image

“Doa itu harus detail”, begitu kata beliau. Setelah ngobrol tentang desain yang diinginkan, topik itu meluncur begitu saja.

Aku mengangguk-angguk saja. Tanda setuju.

“Saya dulu pas mau sidang skripsi rajin banget doa. ‘Ya Allah, berilah kemudahan dan kelancaran pada sidang nanti..’. Lancar memang. Mudah. Tapi hasilnya dapet nilai C..”. Sambil tersenyum kecut, Ibu Kepala Cabang itu melanjutkan cerita.

Aku nyengir. Ceritanya mirip dengan pengalaman pribadi.

“Jadi As, kalo doa, harus yang detail. Lengkap. Harusnya saya dulu lengkapi doanya : ‘dan dapet A ya Allah..'”, Lanjutnya.

Aku lalu menambahkan, “Tapi doa yang detail itu tidak mudah..”

Lalu pembahasan tentang kedetailan doa tadi berlanjut. Dan cukup menginspirasi.
Saling menginspirasi lebih tepatnya.

Jadi intinya gini. Seseorang berani meminta yang detail dengan 2 syarat: kedekatan dan kelayakan.

Kalau dianalogikan dengan kasus lain, seorang pegawai kantor misalnya. Ia ingin naik gaji. Diberi bonus. Diberi kendaraan dinas. Minta tambahan cuti untuk liburan. Jadi ketika dia hendak menghadap ke bosnya, meminta dengan detail angka-angka yang diinginkan, dia harus evaluasi diri dulu: sedekat apakah bos itu dengannya? Dan sebaik apa kontribusi yang ia berikan untuk perusahaan. Jika keduanya oke, maka dia akan percaya diri meminta ke bosnya. Jika belum memenuhi keduanya, maka dia akan melupakannya. Memperbaki dulu dua hal tadi. Dan dua hal itu adalah sebuah implikasi: jika kontribusi baik, maka hubungan dengan bos akan baik juga.

Begitu juga dengan doa. Sebuah permintaan dan permohoanan kepada Sang Maha Mendengar. Seberapa yakin kita berdoa yang
detail, sangat tergantung dari seberapa dekat kita pada Allah dan seberapa besar usaha kita untuk mendapatkannya.

Kembali ke ilustrasi doa tentang sidang skripsi tadi. Ambil satu contoh ini saja. Terlalu banyak doa manusia kalau mau ditulis satu persatu.

Ketika sang mahasiswa terlintas pikirnya untuk berdoa yang terbaik untuk sidangnya: diberi kemudahan, lancar, bisa menjawab pertanyaan dosen penguji dengan baik, dan merekan pun tersenyum puas, standing applouse malah. Lalu diberi nila A.

Itu baru terlintas lho. Belum terangkai jadi doa.

Maka sebelum berdoa ia akan berpikir. Siapa dia? Sedekat apa dengan Allah? Bukankah sering shalat ia tunda? Bukankah tilawah saja kadang 1 juz, kadang 1 halaman, malah seringkali lalai? Bukankah banyak hapalannya yang luntur karena maksiat? Bukankah dan bukankah…

Lalu ia juga akan berpikir, sejauh apa usaha yang sudah dilakukan? Bukankah data yang ia kumpulkan kurang lengkap? Terlalu banyak data fiktif malah. Bukankah penelitiannya selama ini tidak serius? Lebih banyak buka game daripada buka literatur. Bukankah dan bukankah…

Maka ia akan ciut. “Kayaknya gak layak gue minta sedetail itu”.

Maka dalam doanya, ia meminta , “Ya Allah, berilah kemudahan dan kelancaran pada ujian skripsi nanti.. Aamiin”. Itu saja.

Maka pertanyaannya, apakah Allah Maha Mendengar doa hambaNya? Jelas. Tak diragukan lagi.

Lalu pertanyaan selanjutnya. Apakah kita merasa layak meminta dengan doa yang detail? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Sedekat apa kita padaNya. Sejauh apa usaha kita untuk memperolehnya.

Wallahu’alam.

Advertisements