image

Sore tadi langit mendung menghitam. Awan berarak berkumpul dalam satu tujuan: hujan

Begitu juga hati kami. Mendung berisi duka. Peduli. Cinta. Juga geram. Berarak ratusan massa berkumpul dalam satu tujuan: solidaritas.

Tak lama, mendung berubah menjadi rinai. Rinai berlanjut gerimis.

Tak lama, aksi dimulai. Bendera-bendera berkibar. Spanduk telah terbentang. Lalu Tilawatul Quran. Saat itu langit mengirim rinai. Begitu juga hati kami, mulai rinai.

Kotak-kotak penggalangan dana menyebar ke beberapa titik jalanan. Orasi-orasi mewarnai. Membakar semangat. Menggetarkan nurani. Saat itu langit menjadi gerimis. Begitu juga hati kami, gerimis. (more…)

Advertisements

Sabtu sore, itulah waktu kosong yang kupunya pekan ini. Waktu inilah yang akan kumanfaatkan untuk membantu mbak Oci menyelasaikan artikelnya. Tak banyak, hanya mengambil beberapa foto yang mewakili judul artikelnya: “Fenomena Arsitektur Sungai Musi”. Sebuah bantuan yang menurutku sangat menyenangkan. Berjalan-jalan di sepanjang Sungai Musi dan Jembatan Ampera dengan sebuah kamera dan tas punggung besar, layaknya seorang turis.

Ba’da Ashar, aku langsung memacu motorku menuju Benteng Kuto Besak (BKB). Suasana di sana sangat ramai, mungkin karena waktu itu bertepatan dengan tanggal 14 Februari. Muda-mudi yang hanya bisa meniru kebiasaan bangsa lain sepertinya ikut meramaikan hari yang mereka sebut sebagai ‘hari kasih sayang’ tersebut. Selain itu, di Plaza BKB in ada kompetisi Jingle Dare yang diadakan oleh salah satu produk makanan Indonesia. Aku kurang peduli dengan keramaian itu.

Yang jelas, aku hanya mau mengambil foto-foto bagus. Setelah memarkirkan motor di antara motor-motor lain yang berjubel di sana, aku mulai melangkah sambil menghamparkan pandangan, mencoba mencari tempat dan angle terbaik untuk foto terbaik. Tampaknya plaza yang terletak di sisi kanan jembatan Ampera ini kurang cocok untuk sasaran bidik kameraku.

Selanjutnya aku mengayunkan langkah ke sisi kiri Ampera, Pasar 16 Ilir. Di sini sangat dipenuhi oleh orang-orang yang sibuk menjajakan dagangannya, orang-orang yang gigih menawar harga semurah mungkin, kerumunan orang-orang yang melingkari sebuah atraksi, dan masih banyak lagi. Dan satu lagi, para nakhoda tongkang, sejenis perahu kayu yang memakai mesin diesel, atau biasa disebut “ketek” oleh orang Palembang. Hampir dari semua nakhoda itu menawarkanku Musi Tour dengan ‘ketek’ mereka itu. Tampaknya aku memang seperti seorang turis, hehe… Tapi sayangnya di sinipun bukan tempat yang baik untuk kameraku berburu foto.
(more…)