Kepada langit malam di awal tahun…

 

Maaf.. aku tak ikut serta menyapamu

Bersama orang-orang yang membakar sumbu penyulut api

Yang melesat menyentak lalu mewarnai  angkasamu

Menemani indahnya gemerlap bebintang dan sinar bulan

 

Maaf.. aku tak ikut mengelu-elukanmu

Bersama orang yang saling berpegang tangan dan menari bersama

Sembari menyaksikan dentum dan lengkingan irama konser khusus untukmu

Sembari meniupkan terompet penghormatan yang riuh menyambutmu

 

Aku lebih memilih di sini

Mencoba membakar setiap sumbu-sumbu dosa dan khilaf

Berharap semua melesat memenuhi angkasamu

Membiarkan mereka meledak lalu berpijar gemerlap

Lalu seketika itu juga gugur ditiup angin dan ditelan awan

 

Aku lebih memilih di sini

Bersama secarik kertas usang dan sebatang pena

Menggenggamnya erat, lalu menari bersamanya

 

Meneruskan barisan puisi yang tak mengenal titik

Menuliskan nada-nada lagu rindu, lagu tentang mimpi

Sesekali menghentakkan ujung pena, mencari ritme

Lalu melanjutkan goresan gambar sketsa hidupku.. juga matiku

 

010112

Met hari lahir, mama…

Maaf….Tidak ada kue tart…
Kami tahu …tidak ada kue yang semanis kasih sayangmu
Bahkan bila seluruh gula dan madu dijadikan padu
Tidak akan menandingi manis itu…

Maaf….Tidak ada pisau untuk memotongnya
Kami tahu…pisau itu tak setajam lidah kami
Lidah yang selalu mengiris, merobek dan menyayat kalbumu

Maaf….Tidak ada juga lilin yang dapat ditiup
kami tahu…cinta kami untukmu lebih redup daripada lilin yang kecil itu
Padahal cintamu pada kami melebihi terangnya sang matahari

Hanya selembar kain penutup aurat ini yang dapat kami beri
Kami hanya berharap mama selalu disayangi dan dikasihi-Nya

Huh… aku hanya terlelap dalam mimpi

Begitu betah di kasur keengganan

Begitu nyaman di bantal kemalasan

Tenggelam dalam keacuhan menatap dunia


Perlahan kubuka jendela

Sekat pemisah kamarku dan dunia yang sebenarnya

Perlahan-lahan

Lebar-lebar


Apa ini?


Bukan udara segar yang masuk memenuhi rongga dada

Tapi bau mesiu, darah, dan mayat yang menyengat

Pekat… menyesakkan


Bukan kicau burung yang bergetar menabuh gendang telinga

Tapi teriakan, makian, dan tangis yang mengiris

Memekakkan… memilukan


Bukan pandangan indah yang jatuh di retina

Melainkan kemurkaan bumi dikarenakan tangan manusia

Darah yang tertumpah hanya atas nama perbedaan

Isme-isme berselisih menancapkan doktrin dan janji

Pemimpin yang kekenyangan di atas kelaparan rakyatnya


Aku tersentak

Lalu terdiam


Bingung?


Takut…


Akankah aku terus terdiam di kamar ini?

Menikmati kehangatan bersama ketidakpedulian

Sampai kekelaman di luar mendobrak pintu kamar sempit ini


Tidak…


Aku harus bergerak

Keluar menatap realita

Ikut berjuang dalam barisan pemuda

Walaupun hanya dengan mata pena

Walaupun hanya dengan megaphone

Walaupun hanya dengan harapan

Walaupun hanya dengan keyakinan


140408

Kucoba menyelami kembali samudra memori

Ternyata sudah tiga masa kita lalui

Semakin aku menyelam…

Semakin aku tenggelam dalam masa-masa itu…

Saat kita tersenyum..tertawa..dan menangis bersama…

Semakin dingin lautan itu merasuk ke sumsum tulangku..

Semakin aku merasakan kehangatan itu lagi…

Kehangatan ukhuwah dan persahabatan…

Semakin aku terseret oleh arusnya..

Semakin aku sadar

Bahwa kalian adalah sahabat terbaik

Yang menghiasi samudra hidupku..

081006

ocean_000

Aku hanyalah sehelai kanvas
Kuas milik-Nya lembut membelaiku
Menggoreskan warna-warni kehidupan

Kadang merah…kadang biru
Kadang kuning…dan kadang hijau
Saat marah…saat tenang
Saat angkuh…dan saat tunduk

Ketika putih menggoresku
Kesejukan menghampiriku
Kedamaian hadir bersamaku
Saat itulah aku harus bersyukur

Ketika hitam menggoresku
Hanya ada duka yang pekat
Hanya ada air mata kepedihan
Saat itulah aku harus bersabar

Ya…inilah warna-warna yang kudapat
Inilah lukisan terbaik dari-Nya
Yang harus aku terima sepenuhnya
Agar aku menjadi mulia di mata-Nya
Tentu…Di mata Sang Pelukis Kehidupan

070706

terbang

Sayap ini begitu hitam
Pekat oleh debu dan kotoran
Sayap ini begitu basah
Rapuh oleh dingin yang merasuk

Layakkah aku kepakkan sayap ini?
Terbang menuju cahaya putih itu
Terbang menuju ridho dari-Mu

200706