Kulihat sekeping bulan merah di malam cerah..

Mungkin ia memerah karena terluka. Parah tampaknya ia menggantung sempoyongan di langit yang terbelah-belah.

Mungkin ia memerah karena marah.. Gerah tampaknya ia akan manusia yang suka menumpahkan darah dan menyebar fitnah.

Atau mungkin ia memerah karena sendirinya yang hening. Pening tampaknya ia setelah kawannya bebintang cahayanya makin kering.

Ah.. Aku coba berprasangka baik saja. . .
Mungkin bulan memerah karena malu. Tersipu ia karena tiap malam kutatap melulu.

Advertisements

Menatap lengkung menawan bulan sabit malam ini, pemuda itu tersenyum getir. Berbeda dengan senyum lebarnya di bulan baru yang lalu. Kali ini lengkung senyumnya mengisyaratkan kegundahan yang dalam. Ia hanya merasa kalah. Selalu setiap 12 bulan terlewati, ia begini. Dan rasa itu semakin lama semakin menghujam.

Ia merasa telah kalah dalam cinta. Cinta yang dijanjikan Rabb-nya tercinta begitu saja terlalaikan olehnya. Ia mengharap kesejukan di balik menjaga dahaga dan lapar di terik siangnya. Ia mengharap kehangatan di balik dinginnya qiyam dan bersimpuh di dalamnya. Namun harap itu terkalahkan oleh nafsunya. Oleh tidur pulasnya.

Ia merasa telah kalah sebagai prajurit. Kalah telak dalam perangnya melawan nafsu. Boleh saja ia merasa telah menahan nafsu dari makan dan minum. Tapi kilat pedang nafsu lebih tajam dari itu. Dan pedang itu seolah menorehkan luka-luka tanpa disadarinya. Yang ia sadari, hatinya meronta perih.

Begitu heran dirinya akan orang-orang yang begita bersuka ria. Mengenakan pakaian baru. Menyulut petasan. Sejauh yang ia tau, sebagian dari mereka banyak yang tidak berpuasa. Bahkan ada yang tanpa rasa malu menghisap rokoknya. Seakan bangga, “Nih, gue gak takut Tuhan!”.

Begitu iri dirinya akan orang-orang yang wajahnya berseri. Wajah yang bersih oleh wudhu dan isak tangis di shalat malamnya. Terutama di 10 malam terakhir barusan.  Sedangkan ia, matanya hanya bisa menangis di Shalat Shubuh terakhir Ramadhan. Ketika sang Imam sesenggukan membaca Fushshilat ayat 30 dan seterunya. Entah ia menangis karna janji di ayat-ayat itu, atau penyesalan akan perpisahan dengan Ramadhan.

Menatap lengkung menawan bulan sabit malam ini, pemuda itu tersenyum getir. Tanpa tangis.

…..

“Itulah senandungku malam ini. hanya aku yang dapat memaknai nada-nadanya. Nada-nada tentang perpisahan & perjumpaan. Getirnya perpisahan. Sesaknya menanti perjumpaan. Semoga itu hanyalah bagian dari senandung rindu. Hanya aku yang mampu mendengar lirih senandungku itu.”

Bolehkan malam ini aku berdialog denganmu? Tentang dirimu. Jika pun tak mungkin, cukuplah aku saja yang bicara. Cukup simak saja.

Di malam pertama kau muncul, aku hanya melihat segaris lengkung tipis di langit. Ada yang bilang itu disebut ‘hilal’. Ada juga yang menyebutnya ‘new moon’. Entah apa perbedaan keduanya, atau mungkin hanya beda istilah, aku tak perduli. Yang jelas, kau sadari atau tidak, aku mulai menyukaimu saat itu. Ditambah lagi, langit malam itu cukup cerah. Bebintang dan konstelasinya begitu menawan di sekeliling lengkung tipismu itu. Aku hanya berbisik, “Seandainya garis tipis lengkungmu tak setipis itu…”

Malam kedua dan seterusnya, aku bertambah menyukaimu. Lengkung cahaya tipis itu semakin menebal. Semakin bercahaya. Begitu harmonis cahanya itu dengan titik-titik cahaya konstelasi Scorpion, Centaurus, Crux, Libra, juga Lupus di malam itu. Menjelang fajar, orion, Taurus, bahkan Venus pun mengiringi kecantikanmu itu.

Mulai pada malam ke tujuh, mulai ada rasa benci padamu. “Kau terlalu egos!!”, begitu teriakku. Kau mulai kehilangan bentuk. Tidak lengkung lagi. Yang aku tak suka: kau mendominasi cahaya langit. begitu angkuhnya kau  di atas sana, hingga si Scorpion kehilangan capitnya. Bahkan beberapa konstelasi lain pun tampak absen pada malam itu. Di mana gerangan Centaurus, Crux, Libra, Orion, dan bebintang lainnya? (more…)