Info


The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

4,329 films were submitted to the 2012 Cannes Film Festival. This blog had 27,000 views in 2012. If each view were a film, this blog would power 6 Film Festivals

Click here to see the complete report.

Call of Duty (COD) tentu taka sing lagi bagi pecinta game FPS (First Person Shooting). Selain didukung grafis yang memukau, alur ceritanya yang apik juga sangat didukung oleh audio yang menghidupkan nuansa epik perang yang sedang berlangsung. Maka, tak heran, kita akan merasa seolah-olah menjadi aktor utama dalam setiap scene dramatisnya. Tentu saja, suasana World War III yang digambarkan dalam COD Modern Warfare 3 begitu terasa nyata.

Soundtrack dan Score COD seri Modern Warfare yang digarap oleh infinity Ward memang selalu ditangani oleh komposer kenamaan.  Hanz Zimmer, komposer besar penerima penghargaan Grammy dan Academy Award versi komposer film, pertama kali menggarap soundtrack dan score pada game, yaitu pada COD MW2. Film yang digarapnya seperti: Pirates of Carribean, Black Hawk Down, The Da Vinci Code, Gladiator, dll. Soundtrack COD MW3 kali ini ditangani oleh komposer yang tak kalah hebat: Brian Tyler. Beberapa hasil garapannya: Eagle Eye, The Expendables, The Final Destination, Fast & Furious, Fast Five, Need for Speed: The Run, Final Destination 5, dll.

Saya sudah berkali-kali googling untuk soundtrack COD MW3. Tapi kebanyakan malah ketemu link download berbayar. Yang bikin jengkel, ketika ketemu link gratisan, malah katanya “file not found”. Pernah juga mulai download, malah error dalam proses.

Untungnya saya ingat sebuah cara (walau agak repot), yaitu mengobrak-abrik isi folder  COD MW3. Perlu kesabaran untuk menjelajahi isi folder yang mencapai  13 Gb itu. Untung saja, komposisi foldernya tak jauh beda dengan COD sekuel sebelumnya(dulu saya juga melakukan hal sama pada COD MW2).

Oke, inilah caranya: (more…)

Tidak seperti game  Assassain’s Creed yang kental akan latar sejarah – perang salib ke-3 pada tahun 1191 (silahkan baca posting saya sebelumnya: Legenda Assassin di Balik Perang Salib) – sekuel selanjutnya, yaitu Assassin’s Creed II dan Assassin’s Creed Brotherhood serta Revelations – lebih berfokus pada figur tokoh utamanya. Walaupun juga berlatar sejarah, yaitu Italia zaman Renaissance, unsur sejarahnya lebih redup dibanding unsur figuritas seorang Ezio Audiore, sang tokoh utama dalam game ini.

Saya menyebut game ini sebagai sebuah novel virtual dengan sudut pandang orang ketiga pro-aktif (halah… istilah ngasal ^.^  – maklum, tokoh utamanya dimainkan oleh gamer.. hhe). Bayangkan saja, novel virtual ini dimulai dari kelahiran Ezio. Lalu cerita bergulir tentang keluarganya. Lalu konspirasi penangkapan ayah dan kedua saudaranya untuk dihukum mati karna dianggap berkhianat. Untung saja, saat penangkapan itu, Ezio sedang tidak di rumah, sehingga ia dapat lolos. Dimulai dari sini, dengan bimbingan dari pamannya, ia belajar untuk menjadi seorang Assassin, seperti ayahnya. Ceritanya berputar tentang pembalasan dendamnya yang juga mengungkapkan konspirasi dalam politik Italia.

Yang membuat novel virtual berlatar sejarah ini lebih hidup, selain suasana kota zaman Renaissance dengan grafis memukau, juga tak lepas karena adanya tokoh-tokoh sejarah di sekitar Ezio, di antaranya:

  • Rodrigo Borgia, atau lebih dikenal sebagai Paus Alexander VI. Karena berbagai konspirasi dan korup ia adalah musuh utama Ezio.
  • Cesare Borgia. Anak dari Rodrigo Borgia. Keras dan ambisius. Dalam Assassin’s Creed Brotherhood, ia yang menjadi musuh utama. Bahkan ayahnya pun mati di tangannya.
  • Leonardo Da Vinci. Semua orang kenal dengan nama ini. Seorang jenius dalam berbagai bidang. Ia yang membantu Ezio memecahkan kode-kode dan merancang senjata untuk Ezio.
  • Niccolo Machiaveli
  • dan masih banyak lagi.. (more…)

Hal paling kuhindari setiap Idul Adha, atau Hari Raya Kurban adalah menyaksikan saat-saat penyembelihan. Selalu setiap tahunnya, sehabis shalat Ied dan Khutbah, aku langsung pulang menghindarkan diri dari prosesi itu. Entah mengapa aku begitu tak tega melihat saat hewan-hewan kurban tersebut disembelih lehernya, darah segar mereka yang mengalir deras, tubuh yang kejang berontak, dan lenguhan menjelang kematian. Padahal aku tahu bahwa semuanya hanyalah demi berkah dan ridho Allah.

Lain halnya dengan seorang anggota parlemen wanita Belanda (lho… kok jauh banget ya nyasarnya…). Marian Theim, ketua Partai Pembela HAM di Belanda, yang juga anggota parlemen Belanda, meminta dibatasinya cara penyembelihan menurut tata cara agama di Belanda. Ia menganggap cara penyembelihan menurut ajaran agama merupakan sesuatu yang tidak ‘manusiawi’ dan menimbulkan ekses yang ‘tidak perlu’ bagi binatang.

Entah, pernyataannya tersebut hanya dikarenakan kepeduliannya kepada hewan atau ada kaitannya dengan propaganda dalam menyudutkan Islam. Kenyataannya, seiring dengan pesatnya grafik pertumbuhan Muslim di Eropa, semakin deras dan tajam juga Islam disudutkan oleh dunia barat. Memotong dan menyalah-artikan suatu ayat Qur’an dan Hadits merupakan salah satu jalan yang ditempuh untuk menyudutkan kita.

Coba perhatikan hadits Rasulullah tentang penyembelihan ini:

“Sesungguhnya Allah menetapkan ihsan (kebaikan) pada segala sesuatu. Maka jika kalian membunuh hendaklah kalian berbuat ihsan dalam membunuh, dan apabila kalian menyembelih, maka hendaklah berbuat ihsan dalam menyembelih. (Yaitu) hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya agar meringankan binatang yang disembelihnya.” (H.R. Muslim).

Kandungan hadits ini agaknya sulit untuk dijelaskan kepada orang Barat. Kalaupun mengerti dari maksud hadits di atas, para musuh Islam bisa menjadikannya celah untuk menyudutkan kita. Betapa tidak, di dalamnya terdapat ungkapan kata seakan-akan Allah memerintahkan kita untuk “membunuh”. Apalagi secara eksplisit disebutkan pengertian ”…tajamkanlah pisaunya…!” Bukankah ini menunjukkan bahwa umat Islam memang disuruh dan dilatih untuk membunuh dengan “kejam”.

Menurut mereka, cara penyembelihan yang paling ‘berperikemanusiaan, adalah dengan membuat hewan sembelihan tersebut tidak sadar sebelum disembelih. Metode yang dilakukan melalui cara pemingsanan dengan setrum, bius, maupun dengan cara -yang mereka anggap paling baik- memukul bagian tertentu di kepala ternak dengan alat tertentu pula. Alat yang digunakan adalah Captive Bolt Pistol (CBV). Dengan cara demikian, hewan yang disembelih dianggap tidak menderita kesakitan karena disembelih dalam keadaan tidak sadar.

Ketika kita disudutkan dengan penafsiran ‘nakal’ tentang hadits tadi maupun dengan rasa ‘manusiawi’ pada hewan sembelihan, lalu ditambah dengan sodoran metode yang mereka anggap sangat ‘berperikemanusian’ tadi, apa tanggapan kita? Apa argumentasi dan jawaban untuk meloloskan umat Islam ketika disudutkan seperti ini? Menolak tanpa bisa memberi argumentasi yang masuk akal atau menerima saja tuduhan itu dengan setengah hati, yang berarti ‘membenarkan’ tuduhan mereka itu? Apakah memang sangat sulit bagi kita yang beriman, untuk meyakinkan diri sendiri bahwa Syariat Islam adalah yang terbaik?

Alhamdulillah… Ada sebuah titik terang. Memang selalu ada jawaban dari setiap pertanyaan tentang kebenaran Islam. Selalu ada penguatan Allah dari setiap adanya usaha pelemahan dari musuh Dien-Nya yang mulia ini.

Di bawah ini adalah tulisan yang disadur dan diringkas oleh Usman Effendi AS.,dari makalah tulisan Nanung Danar Dono, S.Pt., M.P., Sekretaris Eksekutif LP.POM-MUI Propinsi DIY dan Dosen Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta:


(more…)

Assassin, sebuah kata yang mungkin tak asing lagi bagi kita. Para gamer tentunya tahu akan karakter dan kisahnya. Selain itu, kata-kata assassin sudah sering terdengar di media internet, televisi, ataupun majalah. Assassin adalah salah satu legenda yang kurang tercium masyarakat dunia di tengah berkecamuknya Perang Salib.

Saya menemukan beberapa literatur tentang ‘ninja’ timur tengah ini dari buku yang membahas Perang Salib, beberapa webpage, dan juga game Assassin’s Creed. Dari buku dan internet tentunya saya dapatkan informasi mengenai fakta dan berbagai asumsi tentang Assassin. Sedangkan dari game, saya mendapatkan literatur imajinasi visual yang kurang lebih dapat dipercaya, karena game ini didesain dan dikembangkan oleh tim multikultural dan agama. Ada beberapa benang merah antara literatur yang saya temukan dan alur dalam game ini.

Assassin sebenarnya adalah lafaz dan istilah dari barat yang bersumber dari kata Hasyasyin. Hasyasyin adalah kelompok pembunuh rahasia yang terkoordinir dan terlatih dengan baik. Sebelum terjadinya Perang Salib, Hasyasyin dibentuk oleh Hassan Ibn Shabah yang tersingkir dalam suksesi di Mesir pada tahun 1090. Kemudian ia menggalang kekuatan Syi’ah di Syiria untuk membunuh para tokoh dan pimpinan Muslim Sunni (Ahlus Sunah wal Jamaah). Syi’ah sendiri adalah paham yang telah melenceng dari ajaran yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW. Hassan juga membuat benteng Masyaf yang kuat di Alamut, sebelah selatan laut Kaspia dan utara Iran. Posisi benteng yang strategis ini mempermudah para hasyasyin melakukan penyusupan dan aksi pembunuhan mereka.
(more…)