image

Seragamnya loreng-loreng. Gagah. Tertulis jelas bordiran di dadanya: TNI-AD. Dari wajah dan tubuhnya, benar-benar dia sudah sangat matang dari segi usia dan pengalaman lapangan.

Setelah perhitungan suara di tingkat Kecamatan tadi, dia duduk santai bersama seorang dari Kelurahan, Bawaslu, dan seorang kepala preman di daerah ini. Ngobrol ringan sepertinya. Saya pun diajaknya bergabung di majelis ‘ngobrol ringan’ itu.

Awalnya, seperti yang saya prediksi, hanya orolan ringan. Seputar serba-serbi piala dunia dan politik.

Lalu obrolan tidak lagi disebut ringan ketika masuk ke konflik Gaza. Obrolan semakin berbobot ketika dia menanyakan satu per satu ke kami, “Agama kamu Islam kan?”

Satu-satu ditanya. Dan satu-satu mengangguk. “Iya”.

Lalu dia melanjutkan, “Dalam Islam, tidak ada yang namanya doa penghapus dosa!”.

Saya sedikit bengong.

“Ya.. Tidak ada istilahnya doa penghapus dosa. Yang ada hanyalah doa pengampunan dosa. Itu berarti, setiap dosa dan kesalahan yang pernah kita perbuat, semuanya tertulis. Tercatat. Tak bisa dihapus.”

Sampai di situ saya tersentak. Apa yang dikatakannya benar.

“Yang ada hanya doa memohon ampun. Kita hanya bisa memohon dan berharap dosa-dosa kita diampuni-Nya. Tanpa bisa dihapus.”

Apa yang disampaikannya membuat saya sadar. Sadar untuk lebih menjauh dari dosa dan maksiat. Tidak bisa dihapus. Sadar untuk lebih memperbaiki dan memperbanyak istighfar. Mohon ampun padaNya.

Masih dalam suasana perhitungan dan
penjagaan suara pilpres, ia menambahkan;

“Bagi saya, syarat utama seorang pemimpin adalah ibadahnya. Ibadah yang sebenarnya. Bukan riya’ atau sengaja ditampak-tampakkan. Jika ibadahnya bagus, maka pemimpin itu sadar dosa. Sadar ada yang mengawasi. Seolah ada cermin yang selalu mengingatkan dosa yang akan dibawanya ke Tuhannya nanti..”

Advertisements