image

Saya ingin sedikit berbagi cerita saat bekerja. Ada (calon) klien yang mau membangun rumah. Saya tidak akan membahas terang desainnya, apalagi nilai proyeknya. Karna desain denahnya saja belum kelar, he he..

Kemarin saya diajak sang ibu (calon klien tadi) ke lokasi tanahnya. Cukup luas. Dua kapling dengan masing-masing luasnya 15×19 m2. Satu kapling sudah dibangun oleh anaknya yang lebih tua (tinggal finishing fasade saja), yang satu kapling masih kosong. Tanah inilah yang mau digarap rumah baru.

Yang menarik dan menginspirasi adalah rumah yang sudah ada itu. Saya diajak masuk sebagai referensi desain yang akan dibuat nanti. si Ibu berkata, “yang punya rumah ini orangnya ingat mati lho”. Saya hanya mengernyitkan dahi. Bingung. Tapi tak ambil pusing.

(more…)

Hujan deras menahanku cukup lama di mushola komplek ini, mendorongku masuk ke ruang perpustakaan kecil di sana. Lalu jemari dan mataku melirik sebuah Sirah Nabi Muhammad dan dengan lincahnya membuka lembar demi lembar hingga menuju ke kisah Perang Mu’tah.

Kisah perang paling tidak seimbang – 3.000 pasukan Muslim melawan 200.000 tentara gabungan Romawi – ini memang sudah lama kubaca. Tapi bersama dingin dan gemuruhnya hujan malam ini, ada hangat yang memeluk dan getar yang menelusup di dada ketika membaca kisah ini lagi. Kisah tentang pengorbanan. Kerinduan pada surga. Strategi yang brilian.

Dikisahkan bahwa Rasulullah mengutus 3.000 tentara pilihannya dalam ekspedisi militer ke Syam. Beliau menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai komandan pasukan, dan bersabda, “Apabila Zaid gugur, penggantinya adalah Ja’far bin Abi Thalib. Apabila Ja’far gugur, penggantinya adalah Abdullah bin Rawahah”.

Pasukan Muslim tak pernah membayangkan akan berhadapan dengan pasukan musuh yang jauh lebih unggul dalam jumlah seperti itu. Bahkan dari segi persenjataan, pihak musuh lebih unggul. Informasi yang didapat, Heraklius (Kaisar Romawi Timur) sudah siap dengan 100.000 pasukannya. Pasukan sebanyak itu masih ditambah lagi dengan pasukan gabungan dari Lakhm, Judzam, Balqin, Bahra, dan Balli sebanyak 100.000 pasukan. Total 200.000 pasukan. Rasionya, 1 pasukan muslim berbanding dengan 67 pasukan gabungan Romawi. (more…)

Tragedi Halte Tugu Tani – seperti itu kebanyakan orang menyebutnya – masih terlalu sesak untuk diingat. Sampai sekarang pemberitaan di berbagai media masih membahas berbagai sudut dari peristiwa naas di Jl Ridwan Rais, tepat di depan Kantor Pelayanan Pajak tersebut. Bayangkan… Sembilan orang meregang nyawa ditabrak sebuah laju 100 km/jam sebuah mobil maut yang dikendarai wanita pecandu narkotik. Hari yang cerah itu, ahad, 22 Januari 2012, saat seharusnya mereka menghiasinya dengan senyum lebar untuk berlibur, kematian datang begitu mendadak. Tak terduga. Menyesakkan. Mengguncang hati keluarga dan orang terdekat para korban. Menyentak nurani setiap orang yang mendengarnya. Empat orang sekeluarga yang jauh-jauh berlibur dari Jepara tercabut nyawa sekaligus. Seorang suami harus meninggalkan istrinya tanpa sempat melihat anak pertamanya dilahirkan. Juga sahabat yang sangat disayangangi dan orang-orang yang dekat di hati.

Ada sebuah video ‘recommended‘ yang muncul di halaman channel youtube saya. Saya jadi teringat dengan Firmansyah, salah satu korban yang meninggalkan istrinya yang baru setahun dinikahinya, yang sedang mengandung 7 bulan. Mungkin seperti itulah rasa kehilangan seorang istri. Begitu juga anak yang lahir tanpa seorang ayah. Hanya saja, bedanya, di video ini, sang suami sempat merekam pesan terakhir untuk anaknya yang akan lahir.

Izrail hanya menyapa kita. Selalu menyapa kita. Karena setiap kematian yang manusia saksikan dan dengarkan adalah sapaan lembut darinya. Mengingatkan bahwa cepat atau lambat perpisahan antara jasad dan jiwa manusia pasti terjadi.

“If I die tomorrow.. I’d be alright

because I belive… That after we’re gone..

The spirit carries on”

Saya teringat lirik “The Spirit Carries On“, sebuah lagu favorit dari band legendaris: Dream Theater. Lagu ini adalah sebuah renungan tentang kematian.

Tak banyak yang bisa saya bahas di sini. Renungkan saja tentang misteri yang pasti: kematian. Silakan renungkan sembari mendengarkan lagu tadi.

Sebenarnya, episode terakhir bukanlah akhir yang sebenarnya..

Ia adalah potongan-potongan penting yang menentukan awal selanjutnya, atau bahkan awal yang baru..

Ia adalah jalinan rantai terakhir yang tersambung ke jalinan rantai baru.

Jalinan yang tak akan pernah habis.

Tentu, episode terakhir adalah episode yang paling ditunggu-tungggu dalam sebuah serial atau cerita lainnya. Dalam episode itu, akan ada rasa yang tercampur manis. Ada kepuasan tersendiri yang membuncah-buncah. Akan ada sebuah kesimpulan akhir di sana. Entah itu akhir bahagia, sedih, atau bahkan akhir yang gantung. Walaupun, ada rasa berat karena merasa akan berpisah dengan cerita yang telah kita ikuti dari episode awalnya. Semua penikmat karya film maupun sastra pasti mengakuinya.

Oh ya.. aku menulis ini setelah semalam menonton episode akhir dari sebuah serial (hhe..) dan tepat pada tanggal 1 Muharram. Sebuah tanggal yang ditetapkan Khalifah Umar ibn Khaththab sebagai awal tahun Hijriyah. Momen hijrah dijadikan awal perhitungan dalam perhitungan tahun umat Islam itu sejatinya  adalah sebuah episode terakhir. Episode terakhir dari fase perjuangan yang diwarnai oleh air mata dan darah penindasan sebagai umat minoritas yang lemah. Setelah episode panjang dakwah Rasulullah selama 13 tahun menegakkan aqidah di Mekkah, akhirnya dimulai episode Negara Islam yang kuat dan menyebar ke seluruh dunia.

Episode tentang hijrah tadi tampaknya cukup menjelaskan maksud yang kutulis seperti di atas tadi:

“Sebenarnya, episode terakhir bukanlah akhir yang sebenarnya..

Ia adalah potongan-potongan penting yang menentukan awal selanjutnya, atau bahkan awal yang baru..

Ia adalah jalinan rantai terakhir yang tersambung ke jalinan rantai baru.

Jalinan yang tak akan pernah habis.”

 

 Agar lebih jelas akan kuberi penjelasan sedikit lagi.

Episode terakhir, yang kita tunggu, memang dibuat sebagai episode pamungkas dalam setiap cerita. Tapi sejatinya itu bukanlah cerita terakhir yang akan kita tonton/baca. Akan ada lanjutan cerita di sekuel atau season selanjutnya. Kita tau, sinetron Tersanjung yang berkembang sampai Tersanjung 6, serta Cinta Fitri yang entah sudah sampe season berapa (korban sietron pasti tau. Hha..). Kita juga tau kisah Harry Potter dan Twilight yang sekuelnya selalu ditunggu-tunggu. Dan masih banyak contoh yang lainnya.

Kalaupun cerita itu tak punya sekuel/season, setidaknya akan lahir cerita-cerita sejenis atau cerita lain yang terinspirasi dari beberapa potong cerita yang telah berakhir sebelumnya. Seperti kisah Romeo & Juliet serta Laila Majnun, banyak cerita cinta yang berkembang dari cerita mereka. Cerita tentang cinta dua dunia seperti The Little Mermaid tampaknya juga menginspirasi cerita Twilight, Inuyasha, dan juga My Girlfriend is a Gumiho. Cerita gumiho dan Naruto pun punya bentuk inspirasi yang sama: The nine Tailed fox (orang korea menyebutnya  gumiho; orang jepang menyebutnya kyuubi). Kalau dikasih gambaran tentang film seperti ini, pasti semua lebih mudah memahami. (more…)

Hari ini awan gelap juga menutupi langit kota. Sama seperti langit kemarin. Sama seperti kemarin lusa. Tak ada petir menyambar. Hanya saja angin mengabarkan bahwa awan akan menumpahkan air hujannya hari ini. Tak ada guntur bergemuruh. Hanya saja deru mesin mobil dan motor memenuhi suasana kota yang turut mengiringi diantarkannya seseorang menuju rumah barunya. Rumah yang kurang dari dua meter persegi. Rumah penantian hingga ditiupnya sangkakala oleh Israfil untuk berjumpa dengan alam keabadian.

Entah mengapa, lengkingan sirene mobil jenazah itu – yang berpadu dengan klakson dan deru mesin kendaraan pengantarnya –  terdengar seperti komposisi instrumen kematian. Seperti sapaan Izrail. Menggetarkan jiwa-jiwa yang raganya tak abadi. Menggetarkan jiwa-jiwa yang tak tahu kapan sang Malaikat Maut akan menjemputnya

Hari ini Izrail hanya menyapaku. Menyapa secara langsung. Menyapa semua orang di sini. Karena setiap kematian yang manusia saksikan, dan juga setiap prosesi pemakaman yang mereka jalankan adalah sapaan lembut darinya. Mengingatkan bahwa cepat atau lambat perpisahan antara jasad dan jiwa manusia pasti terjadi. Dan berita di televisi atau di internet tentang kematian mendadak seorang artis, seorang pejabat, eksekusi mati seorang penjahat, bahkan bencana dengan korban ribuan jiwa pun adalah bentuk sapaan dari malaikat maut. Itu bentuk sapaannya sapaan lewat media. Bukan sapaan secara langsung.

…..

Aku teringat dua hari sebelum hari ini. Aku berada di sebuah bangsal sederhana di sebuah rumah sakit umum. Keadaan langit juga sama. Awan gelap menutupinya. Tapi itu tak menyurutkan niatku untuk membesuk ibunda teman satu kampusku – yang di dalam sms – dikabarkan sedang koma.

Aku salut dengan ketegaran sahabatku itu. Yang terbaring di sana adalah ibunya. Orang yang paling layak dicintai setelah Allah dan Rasulullah. Namun ia tampak begitu tegar. Senyum hangatnya masih bisa diberikan pada kami yang membesuk. Tak banyak yang bisa kami lakukan selain menjabat tangannya erat lalu menepuk pundaknya. Juga, membaca beberapa halaman dari Al-Quran.

Lalu aku tersadar. Ini bukan sekedar sapaan Izrail. Lebih dari sekedar sapaan. Ia seolah berdiri diantara kami. Tepat di hadapanku. Di samping seorang ibu yang anaknya tulus membisikkan ke telinganya, “Laa ilaaha illallah..”
(more…)

Kemarin…adiknya sahabat lamaku meninggal


Ketika aku melihat jasad itu..

Terbujur kaku.beku..membisu…

Aku jadi sadar, bahwa cepat atau lambat

Aku akan seperti itu juga

Juga akan terbujur kaku..beku..membisu..

Yang ada hanya gelap yang pekat

Yang ada hanya rintih tangisan


Cepat atau lambat

Jasad ini akan dimandikan

Aku tahu air itu hanya bisa membersihkan kotoran di tubuh

Tapi takkan bisa membersihkan kotoron hati dan jiwa ini

Takkan bisa membersihkan setiap noda dan dosa yang kuperbuat


Cepat atau lambat

Jasad ini akan dishalatkan

Aku tahu shalat yang dilakukan mereka tidak akan mengganti shalatku

Shalat yang selalu dilalaikan

Shalat yang jauh dari khusuk

Shalat yang tidak layak diterima


Cepat atau lambat

Izrail akan menjemputku

Entah besok..hari ini..

Bahkan mungkin saat goresan tinta ini dibaca oleh kalian

Aku sudah dipanggil-Nya


121106