Ketika diminta untuk mengisi materi tentang SWOT, aku langsung terpikir untuk mencari dan membuka kembali binder-binder di rak buku. Catatan tentang materi itu pernah kutulis di sana semasa SMA dulu. Binder-binder itu sudah lama tak kubuka. Tampak lusuh sejak bertahun-tahun tersimpan di pojok kamar. Memang hanya ada dua binder yang kupunya, tapi ada ratusan makna dan ilmu tersimpan di sana (hhe.. lebay).

Memang binder tak mempunyai kapasitas yang dapat disamakan dengan ratusan giga harddisc. Sangat jauh. Tapi memang media favorit di waktu itu tak  dan tak bukan: binder

Di dalamnya ada catatan sekolah maupun awal kuliah, les, pelatihan (dauroh) yang kuikuti semasa SMA, termasuk catatan ngaji. Ada juga beberapa puisi (buatan sendiri dan kawan sekelas), lirik lagu nasyid, bahkan lagu ciptaan kawan sendiri. Ada juga sketsa-sketsa gambar yang kubuat sendiri. Buatan kawan juga ada (walaupun – menurutku – tidak sebagus gambar buatanku ^.^ ). Di dalamnya juga aku menempelkan  artikel menarik dan sebagian klipping kartun buatanku yang dulu selalu terbit dimuat di koran. Maklumlah, aku salah satu crew wartawan pelajar di Visi – sekarang namanya Ekspresi – Sumatera Ekspress, salah satu koran terkemuka di daerahku. (more…)

Advertisements

Hujan tumpah ruah dari langit sore kota ini. Airnya turun tak terkira. Jalanan basah. Pohon-pohon basah. Bahkan kios tampal ban kecil ini juga basah, tak mampu lagi melindungi orang-orang yang berteduh di bawahnya.

Aku jadi teringat pengalaman yang selalu kurasakan ketika hujan dan kutuliskan dalam sebuah narasi sederhana di blog-ku beberapa waktu lalu, Ketika Hujan Bercerita: ”Ketika hujan turun, selalu begitu. Gemericiknya, gemuruhnya, seolah membisikkan cerita padaku. Rinainya, tetes-tetes  beningnya yang berjatuhan dari langit, seolah memproyeksikan imaji cerita tersebut. Cerita tentang kenangan. Cerita tentang harapan. Cerita tentang cerita lainnya.”

Tapi kali ini sedikit berbeda. Hujan membisikiku untuk lebih menikmati keberadaannya lebih dalam. Bukan sekedar cerita dari gemericik dan gemuruhnya. Bukan sekedar pemandangan menakjubkan akan tetes beningnya yang berkah turun dari langit. Lebih dari itu. Ia mengajakku untuk terjun memanjakan semua indra.

Okelah.. aku turuti ajakannya. Sudah terlanjur kehujanan. Berteduh di sini pun akan tetap basah. Kusimpan handphone dan dompet ke dalam tas yang sudah aman dengan raincover. Lalu rapikan jaket. Dan, whusssh… kupacu motor bersama hujan yang semakin menderas.

Benar memang.. Sensasinya beda. I do like it.

Hujan langsung membasahiku secara total. Entah mengapa aku melupakan rasa dingin. Yang ada hanyalah rasa membuncah yang tak terkira. Lebih menyenangkan dibanding  saat aku dulu mandi hujan di bawah pancuran air saat masih berseragam putih-merah dulu. Lebih mengasyikkan dibanding saat aku memacu sepeda menembus hujan seperti saat masih berseragam putih-biru dulu. Berteriak riang, sambil berlomba untuk memuncratkan becek pada sepeda lain di belakang. Lebih seru dibandingkan saat aku berjalan dengan seragam putih-abu-abu yang basah kuyup sembari menengadah menikmati titik-titik hujan menyentuh wajahku. Dan lebih hangat dibanding saat kami berjalan bersama, juga sambil bercerita dan menikmati hujan…  atau saat aku bersepeda mengiringimu berjalan sambil bercerita dan menikmati hujan membasahi seragam kita.. (more…)


Kubuka folder ‘My Videos’ yang tersimpan rapi di drive E harddisc. Sekedar mencoba membangunkan motivasi dan inspirasi yang tampak masih terlelap bersama nyenyaknya tidur di dinginnya malam tadi. Setelah beberapa file video full inspirasi dan motivasi yang berdurasi relatif pendek kutonton, ada satu lagi file video yang melirik minta dibuka: 08-09 KalamQ. Entah apa nama file aslinya. Yang jelas, namanya kuganti seperti itu agar berada pada list paling awal di dalam folder. Agar mudah menemukannya. Sebuah file video nostalgia, yang pernah membuat bulu mata para ikhwan Kalam terbasahi. Sesenggukan malah.

Mungkin ini adalah sebuah video biasa. Tak ada efek audio visual khusus. Tak memiliki alur cerita yang apik. Tak diperankan oleh aktor kenamaan. Tapi bagi kami, video ini adalah memorial kebersamaan, kumpulan rindu yang tersimpan rapi, dan semangat berjuang yang teredam oleh waktu yang telah bergulir. Saat kami mulai menitikkan ukhuwah sejati.

Video ini sebenarnya dibuat oleh panitia Syuro Akbar Kalam untuk disaksikan di sela-sela acara. Sayang, karena agenda sidang yang padat, video ini tak sempat disajikan dalam acara. Aku bahkan baru menontonnya beberapa hari setelah didemisioner. Dan sungguh tak sopan kawan-kawan pengurus Kalam yang kusayangi itu. Mereka ternyata telah menontonnya duluan dan menontonnya sendiri-sendiri tanpa memberikan file yang penting ini kepadaku. Dari pengakuan beberapa dari mereka, ternyata mereka sampai-sampai menitikkan air mata saat nonton video itu. Sebuah pengakuan yang mungkin sangat sulit untuk para lelaki. Yaitu mengakui bahwa mereka bisa menangis juga. Setelah ku-copy file itu, kami menontonnya bersama-sama.

Ketika dibuka, maka seketika itu pula memorial itu hadir kembali. Memorial kebersamaan itu seolah baru saja terjadi kemarin. Begitu dekat. Seolah masuk kembali ke masa itu. Masuk melalui gerbang selebar layar 14 inch. Lalu rindu yang tersimpan rapi dalam dada mulai terbuka. Lalu membuncah. Menggetarkan hati yang masih akrab dengan cinta yang pernah kami bangun. Cinta yang tumbuh dari benih ukhuwah. Benih itu kami dapat dari berbagai rasa yang kami alami selama berjuang bersama. Sungguh indah memori-memori itu. Ingin rasanya aku masuk ke layar 14 inch itu dan memeluk erat kebersamaan yang sangat indah itu. Lalu memperbaiki berbagai kelalaian dan ketertundaan yang terlaku dalam masa itu.

Karena itu, sangatlah wajar mata kami tergenang oleh air mata. Sangatlah wajar bulu mata ini terbasahi olehnya. Sangat wajar pipi kami terbasahi sampai ke janggut tipis di dagu ini.
(more…)

Kucoba menyelami kembali samudra memori

Ternyata sudah tiga masa kita lalui

Semakin aku menyelam…

Semakin aku tenggelam dalam masa-masa itu…

Saat kita tersenyum..tertawa..dan menangis bersama…

Semakin dingin lautan itu merasuk ke sumsum tulangku..

Semakin aku merasakan kehangatan itu lagi…

Kehangatan ukhuwah dan persahabatan…

Semakin aku terseret oleh arusnya..

Semakin aku sadar

Bahwa kalian adalah sahabat terbaik

Yang menghiasi samudra hidupku..

081006

ocean_000