di awal tahun…

 

Maaf.. aku tak ikut serta menyapamu

Bersama orang-orang yang membakar sumbu penyulut api

Yang melesat menyentak lalu mewarnai  angkasamu

Menemani indahnya gemerlap bebintang dan sinar bulan

 

Maaf.. aku tak ikut mengelu-elukanmu

Bersama orang yang saling berpegang tangan dan menari bersama

Sembari menyaksikan dentum dan lengkingan irama konser khusus untukmu

Sembari meniupkan terompet penghormatan yang riuh menyambutmu

 

Aku lebih memilih di sini

Mencoba membakar setiap sumbu-sumbu dosa dan khilaf

Berharap semua melesat memenuhi angkasamu

Membiarkan mereka meledak lalu berpijar gemerlap

Lalu seketika itu juga gugur ditiup angin dan ditelan awan

 

Aku lebih memilih di sini

Bersama secarik kertas usang dan sebatang pena

Menggenggamnya erat, lalu menari bersamanya

 

Meneruskan barisan puisi yang tak mengenal titik

Menuliskan nada-nada lagu rindu, lagu tentang mimpi

Sesekali menghentakkan ujung pena, mencari ritme

Lalu melanjutkan goresan gambar sketsa hidupku.. juga matiku

 

010112

kami adalah bunga-bunga bermekaran
di tanah gersang peradaban
mencoba mengiringi sapaan angin
berusaha menahahan terpaannya

mereka adalah angin-angin perkasa
di lintasan udara tanpa batas
memiliki irama dan arah sekehendak diri
terkadang lembut membelai
namun seringkali membadai

kami hanya bertahan pada akar mungil
dan mengharap curah kesejukan dari pencipta kami

hingga suatu saat nanti,
akar kami kan menghujam bumi
kian kuat sekokoh mimpi

Duhai Allah..
Tak ada alasan bagiku untuk tak mencintai-Mu

Terlalu banyak alasan bagi-Mu untuk tak mencintaiku…

Jika memang ada secuil cinta itu,
aku harap nafas yang menyempit ini adalah setitik cemburu-Mu
dan seluas ampun-Mu

Jika memang ada secuil cinta-Mu, tiupkanlah nafas cinta itu
agar ia menyebar bersemi
memenuhi hati yang kerontang ini.

Cinta adalah komposisi nada hati..
Ia adalah denting harapan
Ia adalah hembusan keakraban
Ia adalah getar kerinduan
Ia adalah ketuk kecemburuan

Cinta adalah harmoni nada hati..
Ia merendah
Lalu datar
Terkadang meninggi..

Ia punya tempo yang cepat
Juga melambat
Sesekali henti sejenak

Dengarkanlah!

Hanya hati yang akrab dengan Sang Pencipta cinta
yang mampu menikmati.

Next Page »