Kepada langit malam di awal tahun…

 

Maaf.. aku tak ikut serta menyapamu

Bersama orang-orang yang membakar sumbu penyulut api

Yang melesat menyentak lalu mewarnai  angkasamu

Menemani indahnya gemerlap bebintang dan sinar bulan

 

Maaf.. aku tak ikut mengelu-elukanmu

Bersama orang yang saling berpegang tangan dan menari bersama

Sembari menyaksikan dentum dan lengkingan irama konser khusus untukmu

Sembari meniupkan terompet penghormatan yang riuh menyambutmu

 

Aku lebih memilih di sini

Mencoba membakar setiap sumbu-sumbu dosa dan khilaf

Berharap semua melesat memenuhi angkasamu

Membiarkan mereka meledak lalu berpijar gemerlap

Lalu seketika itu juga gugur ditiup angin dan ditelan awan

 

Aku lebih memilih di sini

Bersama secarik kertas usang dan sebatang pena

Menggenggamnya erat, lalu menari bersamanya

 

Meneruskan barisan puisi yang tak mengenal titik

Menuliskan nada-nada lagu rindu, lagu tentang mimpi

Sesekali menghentakkan ujung pena, mencari ritme

Lalu melanjutkan goresan gambar sketsa hidupku.. juga matiku

 

010112

Advertisements

Sungguh biadab bangsa zionis itu. Mereka mewarnai pergantian tahun baru mereka bukan dengan meluncurkan kembang api, tapi dengan meluncurkan roket dan rudal ke jalur Gaza. Mereka tidak menikmati percik api di langit, tapi kobaran api di permukiman penduduk.
Mereka lebih senang mendengar dentuman ledakan dan desingan peluru ketimbang tiupan terompet.
Sepertinya telinga mereka lebih memilih jerit tangis wanita dan anak-anak dibanding konser musik yang memuakkan. Bahkan mereka berpesta pora dengan daging manusia yang terbakar dan darah yang bercecer tertumpah.

Sungguh aneh bangsa ini. Mereka lebih memilih merayakan pergantian tahun umat lain. Mereka mewarnainya dengan pesta kembang api, konser musik, tiupan terompet, makan sate maupun jagung bakar semalaman suntuk. Begadang. Besoknya, mereka terpejam tanpa tenaga di kasur masing-masing. Tanpa manfaat. Hanya kesia-sian belaka.
Semoga mata mereka terbuka lebar-lebar.

1 Januari 2009