Menatap lengkung menawan bulan sabit malam ini, pemuda itu tersenyum getir. Berbeda dengan senyum lebarnya di bulan baru yang lalu. Kali ini lengkung senyumnya mengisyaratkan kegundahan yang dalam. Ia hanya merasa kalah. Selalu setiap 12 bulan terlewati, ia begini. Dan rasa itu semakin lama semakin menghujam.

Ia merasa telah kalah dalam cinta. Cinta yang dijanjikan Rabb-nya tercinta begitu saja terlalaikan olehnya. Ia mengharap kesejukan di balik menjaga dahaga dan lapar di terik siangnya. Ia mengharap kehangatan di balik dinginnya qiyam dan bersimpuh di dalamnya. Namun harap itu terkalahkan oleh nafsunya. Oleh tidur pulasnya.

Ia merasa telah kalah sebagai prajurit. Kalah telak dalam perangnya melawan nafsu. Boleh saja ia merasa telah menahan nafsu dari makan dan minum. Tapi kilat pedang nafsu lebih tajam dari itu. Dan pedang itu seolah menorehkan luka-luka tanpa disadarinya. Yang ia sadari, hatinya meronta perih.

Begitu heran dirinya akan orang-orang yang begita bersuka ria. Mengenakan pakaian baru. Menyulut petasan. Sejauh yang ia tau, sebagian dari mereka banyak yang tidak berpuasa. Bahkan ada yang tanpa rasa malu menghisap rokoknya. Seakan bangga, “Nih, gue gak takut Tuhan!”.

Begitu iri dirinya akan orang-orang yang wajahnya berseri. Wajah yang bersih oleh wudhu dan isak tangis di shalat malamnya. Terutama di 10 malam terakhir barusan.  Sedangkan ia, matanya hanya bisa menangis di Shalat Shubuh terakhir Ramadhan. Ketika sang Imam sesenggukan membaca Fushshilat ayat 30 dan seterunya. Entah ia menangis karna janji di ayat-ayat itu, atau penyesalan akan perpisahan dengan Ramadhan.

Menatap lengkung menawan bulan sabit malam ini, pemuda itu tersenyum getir. Tanpa tangis.

…..

“Itulah senandungku malam ini. hanya aku yang dapat memaknai nada-nadanya. Nada-nada tentang perpisahan & perjumpaan. Getirnya perpisahan. Sesaknya menanti perjumpaan. Semoga itu hanyalah bagian dari senandung rindu. Hanya aku yang mampu mendengar lirih senandungku itu.”

Advertisements

“Aakuuu bebaas!!!”, teriaknya. Lepaslah sudah ia dari belenggu yang mengekangnya dalam satu bulan penuh ini. Nyengir. Jingkrak-jingkrak. Walaupun ia risih dengan gema takbir yang membahana, tapi ia tetap merayakannya kebebasannya itu. Setidaknya, ada pesta kemilau dan ledakan percon yang juga tak kalah hebohnya dengan takbir.

“Allahuakbar…Allahuakbar…Allahuakbar… Laa ilaha illallahu Allahuakbar

Allahuakbar… Walillahilhamd. . .”

“psssiuuu…. duaarrr…!!! psssiuuu…. duaarrr…!!!”

Ia adalah setan. Entahlah, ia dari golongan jin atau manusia. Yang jelas, ia merasa terbelenggu selama bulan Ramadhan. Ia tersenyum puas. Walaupun terkekang selama satu bulan, tapi ia tidak melihat perubahan ke arah taqwa pada orang-orang itu. Mereka tetap kembali. Kembali mejadi pemuda yang menghamburkan uang, suka mabuk-mabukan, berjudi, durhaka. Kembali menjadi pejabat yang korup. Kembali menjadi wanita penggosip. Mereka benar-benar kembali pada dunianya.
(more…)

Tok.. tok.. tok…

“Assalamu’alaikum. . .”

Aku mencoba mengetuk pintu hatimu. Tapi tak kudengar jawab dari balik pintu itu. Entah, apakah kamu sedang  tak berada di sana, ataukah memang berat bagimu membukakan pintu untukku.

Memang, kesalahan dan khilafku sangat banyak. Terlalu banyak malah.

Ketika Allah membukakan lebar-lebar gerbang ampunan-Nya, maka tidak begitu dengan pintu maaf manusia. Karna gerbang ampunan-Nya dapat terbuka dengan kunci yang kita semua miliki, yaitu penyesalan dan taubat. Dan karna pintu maaf hanya dapat dibuka dari dalam oleh sang pemilik hati. Kunci itu berupa kelapangan dan keikhlasan yang hanya mampu disentuh oleh kesadaran dan ketulusan.

Tok.. tok.. tok…

“Assalamu’alaikum…”

Sekali lagi aku mencoba mengetuk pintu hatimu. Tak lama kemudian kudengar langkah-langkah kecilmu mendekati pintu ini. Tapi hanya mendekat.  Tanpa kudengar jawaban salam.  Tanpa membuka pintu itu sedikit saja. Itu memang hakmu. Karna hanya dirimu seorang yang memiliki kunci kelapangan dan keikhlasan untuk membukanya dari dalam sana.

“Aku tahu kamu ada di balik pintu ini,”, aku mulai bicara, “Dan aku tahu kesalahan dan kekhilafanku sangat banyak. Terlalu banyak. Baik yang kusadari atau tidak, baik yang kusengaja ataupun tidak.”

Aku bisa mendengar napas yang mendesah di balik pintu ini. Tapi masih tanpa kata-kata.

“Aku tahu, ketika mendengar suaraku, kamu akan kembali teringat setiap kata-kata  yang tajam, argumentasi yang menantang, kritikan yang pahit, dan canda yang menggores luka.”

“Aku tahu, ketika kamu nanti menatap mataku, kamu kembali akan teringat setiap pandangan sinis saat kamu memerlukan saran, setiap tatap acuh saat kamu butuh tempat berbagi, atau setiap sorot curiga saat kamu butuh kepercayaan.”
(more…)