Kemarin, tanggal 1 Mei atau biasa disebut sebagai May Day adalah hari yang kita kenal sebagai Hari Buruh Internasional. Pada tanggal tersebut para buruh seluruh dunia turun ke jalan. Menyuarakan aspirasi mereka. Menuntut hak-hak mereka.

Lalu hari ini, tanggal 2 Mei, kita memperingatinya sebagai Hari Pendidikan Nasional, yaitu tanggal lahir Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan kita di Indonesia.

Lalu, apa hubungan kedua hari tersebut? Saya mengambil benang merah dari keduanya dari keyword “pendidikan” dan “buruh”. Kata “pendidikan” tentu sangat erat kaitannya dengan “belajar”. Sedangkan “buruh” hampir mirip dengan “budak” . Buruh adalah istilah masa kini, dan budak adalah istilah masa lalu, bahkan budak tidak memiliki kemerdekaan dari tuannya seperti buruh (walaupun kemerdekaan itu sangat terbatas).

Jadi saya simpulkan, judul dari post kali ini “Belajar dari Seorang Budak dan Tuannya”.. (hehe.. maksa banget ya…)

Kemarin, saat buka twitter, saya membaca tweet menarik dari mas Salim.A.Fillah. Ada 21 tweet yang merangkai kisah ini. Kisah tentang seorang budak dan Tuan yang saling mempercayai. . . .

Ini setutur tentangĀ  buruh <tepatnya; budak>, di zaman ketika para pekerja mau mencerdaskan diri & para majikan sudi mendengar suaranya. Dia Mubarak. Namanya nan berkah mengalir jadi doa untuk kebun anggur yang dia jaga. Panen berlimpah sejak bulan pertama tugasnya.

Maka di bulan ketiga, si majikan meninjau kebun itu. “Mubarak!”, panggil sang tuan, “Ambilkan untukku setangkai anggur terbaik!”

Bergegas Mubarak memilih di antara sulur-sulur anggur; dipetiknya setangkai yang buahnya tampak paling kokoh, liat, & mengkilat. Diserahkannya anggur pilihannya itu pada sang majikan. Mengernyit sejenak, si tuan mencicipi sebutir. Dan benar! Masam kuadrat!
(more…)

Cinta adalah cara indah tuk beramal. Amal itu adalah sebuah kerja besar. Dan inti pekerjaannya adalah memberi. Seperti yang ditulis Anis Matta dalam Serial Cinta, para pecinta sejati hanya mengenal satu pekerjaan besar dalam hidup mereka: memberi. Terus menerus memberi. Dan selamanya memberi. Menerima? Mungkin, atau bisa juga jadi pasti! Tapi itu hanya efek. Efek dari apa yang mereka berikan.

Saya teringat akan sebuah kisah dari Cahaya Langit yang ditulis oleh Bobby Herwibowo. Sebuah kumpulan kisah nyata yang pernah melintas sebagai hikmah yang patut dipetik.

Seseorang berkisah bahwa ia pernah bekerja di sebuah perusahaan Yahudi. Ia sudah menjadi manusia yang kaya raya di usianya yang lagi belum mencapai 40 tahun. Lebih dari 200 negara sudah ia sambangi. Selama ini, harta dan seluruh kenikmatan dunia adalah tujuannya.

Namun dalam sebuah tugasnya di Maroko, Afrika Utara. Ia singgah di sebuah perkampungan muslim yang sederhana lagi bersahaja. Sebagai seorang muslim, kehadirannya di kampung itu disambut dengan baik oleh muslim di sana.

Ia dijamu makan, dan makanan untuk disantap pun sudah tersaji dihadapan. Namun tidak seorang pun mulai menyantap makanan dan ia pun belum lagi dipersilakan. Hingga seseorang datang ke dalam ruang makan lalu menyampaikan berita kepada tuan rumah dalam bahasa Arab. Usai itu, akhirnya ia pun dipersilakan untuk makan.

Saat menyantap hidangan itu, ia diberitahu oleh tuan rumah bahwa warga kampung muslim tersebut tidak akan pernah menyantap makanan, selagi mereka belum merasa yakin bahwa di luar sana tidak ada seorang pun yang kelaparan. Warga di dusun tersebut saling berbagi makanan antara satu rumah dengan yang lain. Dan orang yang datang sebelum santap makanan tadi, adalah pembawa kabar bagi tuan rumah yang menyampaikan bahwa ia sudah membagi makanan bagi penduduk kampung yang belum mendapat makanan.
(more…)