awan malam

Aku benci gumpalan awan di langit penghujung malam..
Betapa tidak, mereka menutupi cahaya bintang yang tanpa pamrih menghias malam..
Padahal ribuan, bahkan jutaan tahun ditempuhnya untuk sekedar jatuh di retina mata pencinta malam.

Aku benci gumpalan kabut prasangka di langit hati insan…
Betapa tidak, mereka menutupi cahaya kebaikan yang dengan ikhlas menghias amalan..
Padahal ribuan, bahkan jutaan doa berpijar mengangkasa untuk sekedar mampir menghias harapan.

Advertisements

meteorit

Jika masih terjaga malam ini, cobalah buka tirai jendela kamarmu.
Maka kau akan melihat langit malam yang indah terhias bulan dan bebintang
Sama seperti apa yang akan kulihat.
Bukankah kita ada di bawah langit yang sama?

Nanti ketika kau lihat bintang jatuh, berdoalah.
Doa dengan penuh harap dan keyakinan.

“Bukankah itu hanya mitos? “, pasti itu yang akan kau tanyakan.

Lalu aku akan jawab,” Bukankah kita berdoa pada Tuhan yang Satu? Rabb semesta yang menciptakan fenomena bintang jatuh itu juga? ”

Maka kau akan tersenyum. Begitupun aku.

Maka mari berdoa bersama. Dengan penuh harap. Penuh keyakinan.

Ingat.. Keyakinan itu bukan pada bintang jatuhnya. Melainkan pada penciptanya.

Kulihat sekeping bulan merah di malam cerah..

Mungkin ia memerah karena terluka. Parah tampaknya ia menggantung sempoyongan di langit yang terbelah-belah.

Mungkin ia memerah karena marah.. Gerah tampaknya ia akan manusia yang suka menumpahkan darah dan menyebar fitnah.

Atau mungkin ia memerah karena sendirinya yang hening. Pening tampaknya ia setelah kawannya bebintang cahayanya makin kering.

Ah.. Aku coba berprasangka baik saja. . .
Mungkin bulan memerah karena malu. Tersipu ia karena tiap malam kutatap melulu.

BiNtanG

Thursday, November 9th, 2006

“BinTanG2 DI LAngiT…

MenYiMpAn SejUTA MisTerRi…

BerKeDiP-KeDiP BerMaiN MatA…

SeOlaH… MeNgaJak KiTa BerkEnaLaN LeBih DekaT….”

Syair di atas adalah lagu Sherina yang selalu menemaniku saat hendak pergi atau balik shalat Isya’ maupun Shubuh. Sambil melangkahkan kaki menatap ke langit yang luas,ditemani bintang-bintang yang tersenyum menatap. Entah mengapa…aku begitu senang menatap bintang2 itu..memperhatikan setiap gugusnya..merasa begitu kopleks ciptaan-Nya.

Tapi aku sudah lama tidak merasakan keindahan itu lagi. Bintang-bintang itu selalu ditutupi oleh pekatnya kabut..bahkan sekarang ketika kabut sudah pergi,bintang-bintang itu malah bersembuyi di  balik awan mendung. Mungkin mereka sedah bosan melihat tingkah manusia yang selalu berbuat kerusakan di muka bumi..melupakan setiap nikmat yang diberikannya..

Semoga malam ini dan seterusnya.. aku tetap ditemani bintang2 itu melangkah menuju ridho-Nya.