Ketika sebuah komputer masih berukuran sangat besar dan menghabiskan tempat yang sangat besar di sebuah ruang yang cukup luas, Bill Gates bermimpi setiap rumah memiliki komputer. Tentu ia awalnya hanya dicap sebagai pengkhayal gila.

Ketika dua orang bocah miskin, Ikal dan Arai bersekolah di tempat yang tidak layak disebut sebagai sekolah, di tempat terpencil nan jauh dari keramaian kota, apalagi keramaian geliat sumber pendidikan, bahkan waktu belajar mereka pun tersita oleh kerja keras untuk makan, mereka berani bermimpi untuk menginjakkan kaki di sorbone dan berkeliling dunia. Tentu mereka hanya dikira sebagai bocah-bocah pemimpi yang aneh.

Ketika manusia hidup dalam kejahiliyahan yang mendarah daging. Saat ritual pagan dan penyembahan kolot pada patung-patung berhala menjadi rutinitas, wanita direndahkan serendah-rendahnya hingga bayi wanita yang dikubur hidup-hidup dianggap menyelamatkan martabat keluarga, serta peperangan saudara antar kabilah manjadi hal yang biasa. Muhammad, dihadirkan di sana, di sebuah dataran hijaz yang menjadi kubangan sejarah, bahkan Romawi maupun Persia pun tak tertarik untuk menjajah tanah itu. Sang Rasulullah bermimpi agar manusia hanya menyembah Rabb yang satu dan berakhlak mulia. Tentu beliau dianggap sebagai orang gila.

Tapi itulah kekuatan mimpi. Kekuatan yang mampu mengepakkan seluruh potensi, menancapkan akar keteguhan hati, menghadirkan setiap kemungkinan dan pertolongan yang mampu menerbangkan mimpi itu, serta menguatkan diri untuk terus berdoa dan percaya.
(more…)

“Tanggal 14 Februari adalah sebuah hari duka untuk cinta. Warna pink sungguh tak tepat sebagai tema yang dipakai pada hari itu. Hanya hitam yang pantas. Karna hari itu lebih tepat dikenang sebagai hari berkabung atas kematian St. Valentine.”

Pemuda itu memulai penjelasannya dengan hati-hati. Tapi penuh antusias. Entah pesona apa yang dipancarkannya, sehingga hari ini menerima segunung coklat dengan beraneka bentuk dan ukuran. Tentu dengan kotak dan bungkus berwarna pink. Ia hanya seorang mahasiswa PPL berjaket kuning, almamater yang hanya dipakainya saat aksi turun ke jalan atau dipakai saat berperan sebagai guru PPL di SMA ini.

“Besok, tanggal 15 Februari, atau 12 Rabiul Awal, adalah sebuah hari yang lebih tepat untuk kita hayati. Warna pink ataupun putih pun tak sebanding sebagai tema kelahiran baginda Rasulullah Muhammad SAW. Karna ada jutaan warna berpendar di sana. Ada jutaan makna darinya. Bertepatan dengan kelahiran beliau, runtuhlah sepuluh balkon istana Kisra, padamlah api yang biasa disembah Majusi, dan runtuhnya gereja di sekitar Buhairah setelah gereja-gereja itu ambles ke tanah.”

Para siswi hanya manggut-manggut. Takzim. Entah karena terpesona akan penjelasan guru muda itu, atau terpesona akan sang guru muda itu sendiri. Ia hanya pemuda yang penampilannya sederhana. Sesekali jarinya memperbaiki letak kacamatanya. Rambutnya hanya disisir seadanya, dengan secuil minyak rambut, walaupun ia tak pernah pake shampoo. Dan postur tubunya bisa dibilang ’tidak tinggi’. Tapi tampak keramahan dan kebijakan dalam senyum lebar dua centinya. Tampak sorot keteduhan dari kedua matanya. Tegas suaranya, tapi lembut masuk ke hati. Tertawanya pun sangat khas. Mungkin itu yang membuat para seantero siswi SMA itu kesemsem padanya.

Kebetulan hari ini ia menyampaikan sambutan mewakili teman-teman guru PPL yang turut berperan sebagai Pembina salah satu rangkaian acara OSIS. Belumlah ia sempat bicara, para fans-nya sudah menghambur memberikannya kado coklat berbungkus pink. Mungkin ada ratusan. Awalnya ia bingung. Tapi ini adalah kesempatan untuk menjelaskan tentang Valentine. Juga Rasulullah. Intro tadi cukup berhasil. Mereka – terutama para siswi – tersihir oleh kata-katanya.

“Starting point berhasil”, gumamnya dalam hati, “Akan kulanjutkan dengan sejarah Valentine dengan versi yang mudah mereka cerna. Maklum, ada banyak versi tentang mitos ataupun sejarah tentang hari yang disebut ‘Hari Kasih Sayang’ ini.

“Pada abad ke-3 Masehi, disebuah Negara adidaya Romawi, kaisar yang berkuasa saat itu, Claudius II mengeluarkan dekrit yang melarang pernikahan. Ia memerlukan banyak tentara. Sedangkan ia menganggap pria yang sudah menikah tentu akan berat meninggalkan kekasih sekaligus istri mereka untuk berangkat ke medan juang.

Itu membuat gundah seorang pemuda. Ia bernama Lucas. Hatinya telah takluk pada seorang wanita. Ia jatuh cinta. Entahlah.. cinta itu datang begitu saja. Ia mencintai mata indah wanita itu. Hidung mancungnya. Bibir merahnya. Lesung pipinya. Dan kulit putih bersihnya. Ia menyebutnya sebagai ‘falling in the love in the first sight’. Mungkin lebih tepatnya disebut nafsu mata kali ya..

Dan ternyata cinta tak bertepuk sebelah tangan. Sang wanita – yang bernama Anne – juga jatuh cinta pada Lucas. Cinta itu merasuk ke dalam jiwanya. Ia mencintai tubuh gagah Lucas. Harta warisan orangtuanya. Baju mewahnya. Dan kuda perkasa yang selalu ditungganginya. Ia menyebutnya ‘endless love’. Mungkin lebih tepatnya disebut nafsu dunia kali ya..

Di belahan bumi yang lain. Di dimensi waktu yang berbeda. Seorang pemuda menyimpan rasa cintanya dalam hati. Hanya Allah dan dirinya lah yang tau kedalaman cintanya. Ia mencintai Fathimah. Putri Rasulullah SAW. Ketika Muhammad dilempari dengan batu dan kotoran oleh para musyrik Mekkah, Fathimah menangis melihat penderitaan ayahnya itu, sembari membersihkan luka dan kotoran di tubuh sang ayah. Lalu Fathimah kecil, tanpa takut berkata lantang sembari menunjuk ke arah hidung para pemuka Mekkah itu, “Wahai pemuka Quraisy! Siapa yang telah berani mengganggu bapakku!” Lantang. Menantang. Tapi tak seorang pun yang berani menghadapi gadis kecil itu. Tapi ada seorang pemuda yang hatinya bergetar saat itu. Mulai saat itu, cintanya pada Fathimah mulai bertunas. Pemuda itu adalah ‘Ali.
(more…)