_DSC1523

Ini kisah tentang gelombang kecil yang merindukan pertemuannya dengan pantai.

Seperti perjalanan ombak menemukan pantai: bermula dari gelombang kecil di suatu tempat di tengah samudera. Semakin lama, semakin membesar. Semakin jauh, semakin berenergi. Terus melaju walau tak tahu pantai mana yang akan ditemukannya.

Entah berapa ribu mil dilaluinya hingga menjelma menjadi ombak seperti itu. Tak terhitung ikan-ikan yang berenang dan berlompatan bersamanya. Karang-karang pun tak mampu menghalangi lajunya. Tak terhitung juga ia saksikan matahari terbit lalu terbenam lagi. Dan bulan beserta bintang setia menemani perjalanannya.

Suatu hari… Mungkin besok. Atau mungkin hari ini juga, sang ombak yang kian perkasa itu akan menemukan pantainya. Menyentuhnya. Dengan segala energi yang ia kumpulkan selama perjalannya. Dengan segala cerita yang akan ia bagi dengan pantainya itu. Memeluknya penuh rindu. Lalu meresap dan membasahi setiap butir pasirnya.

Lalu ada kisah lain tentang gelombang kecil yang merindukan pertemuannya dengan pantai. (more…)

Aku adalah rahasia Ar-Rahman yang tersimpan di tempat yang terjaga
Aku adalah keniscayaan Ar-Rahim bagi setiap insan yang menghamba
Dan aku adalah hadiah terbaik bagi hamba-Nya yang baik.
Namun aku adalah pemberian kehinaan bagi hamba yang terhina

Beberapa baris goresan kata-kata di atas adalah ‘Favourite quotations’ yang termuat di sebuah profil Facebook, yaitu “Rahasia Ar-Rahman”. Ia (sekarang) adalah karakter fiktif, yang keberadaannya adalah keniscayaan.  Sesuai namanya, ia masih sebuah rahasia. Namanya masih tersimpan rapat di tempat yang terjaga.

tentang status ’Aas Hasbee’ (FB saya) engaged to Rahasia Ar-Rahman’ yang saya buat sekitar sebulan yang lalu, ada berbagai tanggapan dan pertanyaan, mulai melalui chatting, sampe lewat SMS. (saya cuma jadi geli sendiri). Padahal, jika info di profilnya dan note-nya dibaca dengan seksama, semua pasti akan mengerti sendiri kok. ^.^

Saya sengaja membuat sendiri  account ‘Rahasia Ar-Rahman’ ini dan menjadikannya ‘engaged’. Setidaknya, ia bertujuan hanyalah utk meyucikan niat, membasuh hati, menguatkan jiwa, dan meluruskan ikhtiar… Tak lain sebagai pembatas diri. Perisai diri. Juga dalam mengingatkan saudara-saudariku fillah.

Saya hanya prihatin dengan teman-teman yang menempuh jalan ‘pacaran’. Juga teman-teman yang mengaku ‘Say No to Pacaran’, tapi menggunakan media lain untuk mencari pasangannya (terutama handphone dan internet). “Yang penting tak ada kontak fisik. Secara syar’i”, katanya. Kontak fisik memang tak ada. Tapi, tahukah kalian, ada kontak dan getar hati di sana. Ada jiwa yang beresonansi di sana.

Dikhawatirkan, cinta itu tumbuh di hati yang belum benar-benar siap. Siap untuk memberi.. menumbuhkan.. merawat..dan menjaganya. Dikhawatirkan, ia hanya akan menjadi benalu perusak tunas cinta pada Allah yang masih rapuh.. juga bibit cinta Rasulullah yang sedang berkecambah.

Padahal, siapapun itu, namanya pasangan hidup kita sudah tertulis di Lauh Mahfuzh, sebagai rahasia Ar-Rahman. Yang membedakannya adalah cara kita menjemputnya. Yang membedakannya adalah cara Allah memberikannya pada kita. Apakah Allah memberikannya dengan lemah lembut dan penuh kemulian. Ataukah dilempar ke wajah kita penuh murka dari-Nya, “Nih ambil! Memang dia buatmu kok!!!”. Na’udzubillah…

Ya.. yang membedakannya adalah berkah atau tidaknya. Yang membedakannya adalah diridhoi Allah atau tidak.
(more…)