“Aakuuu bebaas!!!”, teriaknya. Lepaslah sudah ia dari belenggu yang mengekangnya dalam satu bulan penuh ini. Nyengir. Jingkrak-jingkrak. Walaupun ia risih dengan gema takbir yang membahana, tapi ia tetap merayakannya kebebasannya itu. Setidaknya, ada pesta kemilau dan ledakan percon yang juga tak kalah hebohnya dengan takbir.

“Allahuakbar…Allahuakbar…Allahuakbar… Laa ilaha illallahu Allahuakbar

Allahuakbar… Walillahilhamd. . .”

“psssiuuu…. duaarrr…!!! psssiuuu…. duaarrr…!!!”

Ia adalah setan. Entahlah, ia dari golongan jin atau manusia. Yang jelas, ia merasa terbelenggu selama bulan Ramadhan. Ia tersenyum puas. Walaupun terkekang selama satu bulan, tapi ia tidak melihat perubahan ke arah taqwa pada orang-orang itu. Mereka tetap kembali. Kembali mejadi pemuda yang menghamburkan uang, suka mabuk-mabukan, berjudi, durhaka. Kembali menjadi pejabat yang korup. Kembali menjadi wanita penggosip. Mereka benar-benar kembali pada dunianya.
(more…)

Advertisements

Seorang pemuda tampak duduk tertunduk di keremangan kamarnya. Bingung. Gelisah. Takut. Harap. Cemas. Terlalu banyak rasa bercampur aduk. Terlalu banyak tanya berkecamuk. Di tengah kegalauannya, di dalam diamnya, ada pertengkaran rumit yang sedang terjadi.

“Sungguh, ini adalah kesalahan mata! Tak diragukan lagi. Karena ia adalah pintu masuk segala godaan nafsu dunia. Sungguh, ini memang kesalahan mata yang memandang!!!”, begitulah sang hati menyalahkan mata.

“Tapi kami hanya…”

“Kalian hanya tak bisa menundukkan dan mengalihkan pandangan. Itukah yang ingin kalian katakan?”, sang hati memotong pembelaan kedua mata. Ia tampak tersenyum puas. Merasa menang.

Lalu kedua mata yang nanar tadi berangsur menyorotkan pandangan dingin. Dengan sinis mereka berkata, “ Lihatlah dirimu wahai hati. Titik-titik hitam pada dirimu kini semakin menyebar. Semakin menyeruakkan kesan suram tanpa cahaya. Jika memang pria ini memiliki hati yang tak sekotor dirimu, tentu setiap pandangan matanya dapat dijaga. Tentu setiap pandangan kami sebagai matanya dapat ditundukkan.”

“Tapi bukankah semua tau bahwa ada ungkapan ‘dari mata turun ke hati’?”, sang hati mulai tersudut.

“Memang benar. Tapi hati kemudian yang memutuskan pandangan-pandangan berikutnya. Bila hati tunduk, maka mata juga tunduk.”, kilah kedua mata.

Sang hati terdiam sesaat. Sungguh telak argumen serangan balik itu.

Di sudut ruangan, pria itu tertunduk. Ia tampak linglung. Gusar. Bingung. Perdebatan antara hati dan matanya tadi tak diacuhkannya sama sekali. Sebelumnya mereka sempat menyalahkan nafsu. Tapi dengan sangat diplomatis, nafsu menerangkan bahwa ia adalah potensi yang membedakannya dengan malaikat. Jika dikelola dengan baik ia menjadi potensi kemajuan. Sedangkan jika tidak dikekang dan hanya mengikuti bisikan setan, ia menjadi sumber segala perbuatan mungkar.

Sang hati bingung. Memang ia salah. Kedua mata juga salah. Tapi ia benar-benar kalah argumen. Ia berusaha mencari celah lain untuk membela diri. Aha! Kebetulan ia teringat keberadaan setan di ruang itu. Sang setan tampak sedang bermalas-malasan. Berbaring dengan ditopang tangan kanannya. Sedang tangan kirinya sibuk menekan tombol benda kecil seperti handphone. Tampaknya ia sedang mengirim laporan kepada bosnya, atau mungkin sedang forward sms berita kegemilangannya ke teman-temannya. (atau mungkin sedang update status)

“Yang paling layak dipersalahkan adalah dia!” Sang hati menunjuk ke arah setan dan tentu mengagetkannya.

Tiba-tiba dipersalahkan, setan pun muntab, “Memang apa kesalahanku, wahai hati yang pekat?”
(more…)