image

Kata siapa ‘kadal’ identik sebagai icon pengkhianat cinta?

Setidaknya persepsi itu berubah setelah membaca cerita itu. Singkatnya gini:

Rumah di jepang mempunyai dinding kayu yang berongga. Saat renovasi, seseorang membongkar tembok itu. Ia menemukan seekor kadal dengan kaki yang tertancap paku di situ. Dan masih hidup. Padahal, paku itu sudah tertancap di sana selama 10 tahun. Lalu, bagaimana si kadal mampu hidup di sana selama 10 tahun? Tanpa bisa bergerak ke mana pun. Tanpa bisa melihat dalam gelapnya rongga dinding.

Kemudian, tanpa tau dari mana arah datangnya, datang seekor kadal lain. Membawa makanan di mulutnya. Untuk kadal yang terperangkap tadi tentunya..

Subhanallah.. Ternyata ada kadal lain yang merawatnya!! Bayangkan, selama 10 tahun… Tak pernah menyerah. Tak pernah berhenti.

Lantas, bagaimana hubungan kita dengan orang-orang terdekat kita? Yang kita sebut sebagai orang-orang yang kita sayangi?

Semoga menginspirasi 😉

Aku adalah rahasia Ar-Rahman yang tersimpan di tempat yang terjaga
Aku adalah keniscayaan Ar-Rahim bagi setiap insan yang menghamba
Dan aku adalah hadiah terbaik bagi hamba-Nya yang baik.
Namun aku adalah pemberian kehinaan bagi hamba yang terhina

Beberapa baris goresan kata-kata di atas adalah ‘Favourite quotations’ yang termuat di sebuah profil Facebook, yaitu “Rahasia Ar-Rahman”. Ia (sekarang) adalah karakter fiktif, yang keberadaannya adalah keniscayaan.  Sesuai namanya, ia masih sebuah rahasia. Namanya masih tersimpan rapat di tempat yang terjaga.

tentang status ’Aas Hasbee’ (FB saya) engaged to Rahasia Ar-Rahman’ yang saya buat sekitar sebulan yang lalu, ada berbagai tanggapan dan pertanyaan, mulai melalui chatting, sampe lewat SMS. (saya cuma jadi geli sendiri). Padahal, jika info di profilnya dan note-nya dibaca dengan seksama, semua pasti akan mengerti sendiri kok. ^.^

Saya sengaja membuat sendiri  account ‘Rahasia Ar-Rahman’ ini dan menjadikannya ‘engaged’. Setidaknya, ia bertujuan hanyalah utk meyucikan niat, membasuh hati, menguatkan jiwa, dan meluruskan ikhtiar… Tak lain sebagai pembatas diri. Perisai diri. Juga dalam mengingatkan saudara-saudariku fillah.

Saya hanya prihatin dengan teman-teman yang menempuh jalan ‘pacaran’. Juga teman-teman yang mengaku ‘Say No to Pacaran’, tapi menggunakan media lain untuk mencari pasangannya (terutama handphone dan internet). “Yang penting tak ada kontak fisik. Secara syar’i”, katanya. Kontak fisik memang tak ada. Tapi, tahukah kalian, ada kontak dan getar hati di sana. Ada jiwa yang beresonansi di sana.

Dikhawatirkan, cinta itu tumbuh di hati yang belum benar-benar siap. Siap untuk memberi.. menumbuhkan.. merawat..dan menjaganya. Dikhawatirkan, ia hanya akan menjadi benalu perusak tunas cinta pada Allah yang masih rapuh.. juga bibit cinta Rasulullah yang sedang berkecambah.

Padahal, siapapun itu, namanya pasangan hidup kita sudah tertulis di Lauh Mahfuzh, sebagai rahasia Ar-Rahman. Yang membedakannya adalah cara kita menjemputnya. Yang membedakannya adalah cara Allah memberikannya pada kita. Apakah Allah memberikannya dengan lemah lembut dan penuh kemulian. Ataukah dilempar ke wajah kita penuh murka dari-Nya, “Nih ambil! Memang dia buatmu kok!!!”. Na’udzubillah…

Ya.. yang membedakannya adalah berkah atau tidaknya. Yang membedakannya adalah diridhoi Allah atau tidak.
(more…)

“Tanggal 14 Februari adalah sebuah hari duka untuk cinta. Warna pink sungguh tak tepat sebagai tema yang dipakai pada hari itu. Hanya hitam yang pantas. Karna hari itu lebih tepat dikenang sebagai hari berkabung atas kematian St. Valentine.”

Pemuda itu memulai penjelasannya dengan hati-hati. Tapi penuh antusias. Entah pesona apa yang dipancarkannya, sehingga hari ini menerima segunung coklat dengan beraneka bentuk dan ukuran. Tentu dengan kotak dan bungkus berwarna pink. Ia hanya seorang mahasiswa PPL berjaket kuning, almamater yang hanya dipakainya saat aksi turun ke jalan atau dipakai saat berperan sebagai guru PPL di SMA ini.

“Besok, tanggal 15 Februari, atau 12 Rabiul Awal, adalah sebuah hari yang lebih tepat untuk kita hayati. Warna pink ataupun putih pun tak sebanding sebagai tema kelahiran baginda Rasulullah Muhammad SAW. Karna ada jutaan warna berpendar di sana. Ada jutaan makna darinya. Bertepatan dengan kelahiran beliau, runtuhlah sepuluh balkon istana Kisra, padamlah api yang biasa disembah Majusi, dan runtuhnya gereja di sekitar Buhairah setelah gereja-gereja itu ambles ke tanah.”

Para siswi hanya manggut-manggut. Takzim. Entah karena terpesona akan penjelasan guru muda itu, atau terpesona akan sang guru muda itu sendiri. Ia hanya pemuda yang penampilannya sederhana. Sesekali jarinya memperbaiki letak kacamatanya. Rambutnya hanya disisir seadanya, dengan secuil minyak rambut, walaupun ia tak pernah pake shampoo. Dan postur tubunya bisa dibilang ’tidak tinggi’. Tapi tampak keramahan dan kebijakan dalam senyum lebar dua centinya. Tampak sorot keteduhan dari kedua matanya. Tegas suaranya, tapi lembut masuk ke hati. Tertawanya pun sangat khas. Mungkin itu yang membuat para seantero siswi SMA itu kesemsem padanya.

Kebetulan hari ini ia menyampaikan sambutan mewakili teman-teman guru PPL yang turut berperan sebagai Pembina salah satu rangkaian acara OSIS. Belumlah ia sempat bicara, para fans-nya sudah menghambur memberikannya kado coklat berbungkus pink. Mungkin ada ratusan. Awalnya ia bingung. Tapi ini adalah kesempatan untuk menjelaskan tentang Valentine. Juga Rasulullah. Intro tadi cukup berhasil. Mereka – terutama para siswi – tersihir oleh kata-katanya.

“Starting point berhasil”, gumamnya dalam hati, “Akan kulanjutkan dengan sejarah Valentine dengan versi yang mudah mereka cerna. Maklum, ada banyak versi tentang mitos ataupun sejarah tentang hari yang disebut ‘Hari Kasih Sayang’ ini.

“Pada abad ke-3 Masehi, disebuah Negara adidaya Romawi, kaisar yang berkuasa saat itu, Claudius II mengeluarkan dekrit yang melarang pernikahan. Ia memerlukan banyak tentara. Sedangkan ia menganggap pria yang sudah menikah tentu akan berat meninggalkan kekasih sekaligus istri mereka untuk berangkat ke medan juang.

Itu membuat gundah seorang pemuda. Ia bernama Lucas. Hatinya telah takluk pada seorang wanita. Ia jatuh cinta. Entahlah.. cinta itu datang begitu saja. Ia mencintai mata indah wanita itu. Hidung mancungnya. Bibir merahnya. Lesung pipinya. Dan kulit putih bersihnya. Ia menyebutnya sebagai ‘falling in the love in the first sight’. Mungkin lebih tepatnya disebut nafsu mata kali ya..

Dan ternyata cinta tak bertepuk sebelah tangan. Sang wanita – yang bernama Anne – juga jatuh cinta pada Lucas. Cinta itu merasuk ke dalam jiwanya. Ia mencintai tubuh gagah Lucas. Harta warisan orangtuanya. Baju mewahnya. Dan kuda perkasa yang selalu ditungganginya. Ia menyebutnya ‘endless love’. Mungkin lebih tepatnya disebut nafsu dunia kali ya..

Di belahan bumi yang lain. Di dimensi waktu yang berbeda. Seorang pemuda menyimpan rasa cintanya dalam hati. Hanya Allah dan dirinya lah yang tau kedalaman cintanya. Ia mencintai Fathimah. Putri Rasulullah SAW. Ketika Muhammad dilempari dengan batu dan kotoran oleh para musyrik Mekkah, Fathimah menangis melihat penderitaan ayahnya itu, sembari membersihkan luka dan kotoran di tubuh sang ayah. Lalu Fathimah kecil, tanpa takut berkata lantang sembari menunjuk ke arah hidung para pemuka Mekkah itu, “Wahai pemuka Quraisy! Siapa yang telah berani mengganggu bapakku!” Lantang. Menantang. Tapi tak seorang pun yang berani menghadapi gadis kecil itu. Tapi ada seorang pemuda yang hatinya bergetar saat itu. Mulai saat itu, cintanya pada Fathimah mulai bertunas. Pemuda itu adalah ‘Ali.
(more…)

Cinta adalah cara indah tuk beramal. Amal itu adalah sebuah kerja besar. Dan inti pekerjaannya adalah memberi. Seperti yang ditulis Anis Matta dalam Serial Cinta, para pecinta sejati hanya mengenal satu pekerjaan besar dalam hidup mereka: memberi. Terus menerus memberi. Dan selamanya memberi. Menerima? Mungkin, atau bisa juga jadi pasti! Tapi itu hanya efek. Efek dari apa yang mereka berikan.

Saya teringat akan sebuah kisah dari Cahaya Langit yang ditulis oleh Bobby Herwibowo. Sebuah kumpulan kisah nyata yang pernah melintas sebagai hikmah yang patut dipetik.

Seseorang berkisah bahwa ia pernah bekerja di sebuah perusahaan Yahudi. Ia sudah menjadi manusia yang kaya raya di usianya yang lagi belum mencapai 40 tahun. Lebih dari 200 negara sudah ia sambangi. Selama ini, harta dan seluruh kenikmatan dunia adalah tujuannya.

Namun dalam sebuah tugasnya di Maroko, Afrika Utara. Ia singgah di sebuah perkampungan muslim yang sederhana lagi bersahaja. Sebagai seorang muslim, kehadirannya di kampung itu disambut dengan baik oleh muslim di sana.

Ia dijamu makan, dan makanan untuk disantap pun sudah tersaji dihadapan. Namun tidak seorang pun mulai menyantap makanan dan ia pun belum lagi dipersilakan. Hingga seseorang datang ke dalam ruang makan lalu menyampaikan berita kepada tuan rumah dalam bahasa Arab. Usai itu, akhirnya ia pun dipersilakan untuk makan.

Saat menyantap hidangan itu, ia diberitahu oleh tuan rumah bahwa warga kampung muslim tersebut tidak akan pernah menyantap makanan, selagi mereka belum merasa yakin bahwa di luar sana tidak ada seorang pun yang kelaparan. Warga di dusun tersebut saling berbagi makanan antara satu rumah dengan yang lain. Dan orang yang datang sebelum santap makanan tadi, adalah pembawa kabar bagi tuan rumah yang menyampaikan bahwa ia sudah membagi makanan bagi penduduk kampung yang belum mendapat makanan.
(more…)

Duhai Allah..
Tak ada alasan bagiku untuk tak mencintai-Mu

Terlalu banyak alasan bagi-Mu untuk tak mencintaiku…

Jika memang ada secuil cinta itu,
aku harap nafas yang menyempit ini adalah setitik cemburu-Mu
dan seluas ampun-Mu

Jika memang ada secuil cinta-Mu, tiupkanlah nafas cinta itu
agar ia menyebar bersemi
memenuhi hati yang kerontang ini.

Cinta adalah komposisi nada hati..
Ia adalah denting harapan
Ia adalah hembusan keakraban
Ia adalah getar kerinduan
Ia adalah ketuk kecemburuan

Cinta adalah harmoni nada hati..
Ia merendah
Lalu datar
Terkadang meninggi..

Ia punya tempo yang cepat
Juga melambat
Sesekali henti sejenak

Dengarkanlah!

Hanya hati yang akrab dengan Sang Pencipta cinta
yang mampu menikmati.