image

Sore tadi langit mendung menghitam. Awan berarak berkumpul dalam satu tujuan: hujan

Begitu juga hati kami. Mendung berisi duka. Peduli. Cinta. Juga geram. Berarak ratusan massa berkumpul dalam satu tujuan: solidaritas.

Tak lama, mendung berubah menjadi rinai. Rinai berlanjut gerimis.

Tak lama, aksi dimulai. Bendera-bendera berkibar. Spanduk telah terbentang. Lalu Tilawatul Quran. Saat itu langit mengirim rinai. Begitu juga hati kami, mulai rinai.

Kotak-kotak penggalangan dana menyebar ke beberapa titik jalanan. Orasi-orasi mewarnai. Membakar semangat. Menggetarkan nurani. Saat itu langit menjadi gerimis. Begitu juga hati kami, gerimis. (more…)

 

_DSC1523

Ini kisah tentang gelombang kecil yang merindukan pertemuannya dengan pantai.

Seperti perjalanan ombak menemukan pantai: bermula dari gelombang kecil di suatu tempat di tengah samudera. Semakin lama, semakin membesar. Semakin jauh, semakin berenergi. Terus melaju walau tak tahu pantai mana yang akan ditemukannya.

Entah berapa ribu mil dilaluinya hingga menjelma menjadi ombak seperti itu. Tak terhitung ikan-ikan yang berenang dan berlompatan bersamanya. Karang-karang pun tak mampu menghalangi lajunya. Tak terhitung juga ia saksikan matahari terbit lalu terbenam lagi. Dan bulan beserta bintang setia menemani perjalanannya.

Suatu hari… Mungkin besok. Atau mungkin hari ini juga, sang ombak yang kian perkasa itu akan menemukan pantainya. Menyentuhnya. Dengan segala energi yang ia kumpulkan selama perjalannya. Dengan segala cerita yang akan ia bagi dengan pantainya itu. Memeluknya penuh rindu. Lalu meresap dan membasahi setiap butir pasirnya.

Lalu ada kisah lain tentang gelombang kecil yang merindukan pertemuannya dengan pantai. (more…)

apologize

Sepertinya inspirasi mempunyai siklus yang sama dengan hujan: kata-kata menguap dan terangkat lalu berkumpul padu di awan, hingga tumpah ruah di bumi.
Aku hanya mengumpulkan beberapa tetesnya saja dan menuliskannya di sini.

Ya, seperti hujan yang selalu turun selama ini, sesering itu pula ingin saya isi blog ini dengan tulisan dan tulisan. Hujan belakangan ini bahkan sampai-sampai menyebabkan banjir di ibukota dan banyak tempat, sebanyak itu pula seharusnya saya menulis dan menulis.

Maaf, sudah lama tidak posting. Terakhir nulis di blog ini, di awal November, saat jadwal musim hujan memulai perannya. Itu pun karna ‘paksaan‘ hujan, hingga tak ada pilihan lain selain menuliskan inspirasi ‘paksaan’ sang hujan saat berjam-jam berteduh (silakan baca postingan itu di sini).

Seperti manusia biasa lainnya, saya tak mau disalahkan akan ‘absen’ yang cukup lama ini. Maka saya meng-kambinghitam-kan kesibukan TA (Tugas Akhir) sebagai alasan utama dari ketidak-mampuan saya berkarya. Hehe. Hingga akhirnya, awal Februari ini saya sudah menyelesaikan studi S1 dan berhak menambahkan “S.T.” di belakang nama saya (walaupun jadwal wisudanya masih lama :))

“Nah lho.. ini sudah akhir Februari, Aas”, sisi bijak saya berbisik pada saya sendiri. “Benar juga.. Kurang tepat kalau TA sebagai alasannya. Seharusnya sudah ada tulisan baru setidaknya di awal bulan ini”, saya membenarkan bisikan sisi bijak saya tadi.

Saya juga sempat menyalahkan guru ngaji saya yang baru. Selama guru ngaji yang lama diganti oleh beliau, baru 2 kali beliau hadir sampai awal Februari ini. Padahal charging iman dan inspirasi harusnya saya dapatkan setiap minggunya. Maka sepertinya, kelesuan beramal bisa jadi disebakan oleh hal itu.

“Tapi 2 minggu berturut-turut ini beliau hadir terus kan As..”, sisi bijak saya berbisik lagi. “Hmmm.. benar juga, seharusnya 2 minggu ini saya full charged.”, saya membenarkan kembali bisikan itu. (more…)

Seperti hujan malam ini yang berlimpah ruah
Seperti itu juga limpahan nikmat-Mu yang berberkah
Hingga aku harus berteduh karenanya.

Mungkin seperti ini lah caraku menikmati hujan,
menikmati nikmat-Mu
Memperhatikan setiap bulirnya terjun menghujan
Sesekali mengadahkan tangan merasakan sejuk beberapa tetesnya saja
Sembari menyedekapkan tangan di dada, mengeratkan hangat.

Ketika tinggal rinai,
Barulah ku lanjutkan perjalanan

Ketika menderas lagi,
Berteduh lagi..

Cukup seperti itu…
Karena aku tau kadar ketahananku

Tak mampu jika semua bulir itu kuminum
Tak mampu juga kusimpan dalam bejana raksasa lalu kubawa
Tak mampu juga kuterobos hingga demam menggigil menyerang.

Mungkin seperti ini lah caraku menikmati hujan,
menikmati nikmat-Mu

Harapku, setelah ini akan kusaksikan lengkung menawan pelangi di langit-Mu

Harapku, setelah perjalan ini, aku pulang disambut handuk hangat dan secangkir kopi panas.

Harapku, setelah perjalanan panjang ini,
akan kusaksikan wajah-Mu
Pulang ke kampung surga abadi
Disambut bidadari dan jamuan hangatnya.

Hujan tumpah ruah dari langit sore kota ini. Airnya turun tak terkira. Jalanan basah. Pohon-pohon basah. Bahkan kios tampal ban kecil ini juga basah, tak mampu lagi melindungi orang-orang yang berteduh di bawahnya.

Aku jadi teringat pengalaman yang selalu kurasakan ketika hujan dan kutuliskan dalam sebuah narasi sederhana di blog-ku beberapa waktu lalu, Ketika Hujan Bercerita: ”Ketika hujan turun, selalu begitu. Gemericiknya, gemuruhnya, seolah membisikkan cerita padaku. Rinainya, tetes-tetes  beningnya yang berjatuhan dari langit, seolah memproyeksikan imaji cerita tersebut. Cerita tentang kenangan. Cerita tentang harapan. Cerita tentang cerita lainnya.”

Tapi kali ini sedikit berbeda. Hujan membisikiku untuk lebih menikmati keberadaannya lebih dalam. Bukan sekedar cerita dari gemericik dan gemuruhnya. Bukan sekedar pemandangan menakjubkan akan tetes beningnya yang berkah turun dari langit. Lebih dari itu. Ia mengajakku untuk terjun memanjakan semua indra.

Okelah.. aku turuti ajakannya. Sudah terlanjur kehujanan. Berteduh di sini pun akan tetap basah. Kusimpan handphone dan dompet ke dalam tas yang sudah aman dengan raincover. Lalu rapikan jaket. Dan, whusssh… kupacu motor bersama hujan yang semakin menderas.

Benar memang.. Sensasinya beda. I do like it.

Hujan langsung membasahiku secara total. Entah mengapa aku melupakan rasa dingin. Yang ada hanyalah rasa membuncah yang tak terkira. Lebih menyenangkan dibanding  saat aku dulu mandi hujan di bawah pancuran air saat masih berseragam putih-merah dulu. Lebih mengasyikkan dibanding saat aku memacu sepeda menembus hujan seperti saat masih berseragam putih-biru dulu. Berteriak riang, sambil berlomba untuk memuncratkan becek pada sepeda lain di belakang. Lebih seru dibandingkan saat aku berjalan dengan seragam putih-abu-abu yang basah kuyup sembari menengadah menikmati titik-titik hujan menyentuh wajahku. Dan lebih hangat dibanding saat kami berjalan bersama, juga sambil bercerita dan menikmati hujan…  atau saat aku bersepeda mengiringimu berjalan sambil bercerita dan menikmati hujan membasahi seragam kita.. (more…)

image

Ketika hujan turun, selalu begitu. Gemericiknya, gemuruhnya, seolah membisikkan cerita padaku. Rinainya, tetes-tetes beningnya yang berjatuhan dari langit, seolah memproyeksikan imaji cerita tersebut. Cerita tentang kenangan. Cerita tentang harapan. Cerita tentang cerita lainnya.

Pernah hujan bercerita padaku tentang kita yang basah kuyup sepulang sekolah. Aku di atas sepeda. Kau berjalan kaki. Tapi sepedaku seirama dengan langkah kakimu. Entahlah, tak terpikir untuk berteduh waktu itu. Kita menikmati guyuran hujan. Semua anak-anak juga menikmatinya. Sesekali menengadahkan tangan mencoba menggenggam hujan, sesekali mengulurkan lidah mencoba menikmati dinginnya hujan masuk ke korongkongan. Tak peduli seragam basah. Tak peduli sepatu sekolah basah. Biarlah.. toh, besok libur sekolah. Kupikir teman-teman juga berpikir yang sama.

Ceritanya memang hanya sebatas itu. Tapi siklus hujan tak berhenti. Saat seragam dan sepatu kita dijemur, titik-titik air yang ada di sana diangkat matahari bersama cerita di dalamnya. Lalu mereka bertemu dengan cerita-cerita lainnya di awan. Ketika hujan, saat aku mendengar gemericik atau gemuruhnya, juga saat aku melihat tetes-tetes dalam rinai ataupun derasnya, saat itu lah hujan menceritakan cerita itu padaku. Cerita tentang kenangan. Cerita tentang harapan. Cerita tentang cerita lainnya.

(more…)


Lagi-lagi hujan tercurah dari langit-langit kota Palembang Darussalam, membasahi kota tua itu, dan menghentikan aktivitas bepergian sebagian warganya. Aku juga termasuk warga yang terpaksa harus berteduh tersebut. Tidak bisa tidak, karena tidak diragukan lagi, mengendarai motor dengan diguyur hujan seperti ini akan membawa sang pengendara basah kuyup. Dan tentunya, yang paling dikhawatirkan adalah basahnya juga laptopku ini, lalu rusak. Tentu, hal itu akan menghambat proses menulis dan mendesain.

Cukup. Sudah terlalu panjang intronya.


Hari ini lagi-lagi aku diajarkan oleh orang – yang mungkin – selalu dipandang sebelah mata oleh orang-orang Palembang pada khususnya, dan penduduk dunia pada umumnya. Dia adalah seorang tukang parkir. Benu namanya, seorang bocah tukang parkir.

Sehabis shalat zhuhur, sembari berteduh di bawah atap Masjid Agung Palembang, perut ini berontak ingin dipenuhi haknya. Sangatlah manusiawi, karna memang ini sudah masuk jadwal makan siang. Ditambah lagi, aku baru sampai dari perjalalan sejauh 32 km dari kampus.

Begitu hujan mulai mereda, aku langsung berinisiatif mengganjal perut dengan model ikan (makanan khas Palembang) yang gerobaknya terparkir di bawah pohon yang cukup rindang. Lalu tak jauh dari situ, aku melihat bocah tukang parkir itu sibuk merapikan barisan motor sambil mengelap jok-jok motor yang basah terguyur hujan. Kalau tukang parkir yang ‘tidak baik’, biasanya hanya muncul ketika pemilik motor hendak mengambil kembali motornya, lalu menyodorkan tangan meminta uang parkir. Tapi tidak dengan bocah itu. Aku belum melihat ada orang yang hendak mengambil motor. Tapi bocah itu dengan semangatnya memainkan lap lusuhnya untuk membersihkan jok-jok motor yang pemiliknya pun ia tak kenal yang entah berapa lama lagi markir di situ. Di sini aku diajari bocah itu tentang etos kerja. Tentang totalitas dalam bekerja.
(more…)