image

“Ya Allah, jika apa yang ada pada diri saya sekarang membuat saya lalai padaMu, ambil saja ya Allah!”

Sama seperti dulu. Selalu. Wajah dengan senyum khas. Tatapan tajam tapi meneduhkan. Dan selalu, inspirasi yang menghujam dari lisannya.

Doa itu beliau panjatkan di salah satu malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Setelah puas tilawah berjuz-juz. Setelah qiyamulail di sepertiga malam terakhir. Bayangkan, betapa kuatnya tenaga doa itu menembus langit.

(more…)

Salut dengan kader muda satu ini…

Awalnya aku merasa geli begitu melihat dia shalat dengan tas laptop masih di punggungnya.

“Saking buru-burunya, mungkin sampai kelupaan meletakkan tas”, begitu kupikir.

Memang kami sama-sama makmum masbuq. Telat. Tapi aku lebih telat. Sebelum wudhu, aku ke toilet dulu setelah menitipkan tas laptop punggungku dengannya.

Cukup berat tas itu. Pasti cukup mengganggu saat rukuk. Apalagi sujud. Tas berat itu tergelincir. Kena kepala berkali-kali.

Sehabis shalat, kutanyakan saja, kenapa dia sampai shalat dengan tas masih d punggung.

“Jadi gini kak.. Ada sahabat Rasul yang dititipkan unta. Saat waktu shalat tiba, Sahabat itu tetap shalat sambil memegang tali kekang unta. Untuk mengimbangi gerak unta yang selalu bergerak ke kanan-kiri, tubuhnya terpaksa mengimbangi ke kanan-kiri juga. Demi menjaga amanah titipan unta tadi.”

Degg… Subhanallah. Sangat amanah kader muda ini. Meneladani Rasul dan Sahabatnya yang terkenal amanah.

Semoga Allah selalu menyayanginya. Dan semoga kita selalu mengambil pelajaran.


Kubuka folder ‘My Videos’ yang tersimpan rapi di drive E harddisc. Sekedar mencoba membangunkan motivasi dan inspirasi yang tampak masih terlelap bersama nyenyaknya tidur di dinginnya malam tadi. Setelah beberapa file video full inspirasi dan motivasi yang berdurasi relatif pendek kutonton, ada satu lagi file video yang melirik minta dibuka: 08-09 KalamQ. Entah apa nama file aslinya. Yang jelas, namanya kuganti seperti itu agar berada pada list paling awal di dalam folder. Agar mudah menemukannya. Sebuah file video nostalgia, yang pernah membuat bulu mata para ikhwan Kalam terbasahi. Sesenggukan malah.

Mungkin ini adalah sebuah video biasa. Tak ada efek audio visual khusus. Tak memiliki alur cerita yang apik. Tak diperankan oleh aktor kenamaan. Tapi bagi kami, video ini adalah memorial kebersamaan, kumpulan rindu yang tersimpan rapi, dan semangat berjuang yang teredam oleh waktu yang telah bergulir. Saat kami mulai menitikkan ukhuwah sejati.

Video ini sebenarnya dibuat oleh panitia Syuro Akbar Kalam untuk disaksikan di sela-sela acara. Sayang, karena agenda sidang yang padat, video ini tak sempat disajikan dalam acara. Aku bahkan baru menontonnya beberapa hari setelah didemisioner. Dan sungguh tak sopan kawan-kawan pengurus Kalam yang kusayangi itu. Mereka ternyata telah menontonnya duluan dan menontonnya sendiri-sendiri tanpa memberikan file yang penting ini kepadaku. Dari pengakuan beberapa dari mereka, ternyata mereka sampai-sampai menitikkan air mata saat nonton video itu. Sebuah pengakuan yang mungkin sangat sulit untuk para lelaki. Yaitu mengakui bahwa mereka bisa menangis juga. Setelah ku-copy file itu, kami menontonnya bersama-sama.

Ketika dibuka, maka seketika itu pula memorial itu hadir kembali. Memorial kebersamaan itu seolah baru saja terjadi kemarin. Begitu dekat. Seolah masuk kembali ke masa itu. Masuk melalui gerbang selebar layar 14 inch. Lalu rindu yang tersimpan rapi dalam dada mulai terbuka. Lalu membuncah. Menggetarkan hati yang masih akrab dengan cinta yang pernah kami bangun. Cinta yang tumbuh dari benih ukhuwah. Benih itu kami dapat dari berbagai rasa yang kami alami selama berjuang bersama. Sungguh indah memori-memori itu. Ingin rasanya aku masuk ke layar 14 inch itu dan memeluk erat kebersamaan yang sangat indah itu. Lalu memperbaiki berbagai kelalaian dan ketertundaan yang terlaku dalam masa itu.

Karena itu, sangatlah wajar mata kami tergenang oleh air mata. Sangatlah wajar bulu mata ini terbasahi olehnya. Sangat wajar pipi kami terbasahi sampai ke janggut tipis di dagu ini.
(more…)

Kawan, inilah jalan terbaik yang diberikan kepada hamba-Nya yang terpilih. Inilah jalan yang dirintis para Rasul Allah. Inilah jalan yang hanya dapat dilalui oleh orang-orang ikhlas dan berhati tangguh. Inilah jalan yang penuh rintangan, tikungan menajam, dan garis finish yang begitu jauh terasa. Inilah jalan kita!

Jangan menganggap jalan ini dapat dilalui dengan sangat singkat tanpa mengeluarkan tenaga yang berarti, layaknya seorang pembalap di lintasan balapnya. Janganlah seperti para pembalap yang jatuh tersungkur hanya karena melindas kerikil kecil dalam kecepatan tingginya. Hanya karena kerikil kecil, ia kehilangan keseimbangan, terjatuh, dan keluar dari lintasan. Bagaimana ia bisa melewati tajamnya jalan yang menikung, duri yang terhambur, dan rintangan yang tak terkira?

Janganlah seperti para pembalap yang terpelanting hanya karena bergesekan dengan rekan satu timnya. Hanya karena setitik salah pengertian tentang arah dan kecepatan, ia bersentuhan dengan sahabat satu lintasannya, dan “bruakk”… ia terpental, cedera parah, dan tidak dapat melanjutkan pertandingan lagi. Dan yang lebih parahnya, mentalnya sudah mati untuk melanjutkan karirnya.

Kawan, jalan ini tidak memerlukan ketergesaan, tidak berhambur kemudahan. Jalan ini hanya dapat dilalui oleh orang-orang yang ikhlas dan berhati tangguh.

Jadilah  seperti seorang pelari tangguh yang dapat menaklukkan jalan ini. Jadilah seorang pelari yang penuh oleh peluh-peluh amal, yang paru-parunya dipenuhi oleh napas keimanan. Walaupun lelah, walaupun sesak, ia akan tetap berlari bersama rekan-rekannya.

Seorang pelari tangguh takkan jatuh hanya karena menginjak kerikil. Seorang pelari tangguh takkan tersungkur hanya karena bersinggungan dengan rekannya. Tak peduli tikungan setajam apapun, tak peduli rintangan seberat apapun, ia akan tetap berlari menuju ujung jalan ini. Sebuah finish yang manis. Biarlah setiap butir debu di jalan ini menjadi saksi yang tak terbatahkan. Hingga setiap tetes peluh, setiap tarikan-hembusan napas, dan kelelahan akan dibayar Allah dangan ganjaran yang manis dan tempat istirahat abadi nan indah permai di Jannah-Nya kelak.

Di dermaga ini aku masih berdiri, masih menikmati udara-Mu di paginya umurku. Aku masih mendengar desiran laut yang naik-turun dan burung-burung bernyanyi riang membetuk simfoni zikir yang begitu indah.

Bahtera itu akan segera berangkat lagi.

Satu tahun aku pernah berlayar di bahtera itu. Bersama awak kapal yang sudah serperti saudara, kami arungi samudera biru dakwah di bawah birunya langit keridhoan-Mu. Tampak sang nakhoda baru sedang sibuk mengatur awak dan kelasinya. Bongkar muat muatan. Hmm… aku sangat mengerti tentang kesibukannya karena aku pernah merasakannya. Baru saja aku menyerahkan lencana nakhodaku kepadanya. Lihatlah para awak kapalnya, mereka sibuk di setiap kerja yang dipercayakan sang nakhoda.

(more…)

Satu setengah abad lalu, Rasullullah SAW tercinta memulai menanamkan benih dakwahnya. Di tengah tanah tandus Arab yang terkubang oleh sejarah, tersisih dari peradaban Persia dan Romawi. Sungguh sebuah perjuangan yang sangat berat dan besar untuk menumbuhkan benih tauhid di tanah itu. Tanah yang menghanguskan siapapun berdiri kokoh dengan imannya, diterpa oleh badai kesombongan kafir Quraisy, disengat oleh racun kedengkian yang mengalir di setiap aliran darah mereka.

Perlahan-lahan benih dakwah itu tumbuh dalam siraman tarbiyah Rasulullah, murabbi sepanjang masa, dimulai dari lingkaran halaqah di rumah Arqam bin Abi Arqam. Hingga benih itu menancapkan akarnya ke tanah, mengeluarkan benih yang akan melesat tumbuh tak tegoyahkan. Sampai akhirnya pohon dakwah menjulang, mengakar kuat di bumi Allah, dengan batang yang tak terguncang oleh angin sekencang apapun, dengan cabang-cabang dan dahan-dahan yang tak henti-hentinya tumbuh ke seluruh penjuru dunia, memberikan keteduhan bagi setiap jiwa, memberikan atmosfer yang melapangkan dada dan fikri setiap insan.
(more…)