image

Kawan, aku sedang merancang sebuah rumah. Memang, sepertinya ini hanya sebuah proyek kecil. Tapi bagiku, ini adalah proyek terbesar dalam hidup.

Selagi masih kuliah dulu, aku mulai membayangkan konsep desainnya. Rumah yang kokoh. Nyaman. Indah dipandang. Di sana keceriaan dan masalah bertoleransi di dalam ruang pengertian. Di sana kerinduan dan perjumpaan berpadu dalam ruang kasih sayang. 

Rumah itu, walaupun dibanjiri nikmat dan harta takakan membuat pada Allah penghuninya lupa. Walaupun dibadai prahara dan fitnah takkan membuat iman penghuninya lemah. 

Sangat ideal bukan?

Seperti proyek yang lain, diperlukan kesiapan untuk pelaksanaannya. Diperlukan pemahaman yang lurus untuk merancangnya. Dan juga, perlu beberapa perizinan untuk merealisasikannya. 

Ada satu hal lagi. Ini yang membedakannya dengan proyek lain. Mutlak diperlukan seorang partner.Tidak lebih. Cukup sulit untuk mencari dan menemukannya memang. Tapi proyek ini takkan berjalan tanpanya. 

Dalam perancangannya, ada sebagian garis yang tidak bisa aku gores sendiri. Ada banyak detail yang hanya bisa dikerjakan olehnya. Belum lagi tentang anggaran. Semua harus dilakukan berdua.  Dalam pelaksanaannya, kami lah yang harus terjun di lapangan. Dimulai dari menyiapkan lahan. Lalu mengokohkan pondasi, menegakkan tiang – tiang strukturnya, hingga merangkai atapnya. Untuk finishing dan interiornya, mungkin sudah ada tambahan personil. 

Maka ada pertanyaan besar. Apakah aku siap melakukan proyek ini ? Apakah sang partner juga siap? 

Ya…Insya-Allah kami siap!

Advertisements