_DSC1523

Ini kisah tentang gelombang kecil yang merindukan pertemuannya dengan pantai.

Seperti perjalanan ombak menemukan pantai: bermula dari gelombang kecil di suatu tempat di tengah samudera. Semakin lama, semakin membesar. Semakin jauh, semakin berenergi. Terus melaju walau tak tahu pantai mana yang akan ditemukannya.

Entah berapa ribu mil dilaluinya hingga menjelma menjadi ombak seperti itu. Tak terhitung ikan-ikan yang berenang dan berlompatan bersamanya. Karang-karang pun tak mampu menghalangi lajunya. Tak terhitung juga ia saksikan matahari terbit lalu terbenam lagi. Dan bulan beserta bintang setia menemani perjalanannya.

Suatu hari… Mungkin besok. Atau mungkin hari ini juga, sang ombak yang kian perkasa itu akan menemukan pantainya. Menyentuhnya. Dengan segala energi yang ia kumpulkan selama perjalannya. Dengan segala cerita yang akan ia bagi dengan pantainya itu. Memeluknya penuh rindu. Lalu meresap dan membasahi setiap butir pasirnya.

Lalu ada kisah lain tentang gelombang kecil yang merindukan pertemuannya dengan pantai. (more…)

Advertisements

Menatap lengkung menawan bulan sabit malam ini, pemuda itu tersenyum getir. Berbeda dengan senyum lebarnya di bulan baru yang lalu. Kali ini lengkung senyumnya mengisyaratkan kegundahan yang dalam. Ia hanya merasa kalah. Selalu setiap 12 bulan terlewati, ia begini. Dan rasa itu semakin lama semakin menghujam.

Ia merasa telah kalah dalam cinta. Cinta yang dijanjikan Rabb-nya tercinta begitu saja terlalaikan olehnya. Ia mengharap kesejukan di balik menjaga dahaga dan lapar di terik siangnya. Ia mengharap kehangatan di balik dinginnya qiyam dan bersimpuh di dalamnya. Namun harap itu terkalahkan oleh nafsunya. Oleh tidur pulasnya.

Ia merasa telah kalah sebagai prajurit. Kalah telak dalam perangnya melawan nafsu. Boleh saja ia merasa telah menahan nafsu dari makan dan minum. Tapi kilat pedang nafsu lebih tajam dari itu. Dan pedang itu seolah menorehkan luka-luka tanpa disadarinya. Yang ia sadari, hatinya meronta perih.

Begitu heran dirinya akan orang-orang yang begita bersuka ria. Mengenakan pakaian baru. Menyulut petasan. Sejauh yang ia tau, sebagian dari mereka banyak yang tidak berpuasa. Bahkan ada yang tanpa rasa malu menghisap rokoknya. Seakan bangga, “Nih, gue gak takut Tuhan!”.

Begitu iri dirinya akan orang-orang yang wajahnya berseri. Wajah yang bersih oleh wudhu dan isak tangis di shalat malamnya. Terutama di 10 malam terakhir barusan.  Sedangkan ia, matanya hanya bisa menangis di Shalat Shubuh terakhir Ramadhan. Ketika sang Imam sesenggukan membaca Fushshilat ayat 30 dan seterunya. Entah ia menangis karna janji di ayat-ayat itu, atau penyesalan akan perpisahan dengan Ramadhan.

Menatap lengkung menawan bulan sabit malam ini, pemuda itu tersenyum getir. Tanpa tangis.

…..

“Itulah senandungku malam ini. hanya aku yang dapat memaknai nada-nadanya. Nada-nada tentang perpisahan & perjumpaan. Getirnya perpisahan. Sesaknya menanti perjumpaan. Semoga itu hanyalah bagian dari senandung rindu. Hanya aku yang mampu mendengar lirih senandungku itu.”

“Hilal telah terlihat!!!”

Entahlah… Mendengar itu, tiba-tiba aku bergetar. Sudut mata tanpa terasa basah. Mungkin itulah yang disebut sebagai getar rindu. Mungkin juga getar kegentaran.

“Hilal telah terlihat!!!”, seperti itu yang kudengar. Tapi kabar itu berdesir seperti ada seseorang yang membisikiku, “Pengantinmu, orang yang kau rindu telah tiba!”

Apa yang dinanti dan dirindu begitu lama, akhirnya tiba. Jika memang kabar itu benar, ia telah benar-benar tengah memelukku hangat. Sungguh, aku rindu hangatnya tilawah yang berdengung di kamar-kamar, masjid, pasar, bahkan bus dan haltenya. Semuanya menikmatinya. Aku merindukan tarawih yang memenuhi masjid dan langgar kecil, juga manisnya Qiyamulail sebelum sahur bersama keluarga dan orang-orang tersayang. Manisnya berbuka dan pertemuan dengan Rabb…. Kerinduan akan kehangatan dan manis yang berbeda di Bulan Ramadhan.

“Hilal telah terlihat!!!”, memang itu yang kudengar. Tapi informasi itu bersahut-sahutan seperti ada yang berteriak, “Raja dan pasukannya telah terlihat di gerbang!” (more…)

Hujan deras menahanku cukup lama di mushola komplek ini, mendorongku masuk ke ruang perpustakaan kecil di sana. Lalu jemari dan mataku melirik sebuah Sirah Nabi Muhammad dan dengan lincahnya membuka lembar demi lembar hingga menuju ke kisah Perang Mu’tah.

Kisah perang paling tidak seimbang – 3.000 pasukan Muslim melawan 200.000 tentara gabungan Romawi – ini memang sudah lama kubaca. Tapi bersama dingin dan gemuruhnya hujan malam ini, ada hangat yang memeluk dan getar yang menelusup di dada ketika membaca kisah ini lagi. Kisah tentang pengorbanan. Kerinduan pada surga. Strategi yang brilian.

Dikisahkan bahwa Rasulullah mengutus 3.000 tentara pilihannya dalam ekspedisi militer ke Syam. Beliau menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai komandan pasukan, dan bersabda, “Apabila Zaid gugur, penggantinya adalah Ja’far bin Abi Thalib. Apabila Ja’far gugur, penggantinya adalah Abdullah bin Rawahah”.

Pasukan Muslim tak pernah membayangkan akan berhadapan dengan pasukan musuh yang jauh lebih unggul dalam jumlah seperti itu. Bahkan dari segi persenjataan, pihak musuh lebih unggul. Informasi yang didapat, Heraklius (Kaisar Romawi Timur) sudah siap dengan 100.000 pasukannya. Pasukan sebanyak itu masih ditambah lagi dengan pasukan gabungan dari Lakhm, Judzam, Balqin, Bahra, dan Balli sebanyak 100.000 pasukan. Total 200.000 pasukan. Rasionya, 1 pasukan muslim berbanding dengan 67 pasukan gabungan Romawi. (more…)

Wah wah wah…. Sudah lama nih gak nulis di blog. . .  Rindu.

Aku kehilangan momen menulis belakangan ini. Padahal tinta yang penuh inspirasi sudah semakin terisi. Padahal lembar-lembar  kosong semakin bertumpuk menunggu goresan tintanya.
Mungkin mata penanya yang belum tajam, atau mungkin semakin tumpul. Mungkin juga jari-jemari ini tidak memiliki ruh lagi untuk menggerakkan sang pena inspirasi. Bahkan, mungkin ide yang tercetus di otak memang tak dapat mengalir ke jemari dikarenakan aliran darah ini telah sesak dipenuhi oleh setan-setan yang betah akan bau amis maksiat yang terkandung di dalamnya.

Ah sudahlah… Aku tidak bermaksud mencari pembenaran. Aku hanya mencari celah kekhilafan diri.

Dengan banyak menulis tentu akan semakin tajam terasah mata penanya dan semakin tajam menggores makna. Dengan banyak menulis tentu ruh akan semakin terisi dan semakin kokoh memeluk jiwa para pembaca.
Tentunya setiap tinta yang mengalir akan menjadi amal yang senantiasa mengalir, sehingga nantinya sang penulis akan terkejut dengan aliran jariyah ketika hari perhitungan nanti. Tentunya lembar-lembar yang ditulis itu akan jadi saksi yang tak terhingga yang akan menghantarkan sang penulis bertemu dengan Rabb-nya di jannah kelak.

Yah.. Doakan saja saya bisa lebih aktif menulis. Apalagi sebentar lagi momen Ramadhan. Semoga keberkahan, ampunan, dan jaminan terhindar dari neraka dapat diraih dari semua amalan yang melejit, dan tentunya dari setiap goresan yang akan kutulis di bulan nan suci itu.

Maafkan juga semua salah dan khilaf,  setiap debu dan noda. Sehingga aku bisa terbang bebas kedalam atmosfer Ramadahan yang suci ini dengan sayap yang putih bersih menggapai ridho Ilahi.