image

“Ya Allah, jika apa yang ada pada diri saya sekarang membuat saya lalai padaMu, ambil saja ya Allah!”

Sama seperti dulu. Selalu. Wajah dengan senyum khas. Tatapan tajam tapi meneduhkan. Dan selalu, inspirasi yang menghujam dari lisannya.

Doa itu beliau panjatkan di salah satu malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Setelah puas tilawah berjuz-juz. Setelah qiyamulail di sepertiga malam terakhir. Bayangkan, betapa kuatnya tenaga doa itu menembus langit.

(more…)

Advertisements

image

“Doa itu harus detail”, begitu kata beliau. Setelah ngobrol tentang desain yang diinginkan, topik itu meluncur begitu saja.

Aku mengangguk-angguk saja. Tanda setuju.

“Saya dulu pas mau sidang skripsi rajin banget doa. ‘Ya Allah, berilah kemudahan dan kelancaran pada sidang nanti..’. Lancar memang. Mudah. Tapi hasilnya dapet nilai C..”. Sambil tersenyum kecut, Ibu Kepala Cabang itu melanjutkan cerita.

Aku nyengir. Ceritanya mirip dengan pengalaman pribadi.

“Jadi As, kalo doa, harus yang detail. Lengkap. Harusnya saya dulu lengkapi doanya : ‘dan dapet A ya Allah..'”, Lanjutnya.

Aku lalu menambahkan, “Tapi doa yang detail itu tidak mudah..”
(more…)

image

Kata siapa ‘kadal’ identik sebagai icon pengkhianat cinta?

Setidaknya persepsi itu berubah setelah membaca cerita itu. Singkatnya gini:

Rumah di jepang mempunyai dinding kayu yang berongga. Saat renovasi, seseorang membongkar tembok itu. Ia menemukan seekor kadal dengan kaki yang tertancap paku di situ. Dan masih hidup. Padahal, paku itu sudah tertancap di sana selama 10 tahun. Lalu, bagaimana si kadal mampu hidup di sana selama 10 tahun? Tanpa bisa bergerak ke mana pun. Tanpa bisa melihat dalam gelapnya rongga dinding.

Kemudian, tanpa tau dari mana arah datangnya, datang seekor kadal lain. Membawa makanan di mulutnya. Untuk kadal yang terperangkap tadi tentunya..

Subhanallah.. Ternyata ada kadal lain yang merawatnya!! Bayangkan, selama 10 tahun… Tak pernah menyerah. Tak pernah berhenti.

Lantas, bagaimana hubungan kita dengan orang-orang terdekat kita? Yang kita sebut sebagai orang-orang yang kita sayangi?

Semoga menginspirasi 馃槈

GALAU:聽ber路ga路laua聽sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran);
ke路ga路lau路ann聽sifat (keadaan hal) galau

Sampai sekarang, istilah 鈥済alau鈥 masih saja hangat terlontar, baik itu lewat status FB, tweets, sampe BBM-an. Padahal tren kata 鈥済alau鈥 ini 鈥 yang saya sadari 鈥 mulai menyeruak di pertengahan tahun 2011. Hebat.. lebih awet dari tren Harazuku dan Gangnam Style!!.

Saya memetik pengertian galau menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) di awal tulisan ini. Coba baca lagi. Coba pahami.Nah kan鈥 memahami pengertiannya saja bisa buat galau. Hhe..

Dalam perkembangannya, kata 鈥榤alang鈥 ini semakin disalah-artikan. Atau lebih tepatnya: dipersempit maknanya. Saya hanya mencoba memandang makna kata ini dalam perspektif yang lebih luas dan objektif, berusaha menyelamatkan kata yang sudah lama聽nge-tren聽ini dari esensi maknanya yang memang luas. (maaf kalau bahasanya sok ketinggian..)

Sedikit review pelajaran Bahasa Indonesia pas SMA dulu, bahwa ada kata-kata yang mengalami nasib perluasan makna dan penyempitan makna. Contoh, kata 鈥saudara鈥 dulu hanya untuk panggilan orang yang sekandungan. Tapi sekarang mengalami perluasan menjadi panggilan untuk orang-orang sebaya. Contoh kata yang mengalami penyempitan makna:聽sarjana. Dulu kata ini diperuntukkan pada orang-orang terpelajar. Tapi sekarang hanya untuk lulusan universitas. Bisa jadi, kata 鈥榞alau鈥 adalah salah satu kata yang mengalami penyempitan makna seperti di atas.

Well, menurut saya, galau adalah satu dari bentuk proses berpikir. Bahkan bisa disebut garis awal dari pemikiran-pemikiran yang penting. Tergantung sebijak dan sejernih apa kita berpikir.

Idea note_20140506_142429_01

Seperti gambar di atas, lingkaran bundar adalah pikiran kita. Gambar tanda panah 聽di luarnya adalah informasi. Sedangkan yang di dalam adalah prosesnya. (more…)

awan malam

Aku benci gumpalan awan di langit penghujung malam..
Betapa tidak, mereka menutupi cahaya bintang yang tanpa pamrih menghias malam..
Padahal ribuan, bahkan jutaan tahun ditempuhnya untuk sekedar jatuh di retina mata pencinta malam.

Aku benci gumpalan kabut prasangka di langit hati insan…
Betapa tidak, mereka menutupi cahaya kebaikan yang dengan ikhlas menghias amalan..
Padahal ribuan, bahkan jutaan doa berpijar mengangkasa untuk sekedar mampir menghias harapan.

Salut dengan kader muda satu ini…

Awalnya aku merasa geli begitu melihat dia shalat dengan tas laptop masih di punggungnya.

“Saking buru-burunya, mungkin sampai kelupaan meletakkan tas”, begitu kupikir.

Memang kami sama-sama makmum masbuq. Telat. Tapi aku lebih telat. Sebelum wudhu, aku ke toilet dulu setelah menitipkan tas laptop punggungku dengannya.

Cukup berat tas itu. Pasti cukup mengganggu saat rukuk. Apalagi sujud. Tas berat itu tergelincir. Kena kepala berkali-kali.

Sehabis shalat, kutanyakan saja, kenapa dia sampai shalat dengan tas masih d punggung.

“Jadi gini kak.. Ada sahabat Rasul yang dititipkan unta. Saat waktu shalat tiba, Sahabat itu tetap shalat sambil memegang tali kekang unta. Untuk mengimbangi gerak unta yang selalu bergerak ke kanan-kiri, tubuhnya terpaksa mengimbangi ke kanan-kiri juga. Demi menjaga amanah titipan unta tadi.”

Degg… Subhanallah. Sangat amanah kader muda ini. Meneladani Rasul dan Sahabatnya yang terkenal amanah.

Semoga Allah selalu menyayanginya. Dan semoga kita selalu mengambil pelajaran.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sudah 25 tahun ya..
Sudah seperempat abad…

Jika umur ini adalah sebuah perahu yang kita tumpangi, maka ketika kutolehkan pandangan ke belakang, ternyata perahu ini hanya seperti bergerak sejauh 25 inci saja. Hanya bergeser sedikit saja dari dermaga yang kusebut 鈥渒elahiran鈥.

Saat kucoba mencelupkan wajah, aku sadar. 25 inci tadi begitu dalam. Tak terlihat dasarnya. Namun pekat oleh kotoran. Hitam memenuhinya hingga ke dasarnya yang tak terhitung. Tak terhitung ikan-ikan yang terluka bahkan sekarat di sana. Salah satu ikan yang sekarat itu, dengan sisa-sisa tenaganya, menghardik keras, 鈥渋ni semua adalah dosa-dosamu!!鈥

Aku tersentak. Tersedak air yang asin bercampur pahit itu.

鈥淭uk..tuk..tuk鈥, tiba-tiba pinggiran perahu dipatuk angsa. Ada sepasang angsa berenang mengiringiku. Salah satunya berkata, 鈥淲alaupun dosa sedalam lautan, ingatlah, ampunan-Nya melebihi luasnya langit dan bumi鈥. Lalu dengan anggunnya ia terbang. Angsa yang satunya lagi menambahkan, 鈥淟anjutkan saja pelayaranmu. di depan, samudera tak bertepi harus kau lalui. Bahkan bukan tak mungkin dirimu terbang mengangkasa menggapai semua mimpi-mimpi.鈥 Lalu ia pun terbang tak kalah anggunnya.

Aku tersentak. Lalu tersadar.

Benar juga. Jika umur adalah sebuah perahu. Maka ia harus melaju. Bahkan bukan tak mungkin untuk mengangkasa.

Ternyata baru 25 tahun ya鈥.
Baru seperempat abad. . . .