Aku adalah rahasia Ar-Rahman yang tersimpan di tempat yang terjaga
Aku adalah keniscayaan Ar-Rahim bagi setiap insan yang menghamba
Dan aku adalah hadiah terbaik bagi hamba-Nya yang baik.
Namun aku adalah pemberian kehinaan bagi hamba yang terhina

Beberapa baris goresan kata-kata di atas adalah ‘Favourite quotations’ yang termuat di sebuah profil Facebook, yaitu “Rahasia Ar-Rahman”. Ia (sekarang) adalah karakter fiktif, yang keberadaannya adalah keniscayaan.  Sesuai namanya, ia masih sebuah rahasia. Namanya masih tersimpan rapat di tempat yang terjaga.

tentang status ’Aas Hasbee’ (FB saya) engaged to Rahasia Ar-Rahman’ yang saya buat sekitar sebulan yang lalu, ada berbagai tanggapan dan pertanyaan, mulai melalui chatting, sampe lewat SMS. (saya cuma jadi geli sendiri). Padahal, jika info di profilnya dan note-nya dibaca dengan seksama, semua pasti akan mengerti sendiri kok. ^.^

Saya sengaja membuat sendiri  account ‘Rahasia Ar-Rahman’ ini dan menjadikannya ‘engaged’. Setidaknya, ia bertujuan hanyalah utk meyucikan niat, membasuh hati, menguatkan jiwa, dan meluruskan ikhtiar… Tak lain sebagai pembatas diri. Perisai diri. Juga dalam mengingatkan saudara-saudariku fillah.

Saya hanya prihatin dengan teman-teman yang menempuh jalan ‘pacaran’. Juga teman-teman yang mengaku ‘Say No to Pacaran’, tapi menggunakan media lain untuk mencari pasangannya (terutama handphone dan internet). “Yang penting tak ada kontak fisik. Secara syar’i”, katanya. Kontak fisik memang tak ada. Tapi, tahukah kalian, ada kontak dan getar hati di sana. Ada jiwa yang beresonansi di sana.

Dikhawatirkan, cinta itu tumbuh di hati yang belum benar-benar siap. Siap untuk memberi.. menumbuhkan.. merawat..dan menjaganya. Dikhawatirkan, ia hanya akan menjadi benalu perusak tunas cinta pada Allah yang masih rapuh.. juga bibit cinta Rasulullah yang sedang berkecambah.

Padahal, siapapun itu, namanya pasangan hidup kita sudah tertulis di Lauh Mahfuzh, sebagai rahasia Ar-Rahman. Yang membedakannya adalah cara kita menjemputnya. Yang membedakannya adalah cara Allah memberikannya pada kita. Apakah Allah memberikannya dengan lemah lembut dan penuh kemulian. Ataukah dilempar ke wajah kita penuh murka dari-Nya, “Nih ambil! Memang dia buatmu kok!!!”. Na’udzubillah…

Ya.. yang membedakannya adalah berkah atau tidaknya. Yang membedakannya adalah diridhoi Allah atau tidak.
(more…)

Advertisements

Seorang pemuda tampak duduk tertunduk di keremangan kamarnya. Bingung. Gelisah. Takut. Harap. Cemas. Terlalu banyak rasa bercampur aduk. Terlalu banyak tanya berkecamuk. Di tengah kegalauannya, di dalam diamnya, ada pertengkaran rumit yang sedang terjadi.

“Sungguh, ini adalah kesalahan mata! Tak diragukan lagi. Karena ia adalah pintu masuk segala godaan nafsu dunia. Sungguh, ini memang kesalahan mata yang memandang!!!”, begitulah sang hati menyalahkan mata.

“Tapi kami hanya…”

“Kalian hanya tak bisa menundukkan dan mengalihkan pandangan. Itukah yang ingin kalian katakan?”, sang hati memotong pembelaan kedua mata. Ia tampak tersenyum puas. Merasa menang.

Lalu kedua mata yang nanar tadi berangsur menyorotkan pandangan dingin. Dengan sinis mereka berkata, “ Lihatlah dirimu wahai hati. Titik-titik hitam pada dirimu kini semakin menyebar. Semakin menyeruakkan kesan suram tanpa cahaya. Jika memang pria ini memiliki hati yang tak sekotor dirimu, tentu setiap pandangan matanya dapat dijaga. Tentu setiap pandangan kami sebagai matanya dapat ditundukkan.”

“Tapi bukankah semua tau bahwa ada ungkapan ‘dari mata turun ke hati’?”, sang hati mulai tersudut.

“Memang benar. Tapi hati kemudian yang memutuskan pandangan-pandangan berikutnya. Bila hati tunduk, maka mata juga tunduk.”, kilah kedua mata.

Sang hati terdiam sesaat. Sungguh telak argumen serangan balik itu.

Di sudut ruangan, pria itu tertunduk. Ia tampak linglung. Gusar. Bingung. Perdebatan antara hati dan matanya tadi tak diacuhkannya sama sekali. Sebelumnya mereka sempat menyalahkan nafsu. Tapi dengan sangat diplomatis, nafsu menerangkan bahwa ia adalah potensi yang membedakannya dengan malaikat. Jika dikelola dengan baik ia menjadi potensi kemajuan. Sedangkan jika tidak dikekang dan hanya mengikuti bisikan setan, ia menjadi sumber segala perbuatan mungkar.

Sang hati bingung. Memang ia salah. Kedua mata juga salah. Tapi ia benar-benar kalah argumen. Ia berusaha mencari celah lain untuk membela diri. Aha! Kebetulan ia teringat keberadaan setan di ruang itu. Sang setan tampak sedang bermalas-malasan. Berbaring dengan ditopang tangan kanannya. Sedang tangan kirinya sibuk menekan tombol benda kecil seperti handphone. Tampaknya ia sedang mengirim laporan kepada bosnya, atau mungkin sedang forward sms berita kegemilangannya ke teman-temannya. (atau mungkin sedang update status)

“Yang paling layak dipersalahkan adalah dia!” Sang hati menunjuk ke arah setan dan tentu mengagetkannya.

Tiba-tiba dipersalahkan, setan pun muntab, “Memang apa kesalahanku, wahai hati yang pekat?”
(more…)

Cinta adalah komposisi nada hati..
Ia adalah denting harapan
Ia adalah hembusan keakraban
Ia adalah getar kerinduan
Ia adalah ketuk kecemburuan

Cinta adalah harmoni nada hati..
Ia merendah
Lalu datar
Terkadang meninggi..

Ia punya tempo yang cepat
Juga melambat
Sesekali henti sejenak

Dengarkanlah!

Hanya hati yang akrab dengan Sang Pencipta cinta
yang mampu menikmati.