Sumpah Pemuda

Saya hanya berandai-andai. Seandainya suatu saat para pemuda terbaik negeri ini berkumpul pada 28 Oktober – seperti pemuda terdahulu pernah lakukan di tahun 1928 – untuk mengikrarkan kembali “Sumpah Pemuda”. Tentu ikrar ini sedikit direvisi. Bisa jadi disebut “Sumpah Pemuda II”(ini hanya ‘berandai-andai’ loh..). Mungkin akan begini bunyinya:

 

SUMPAH PEMUDA!

Kami pemuda dan pemudi Indonesia bersumpah!
Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan.

Kami pemuda dan pemudi Indonesia bersumpah!
Berbangsa satu, bangsa tanpa pembodohan.

Kami pemuda dan pemudi Indonesia bersumpah!
Berbahasa satu, bahasa tanpa pembohongan.

  (more…)

Advertisements

ashabul-kahfi-10

Tersadar akan carut-marutnya negeri ini, sesaat aku teringat kisah para pemuda yang disebut Quran sebagai ‘Ashabul Kahfi’.

Aku ingin juga tertidur seperti mereka. Tapi agak berbeda kisahnya. Jika mereka berlari dari raja karena iman. Maka dalam kisah ini, aku berlari dari “kenyataan” karena “kebingungan”. Jika mereka tertidur di dalam gua. Maka aku tertidur di “kamar” yang sedikit pengab.

Lalu saat aku terbangun, aku keluar untuk membeli makanan. Tapi suasana di luar sungguh berbeda. Sepertinya di sini jauh lebih berperadaban. Para pedagang di pasar terheran-heran melihat uang yang aku bawa. Mereka tidak bisa bertransaksi dengan lembaran kertas bertuliskan angka dan kata “rupiah” itu.

Salah satu pedagang berkata, “Saya tau uang yang anda bawa. Saya pernah membacanya. Itu adalah mata uang yang pernah digunakan sekitar 300 tahun yang lalu di sebuah negara yang disebut Indonesia. Salah satu negara pagan”.

“Mengapa anda sebut sebagai negara pagan? “, aku kebingungan.

“Anda tau bangsa pagan di masa jahiyah? Mereka membuat dengan tangan mereka sendiri Tuhan mereka. Lalu mereka memujanya. Lalu mereka meminta dan berharap padanya. Di lain kesempatan, mereka memakan sendiri apa yang mereka beri sebagai sesembahan pada Tuhan mereka itu. Dan mereka pun membuat banyak Tuhan.”

“Seperti itu juga negara itu. Tuhannya adalah sistem yang mereka buat sendiri. Berharap padanya. Berlindung padanya. Di lain keadaan, merubahnya menurut kepentingan pribadi dan golongan, atau bahkan untuk menjatuhkan orang maupun golongan lain. Itulah sebabnya, golongan-golongan yang kuat pasti merekayasa sistem masing-masing, Tuhan mereka masing-masing. ”

“Tapi Tuhan Semesta Alam adalah satu. Atas izin-Nya lah golongan yang benar akan menang.” Sambil tersenyum, pedagang itu menyelesaikan penjelasannya.

Sambil tersenyum juga aku menulis ini. Siapalah aku ini, berharap anugrah seperti pemuda Ashabul Kahfi itu. Tapi kita tetap harus berharap, agar Allah, Tuhan Semesta Alam mengizinkan negara ini dikelola oleh hamba-Nya yang adil dan bijak.

Jika aku terbangun besok, sepertinya, fitnah masih tetap berdengung di negara ini…

Ya Allah.. Selamatkan negeri ini.

Sungguh biadab bangsa zionis itu. Mereka mewarnai pergantian tahun baru mereka bukan dengan meluncurkan kembang api, tapi dengan meluncurkan roket dan rudal ke jalur Gaza. Mereka tidak menikmati percik api di langit, tapi kobaran api di permukiman penduduk.
Mereka lebih senang mendengar dentuman ledakan dan desingan peluru ketimbang tiupan terompet.
Sepertinya telinga mereka lebih memilih jerit tangis wanita dan anak-anak dibanding konser musik yang memuakkan. Bahkan mereka berpesta pora dengan daging manusia yang terbakar dan darah yang bercecer tertumpah.

Sungguh aneh bangsa ini. Mereka lebih memilih merayakan pergantian tahun umat lain. Mereka mewarnainya dengan pesta kembang api, konser musik, tiupan terompet, makan sate maupun jagung bakar semalaman suntuk. Begadang. Besoknya, mereka terpejam tanpa tenaga di kasur masing-masing. Tanpa manfaat. Hanya kesia-sian belaka.
Semoga mata mereka terbuka lebar-lebar.

1 Januari 2009