hanya cerpen


“Tanggal 14 Februari adalah sebuah hari duka untuk cinta. Warna pink sungguh tak tepat sebagai tema yang dipakai pada hari itu. Hanya hitam yang pantas. Karna hari itu lebih tepat dikenang sebagai hari berkabung atas kematian St. Valentine.”

Pemuda itu memulai penjelasannya dengan hati-hati. Tapi penuh antusias. Entah pesona apa yang dipancarkannya, sehingga hari ini menerima segunung coklat dengan beraneka bentuk dan ukuran. Tentu dengan kotak dan bungkus berwarna pink. Ia hanya seorang mahasiswa PPL berjaket kuning, almamater yang hanya dipakainya saat aksi turun ke jalan atau dipakai saat berperan sebagai guru PPL di SMA ini.

“Besok, tanggal 15 Februari, atau 12 Rabiul Awal, adalah sebuah hari yang lebih tepat untuk kita hayati. Warna pink ataupun putih pun tak sebanding sebagai tema kelahiran baginda Rasulullah Muhammad SAW. Karna ada jutaan warna berpendar di sana. Ada jutaan makna darinya. Bertepatan dengan kelahiran beliau, runtuhlah sepuluh balkon istana Kisra, padamlah api yang biasa disembah Majusi, dan runtuhnya gereja di sekitar Buhairah setelah gereja-gereja itu ambles ke tanah.”

Para siswi hanya manggut-manggut. Takzim. Entah karena terpesona akan penjelasan guru muda itu, atau terpesona akan sang guru muda itu sendiri. Ia hanya pemuda yang penampilannya sederhana. Sesekali jarinya memperbaiki letak kacamatanya. Rambutnya hanya disisir seadanya, dengan secuil minyak rambut, walaupun ia tak pernah pake shampoo. Dan postur tubunya bisa dibilang ’tidak tinggi’. Tapi tampak keramahan dan kebijakan dalam senyum lebar dua centinya. Tampak sorot keteduhan dari kedua matanya. Tegas suaranya, tapi lembut masuk ke hati. Tertawanya pun sangat khas. Mungkin itu yang membuat para seantero siswi SMA itu kesemsem padanya.

Kebetulan hari ini ia menyampaikan sambutan mewakili teman-teman guru PPL yang turut berperan sebagai Pembina salah satu rangkaian acara OSIS. Belumlah ia sempat bicara, para fans-nya sudah menghambur memberikannya kado coklat berbungkus pink. Mungkin ada ratusan. Awalnya ia bingung. Tapi ini adalah kesempatan untuk menjelaskan tentang Valentine. Juga Rasulullah. Intro tadi cukup berhasil. Mereka – terutama para siswi – tersihir oleh kata-katanya.

“Starting point berhasil”, gumamnya dalam hati, “Akan kulanjutkan dengan sejarah Valentine dengan versi yang mudah mereka cerna. Maklum, ada banyak versi tentang mitos ataupun sejarah tentang hari yang disebut ‘Hari Kasih Sayang’ ini.

“Pada abad ke-3 Masehi, disebuah Negara adidaya Romawi, kaisar yang berkuasa saat itu, Claudius II mengeluarkan dekrit yang melarang pernikahan. Ia memerlukan banyak tentara. Sedangkan ia menganggap pria yang sudah menikah tentu akan berat meninggalkan kekasih sekaligus istri mereka untuk berangkat ke medan juang.

Itu membuat gundah seorang pemuda. Ia bernama Lucas. Hatinya telah takluk pada seorang wanita. Ia jatuh cinta. Entahlah.. cinta itu datang begitu saja. Ia mencintai mata indah wanita itu. Hidung mancungnya. Bibir merahnya. Lesung pipinya. Dan kulit putih bersihnya. Ia menyebutnya sebagai ‘falling in the love in the first sight’. Mungkin lebih tepatnya disebut nafsu mata kali ya..

Dan ternyata cinta tak bertepuk sebelah tangan. Sang wanita – yang bernama Anne – juga jatuh cinta pada Lucas. Cinta itu merasuk ke dalam jiwanya. Ia mencintai tubuh gagah Lucas. Harta warisan orangtuanya. Baju mewahnya. Dan kuda perkasa yang selalu ditungganginya. Ia menyebutnya ‘endless love’. Mungkin lebih tepatnya disebut nafsu dunia kali ya..

Di belahan bumi yang lain. Di dimensi waktu yang berbeda. Seorang pemuda menyimpan rasa cintanya dalam hati. Hanya Allah dan dirinya lah yang tau kedalaman cintanya. Ia mencintai Fathimah. Putri Rasulullah SAW. Ketika Muhammad dilempari dengan batu dan kotoran oleh para musyrik Mekkah, Fathimah menangis melihat penderitaan ayahnya itu, sembari membersihkan luka dan kotoran di tubuh sang ayah. Lalu Fathimah kecil, tanpa takut berkata lantang sembari menunjuk ke arah hidung para pemuka Mekkah itu, “Wahai pemuka Quraisy! Siapa yang telah berani mengganggu bapakku!” Lantang. Menantang. Tapi tak seorang pun yang berani menghadapi gadis kecil itu. Tapi ada seorang pemuda yang hatinya bergetar saat itu. Mulai saat itu, cintanya pada Fathimah mulai bertunas. Pemuda itu adalah ‘Ali.
(more…)

Seorang pemuda tampak duduk tertunduk di keremangan kamarnya. Bingung. Gelisah. Takut. Harap. Cemas. Terlalu banyak rasa bercampur aduk. Terlalu banyak tanya berkecamuk. Di tengah kegalauannya, di dalam diamnya, ada pertengkaran rumit yang sedang terjadi.

“Sungguh, ini adalah kesalahan mata! Tak diragukan lagi. Karena ia adalah pintu masuk segala godaan nafsu dunia. Sungguh, ini memang kesalahan mata yang memandang!!!”, begitulah sang hati menyalahkan mata.

“Tapi kami hanya…”

“Kalian hanya tak bisa menundukkan dan mengalihkan pandangan. Itukah yang ingin kalian katakan?”, sang hati memotong pembelaan kedua mata. Ia tampak tersenyum puas. Merasa menang.

Lalu kedua mata yang nanar tadi berangsur menyorotkan pandangan dingin. Dengan sinis mereka berkata, “ Lihatlah dirimu wahai hati. Titik-titik hitam pada dirimu kini semakin menyebar. Semakin menyeruakkan kesan suram tanpa cahaya. Jika memang pria ini memiliki hati yang tak sekotor dirimu, tentu setiap pandangan matanya dapat dijaga. Tentu setiap pandangan kami sebagai matanya dapat ditundukkan.”

“Tapi bukankah semua tau bahwa ada ungkapan ‘dari mata turun ke hati’?”, sang hati mulai tersudut.

“Memang benar. Tapi hati kemudian yang memutuskan pandangan-pandangan berikutnya. Bila hati tunduk, maka mata juga tunduk.”, kilah kedua mata.

Sang hati terdiam sesaat. Sungguh telak argumen serangan balik itu.

Di sudut ruangan, pria itu tertunduk. Ia tampak linglung. Gusar. Bingung. Perdebatan antara hati dan matanya tadi tak diacuhkannya sama sekali. Sebelumnya mereka sempat menyalahkan nafsu. Tapi dengan sangat diplomatis, nafsu menerangkan bahwa ia adalah potensi yang membedakannya dengan malaikat. Jika dikelola dengan baik ia menjadi potensi kemajuan. Sedangkan jika tidak dikekang dan hanya mengikuti bisikan setan, ia menjadi sumber segala perbuatan mungkar.

Sang hati bingung. Memang ia salah. Kedua mata juga salah. Tapi ia benar-benar kalah argumen. Ia berusaha mencari celah lain untuk membela diri. Aha! Kebetulan ia teringat keberadaan setan di ruang itu. Sang setan tampak sedang bermalas-malasan. Berbaring dengan ditopang tangan kanannya. Sedang tangan kirinya sibuk menekan tombol benda kecil seperti handphone. Tampaknya ia sedang mengirim laporan kepada bosnya, atau mungkin sedang forward sms berita kegemilangannya ke teman-temannya. (atau mungkin sedang update status)

“Yang paling layak dipersalahkan adalah dia!” Sang hati menunjuk ke arah setan dan tentu mengagetkannya.

Tiba-tiba dipersalahkan, setan pun muntab, “Memang apa kesalahanku, wahai hati yang pekat?”
(more…)

Malam ini, seperti malam-malam lainnya, kami menapaki jalan sempit yang biasa kami lewati untuk shalat Isya’ berjamaah di masjid. Lumayan jauh memang. Tapi kami begitu menikmatinya. Selain ampunan di setiap langkahnya, kami begitu menikmati cahaya bintang-bintang yang terhampar di langit malam. Sepanjang jalan yang biasa kami lewati itu masih jauh dari keramaian kota, masih jauh dari benderang lampu jalan maupun lampu lainnya yang dapat mereduksi cahaya bintang yang jatuh ke retina mata kami. Sehingga, gugusan-gugusan bintang itu begitu jelas. Cahayanya terasa begitu dekat.

Entah apa yang sedang dipikirkan oleh sobatku ini. Matanya menerawang ke atas, menatap bintang-bintang di langit malam. Wajahnya tampak serius. Tapi bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Sungguh aku tak dapat menerka apa yang ada di pikirannya sekarang.

“Apa yang sedang kau pikirkan, Di?”

“Aku sedang berdialog dengan bintang-bintang itu.”, jawab Hadi singkat.

“Hmmm… menarik. Apa yang barusan kalian bicarakan?”, tanyaku penasaran.

“Aku bertanya kepada salah satu bintang di sana, ‘Wahai bintang, apakah kau menjumpai mimpiku?’ Dengan ramah bintang itu menjawab, ‘Maaf, kami tak menjumpainya, tapi kami tau keberadaannya. Jauh lebih tinggi dari tempat kami berada dan jauh lebih bercahaya daripada cahaya yang kami pancarkan.”

Itulah Hadi. Sahabat yang sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Ia bukan orang gila yang mengajak bintang berbicara. Imajinasinya lah yang mengajaknya berdialog pada sekitarnya. Imajinasi kami lah yang menciptakan keindahan tersendiri dalam setiap interaksi kami.

“Lalu, apa mimpimu itu?”, lanjutku.

“Terlalu banyak mimpiku itu. Seperti banyaknya gugusan bintang yang sedang kita lihat sekarang. Tak mungkin aku menyebutkannya satu per satu.”

“Kalau begitu, bisakah kau jelaskan satu saja mimpimu itu?”

Hadi agak lama terdiam. Tampaknya memang banyak mimpi di kepalanya. Tapi ia hanya terdiam beberapa detik. Setelah itu ia memetik salah satu mimpinya, dan mengatakan, “Seorang penulis.”

“Apa yang membuatmu berpikir untuk menjadi seorang penulis?”, tanyaku penasaran.

“Sungguh, menulis adalah pekerjaan besar yang dilakukan oleh orang-orang besar.  Orang-orang yang memiliki kekuatan hati, jiwa, ruh, dan akal. Kekuatan untuk mengalirkan hasil sinergi dari cerapan indra, memori, dan imajinasi menuju ke ujung-ujung jari. Lalu membentuk sinergi kata-kata yang memiliki kekuatan. Kekuatan kata yg tersusun apik. Kekuatan yang mampu menyatukan hati, meledakkan potensi, bahkan mampu merusak sinergi.

Karena itu, Tuhan mengamanahkan setiap kata-kata-Nya pada insan terbaik dan generasi terbaik. Karena itu, pena-pena inspirasi dititipkan pada insan yang berhati lembut. Karena itu, tinta ilmu dititipkan pada insan berjiwa tangguh. Karena itu, lembar sejarah dititipkan pada insan pemilik ruh nan kokoh.”
(more…)

Ini bukan tulisanku. Bukan torehan pikiranku. Tapi aku ingin memuatnya di blog-ku ini, menghiasi atmosfer yang kubuat ini.

Di situs yang aku temukan, aku tidak menemukan siapa penulisnya… Tapi katanya, Mbak Helvy Tiana Rossa yang menulis kisah indah ini.

Siapkan tissue atau saputangan, atau apapun yang bisa menyeka aliran air matamu.


KEtika MAs GagaH PerGi ..

Mas gagah berubah! Ya, beberapa bulan belakangan ini masku, sekaligus  saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah!

Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !Mas Gagah juga sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.

Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku.

Saat memasuki usia dewasa, kami jadi semakin dekat. Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda dengan teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelocon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan-makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan Ancol.

Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya.

“Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?”

“Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang rumahku suka membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho! Gila, berabe kan?!”

“Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?”  Dan banyak lagi lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku Cuma mesem-mesem bangga. Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum juga punya pacar. Apa jawabnya? “Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! He..he..he…”Kata Mas Gagah pura-pura serius. Mas Gagah dalam pandanganku adalah cowok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tetapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tetapi tidak pernah meninggalkan shalat!

(more…)

Aku menelusuri jalan itu. Di antara remang-remang permulaan malam, ketika matahari hampir menarik seluruh sinarnya dan rembulan mengintip di balik awan. Kaki terus menapak, lunglai. Sedangkan kedua mata ini, dengan seksama memperhatikan setiap sudut jalan yang memang tidak punya lampu jalan, hanya dibantu cahaya lampu teras rumah di sepanjang jalan.

Sekantong plastik jingga yang kucari. Isinya hanya bungkusan rapi dari Koran. Ya..hanya itu. Tidak lebih. Bahkan isinya pun aku kurang tahu.

Seperti biasa, setiap pulang dari kampus, dengan penat dan lelah yang memuncak – mengingat jarak kampus ke kota sekitar 32 km – adalah hal yang wajar bila mahasiswa tertidur di bus. Bangku paling depan, samping kiri sopir dekat jendela adalah salah satu tempat favoritku di bus. Selain mempunyai view yang istimewa, dashboard bus yang ada di depan bangku sangatlah fungsional. Aku bisa meletakkan berbagai instrumen perkuliahan, mulai dari map, tabung gambar, sampai jaket sekalipun. Kantong plastik jingga itu aku letakkan di situ. Dan aku tertidur.

Begitu cerobohnya aku ini! Kantong itu tertinggal. Rasa sesal berkecamuk. Bersalah. Panik. Merasa begitu berdosa. Ini bukan masalah seberapa berharga atau mahalnya isi yang ada di dalam plastik itu. Tapi ini mengenai setetes hidayah dan amanah. Ini menyangkut niat untuk berubah dan menolong. Tapi aku telah merusaknya.
(more…)