“Aakuuu bebaas!!!”, teriaknya. Lepaslah sudah ia dari belenggu yang mengekangnya dalam satu bulan penuh ini. Nyengir. Jingkrak-jingkrak. Walaupun ia risih dengan gema takbir yang membahana, tapi ia tetap merayakannya kebebasannya itu. Setidaknya, ada pesta kemilau dan ledakan percon yang juga tak kalah hebohnya dengan takbir.

“Allahuakbar…Allahuakbar…Allahuakbar… Laa ilaha illallahu Allahuakbar

Allahuakbar… Walillahilhamd. . .”

“psssiuuu…. duaarrr…!!! psssiuuu…. duaarrr…!!!”

Ia adalah setan. Entahlah, ia dari golongan jin atau manusia. Yang jelas, ia merasa terbelenggu selama bulan Ramadhan. Ia tersenyum puas. Walaupun terkekang selama satu bulan, tapi ia tidak melihat perubahan ke arah taqwa pada orang-orang itu. Mereka tetap kembali. Kembali mejadi pemuda yang menghamburkan uang, suka mabuk-mabukan, berjudi, durhaka. Kembali menjadi pejabat yang korup. Kembali menjadi wanita penggosip. Mereka benar-benar kembali pada dunianya.
(more…)

Tok.. tok.. tok…

“Assalamu’alaikum. . .”

Aku mencoba mengetuk pintu hatimu. Tapi tak kudengar jawab dari balik pintu itu. Entah, apakah kamu sedang  tak berada di sana, ataukah memang berat bagimu membukakan pintu untukku.

Memang, kesalahan dan khilafku sangat banyak. Terlalu banyak malah.

Ketika Allah membukakan lebar-lebar gerbang ampunan-Nya, maka tidak begitu dengan pintu maaf manusia. Karna gerbang ampunan-Nya dapat terbuka dengan kunci yang kita semua miliki, yaitu penyesalan dan taubat. Dan karna pintu maaf hanya dapat dibuka dari dalam oleh sang pemilik hati. Kunci itu berupa kelapangan dan keikhlasan yang hanya mampu disentuh oleh kesadaran dan ketulusan.

Tok.. tok.. tok…

“Assalamu’alaikum…”

Sekali lagi aku mencoba mengetuk pintu hatimu. Tak lama kemudian kudengar langkah-langkah kecilmu mendekati pintu ini. Tapi hanya mendekat.  Tanpa kudengar jawaban salam.  Tanpa membuka pintu itu sedikit saja. Itu memang hakmu. Karna hanya dirimu seorang yang memiliki kunci kelapangan dan keikhlasan untuk membukanya dari dalam sana.

“Aku tahu kamu ada di balik pintu ini,”, aku mulai bicara, “Dan aku tahu kesalahan dan kekhilafanku sangat banyak. Terlalu banyak. Baik yang kusadari atau tidak, baik yang kusengaja ataupun tidak.”

Aku bisa mendengar napas yang mendesah di balik pintu ini. Tapi masih tanpa kata-kata.

“Aku tahu, ketika mendengar suaraku, kamu akan kembali teringat setiap kata-kata  yang tajam, argumentasi yang menantang, kritikan yang pahit, dan canda yang menggores luka.”

“Aku tahu, ketika kamu nanti menatap mataku, kamu kembali akan teringat setiap pandangan sinis saat kamu memerlukan saran, setiap tatap acuh saat kamu butuh tempat berbagi, atau setiap sorot curiga saat kamu butuh kepercayaan.”
(more…)