OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sudah 25 tahun ya..
Sudah seperempat abad…

Jika umur ini adalah sebuah perahu yang kita tumpangi, maka ketika kutolehkan pandangan ke belakang, ternyata perahu ini hanya seperti bergerak sejauh 25 inci saja. Hanya bergeser sedikit saja dari dermaga yang kusebut “kelahiran”.

Saat kucoba mencelupkan wajah, aku sadar. 25 inci tadi begitu dalam. Tak terlihat dasarnya. Namun pekat oleh kotoran. Hitam memenuhinya hingga ke dasarnya yang tak terhitung. Tak terhitung ikan-ikan yang terluka bahkan sekarat di sana. Salah satu ikan yang sekarat itu, dengan sisa-sisa tenaganya, menghardik keras, “ini semua adalah dosa-dosamu!!”

Aku tersentak. Tersedak air yang asin bercampur pahit itu.

“Tuk..tuk..tuk”, tiba-tiba pinggiran perahu dipatuk angsa. Ada sepasang angsa berenang mengiringiku. Salah satunya berkata, “Walaupun dosa sedalam lautan, ingatlah, ampunan-Nya melebihi luasnya langit dan bumi”. Lalu dengan anggunnya ia terbang. Angsa yang satunya lagi menambahkan, “Lanjutkan saja pelayaranmu. di depan, samudera tak bertepi harus kau lalui. Bahkan bukan tak mungkin dirimu terbang mengangkasa menggapai semua mimpi-mimpi.” Lalu ia pun terbang tak kalah anggunnya.

Aku tersentak. Lalu tersadar.

Benar juga. Jika umur adalah sebuah perahu. Maka ia harus melaju. Bahkan bukan tak mungkin untuk mengangkasa.

Ternyata baru 25 tahun ya….
Baru seperempat abad. . . .

Met hari lahir, mama…

Maaf….Tidak ada kue tart…
Kami tahu …tidak ada kue yang semanis kasih sayangmu
Bahkan bila seluruh gula dan madu dijadikan padu
Tidak akan menandingi manis itu…

Maaf….Tidak ada pisau untuk memotongnya
Kami tahu…pisau itu tak setajam lidah kami
Lidah yang selalu mengiris, merobek dan menyayat kalbumu

Maaf….Tidak ada juga lilin yang dapat ditiup
kami tahu…cinta kami untukmu lebih redup daripada lilin yang kecil itu
Padahal cintamu pada kami melebihi terangnya sang matahari

Hanya selembar kain penutup aurat ini yang dapat kami beri
Kami hanya berharap mama selalu disayangi dan dikasihi-Nya