image

“Ya Allah, jika apa yang ada pada diri saya sekarang membuat saya lalai padaMu, ambil saja ya Allah!”

Sama seperti dulu. Selalu. Wajah dengan senyum khas. Tatapan tajam tapi meneduhkan. Dan selalu, inspirasi yang menghujam dari lisannya.

Doa itu beliau panjatkan di salah satu malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Setelah puas tilawah berjuz-juz. Setelah qiyamulail di sepertiga malam terakhir. Bayangkan, betapa kuatnya tenaga doa itu menembus langit.

Beliau termasuk da’i tangguh. Murabbi tangguh. Dan punya finansial yg tangguh.

Beliau punya bisnis sawit. Entah sebagai apa. Punya rental mobil dan jual beli mobil. Travel juga. Bawa uang puluhan juta dalam kantong kresek setiap hari adalah biasa baginya. Dalam satu bulan bisa hitungan milyaran perputaran uangnya.
Tapi di malam itu. Doa itu meluncur. Doa yang cukup aneh bagi kita yang selalu meminta apa yang tidak kita punya, selalu meminta lebih. Doa seorang yang benar-benar lebih memilih Allah dibanding dunia.

Maka doa itu meluncur menembus langit.

“Ya Allah, jika apa yang ada pada diri saya sekarang membuat saya lalai padaMu, ambil saja ya Allah!”

Tak lama waktu berselang, doa itu dikabulkan. Usaha sawitnya gagal. Mobil yg dirental dibawa kabur. Usaha lainnya juga melorot. Saat itu beliau benar-benar jatuh secara ekonomi. Tapi tidak pada iman dan taqwanya. Ia malah bersyukur. Doanya terkabul.

Dengan senyum khasnya tadi, ia lanjut bercerita, “Alhamdulillah penghasilan saya saat itu masih bisa memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Juga masih bisa bayar biaya sekolah spesialis istri.”

Subhanallah… Bayangkan, waktu itu biaya sekolah untuk dokter spesialis bisa dibilang “mahal”.

Tapi begitulah. Sejatuh-jatuhnya beliau, Allah masih menjamin rezekinya. Seiring berjalannya waktu, bisnisnya kembali membaik. Walupun tidak seberlimpah sebelumnya. Tapi ia sangat bersyukur. Jika masih seberlimpah seperti dulu, mungkin saja beliau akan semakin lalai pada Allah, pada jalan dakwah yang menjadi komitmennya.

Aku tatap wajahnya. Wajah dengan senyum khas. Tatapan tajam tapi meneduhkan. Dan selalu, inspirasi yang menghujam dari lisannya. Ya Allah, aku hanya melihat keikhlasan dari wajah itu.

Advertisements