Sabtu sore, itulah waktu kosong yang kupunya pekan ini. Waktu inilah yang akan kumanfaatkan untuk membantu mbak Oci menyelasaikan artikelnya. Tak banyak, hanya mengambil beberapa foto yang mewakili judul artikelnya: “Fenomena Arsitektur Sungai Musi”. Sebuah bantuan yang menurutku sangat menyenangkan. Berjalan-jalan di sepanjang Sungai Musi dan Jembatan Ampera dengan sebuah kamera dan tas punggung besar, layaknya seorang turis.

Ba’da Ashar, aku langsung memacu motorku menuju Benteng Kuto Besak (BKB). Suasana di sana sangat ramai, mungkin karena waktu itu bertepatan dengan tanggal 14 Februari. Muda-mudi yang hanya bisa meniru kebiasaan bangsa lain sepertinya ikut meramaikan hari yang mereka sebut sebagai ‘hari kasih sayang’ tersebut. Selain itu, di Plaza BKB in ada kompetisi Jingle Dare yang diadakan oleh salah satu produk makanan Indonesia. Aku kurang peduli dengan keramaian itu.

Yang jelas, aku hanya mau mengambil foto-foto bagus. Setelah memarkirkan motor di antara motor-motor lain yang berjubel di sana, aku mulai melangkah sambil menghamparkan pandangan, mencoba mencari tempat dan angle terbaik untuk foto terbaik. Tampaknya plaza yang terletak di sisi kanan jembatan Ampera ini kurang cocok untuk sasaran bidik kameraku.

Selanjutnya aku mengayunkan langkah ke sisi kiri Ampera, Pasar 16 Ilir. Di sini sangat dipenuhi oleh orang-orang yang sibuk menjajakan dagangannya, orang-orang yang gigih menawar harga semurah mungkin, kerumunan orang-orang yang melingkari sebuah atraksi, dan masih banyak lagi. Dan satu lagi, para nakhoda tongkang, sejenis perahu kayu yang memakai mesin diesel, atau biasa disebut “ketek” oleh orang Palembang. Hampir dari semua nakhoda itu menawarkanku Musi Tour dengan ‘ketek’ mereka itu. Tampaknya aku memang seperti seorang turis, hehe… Tapi sayangnya di sinipun bukan tempat yang baik untuk kameraku berburu foto.

Kemudian kudaki anak tangga yang ada di kaki Jembatan Ampera. Kususuri sepanjang jembatan yang panjangnya lebih dari satu kilometer itu. Hmm, aku menemukan tempat dengan angle yang sangat baik di sini. Tampak jelas semua pemandangan dan kegiatan di tepi maupun di tengah sungai. Great!

Menuruni anak tangga Ampera di seberang lain dari sisi sungai, aku mendapati suasana yang begitu kontras. Di seberang ini, jauh lebih sepi, kurang tertata rapi,kumuh, dan “astaga”, pesing! Tapi itu hanya tepat di sekitar kaki jembatan. Sedikit menjauh, kita akan mendapatkan suasana yang lebih baik. Bahkan menurutku lebih baik dari di seberang sana, karena di sini tidak sesak oleh hiruk pikuk keramaian.

Ada satu hal yang membuatku tersentak. Kulihat dua gadis kecil sedang mengais-ngais sisa pembangunan mencari kayu. Kayu-kayu itu mereka masukkan ke dalam karung. Untuk apa kayu-kayu itu? Selintas aku berpikir kayu sebagian dijual dan sebagian dipakai untuk masak. Bodohnya aku ini. Ini kan bukan zaman Sangkuriang atau Ande-Ande Lumut. Masih adakah yang menggunakan kayu untuk masak? Bahkan kebijakan pemerintah baru-baru ini tentang konversi minyak tanah ke gas elpiji. Kutanya saja ah, apa salahnya.

“Untuk apa kayu-kayu itu dek?”

“Untuk masak, kak…”, jawab salah satu dari mereka dengan polosnya.

Aku benar-benar tersentak. Aku bingung. Apakah aku terlempar ke zaman Sangkuriang? Kulemparkan pandang ke arah Jembatan Ampera. Jembatan itu tidak dibangun di zaman Sangkuriang. Aku sadar, aku masih di zaman yang benar, tidak tersedot lubang hitam waktu dan terlempar ke zaman yang salah.

Aduhai Allah, masih ada orang-orang yang begitu melarat di kota metropolis ini. Tampaknya pemerintah harus mendahulukan konversi dari kayu bakar ke minyak tanah, setelah itu barulah dicanangkan konversi minyak tanah ke gas elpiji. Tentu untuk makan saja mereka sangat susah. Tak terbayangkan olehku betapa berbunga-bunganya hati mereka yang terpancar dari wajah polos kecil mereka ketika ada orang-orang yang berbaik hati menjadi orang tua asuh, menjadi donatur, sekedar mengajak makan malam, atau bahkan sekedar memberi selembar lima ribu rupiah.

Aku melanjutkan langkah kaki menyusuri tepi Sungai Musi. Mengambil gambar-gambar terbaik lagi menarik. Melangkahkan jejak ke sisi satu ke sisi satunya lagi. Hari itu, bukan hanya foto yang kudapat, tapi semua hikmah dari setiap sisi Ampera dan Musi yang mewakili kehidupan di Kota Palembang ini. Jujur saja, sedari dilahirkan sampai usiaku yang hampir berkepala dua ini, aku belum pernah mengitari Ampera dan Musi seperti ini. Aku baru sadar, betapa indah kota kelahiran dan tempat aku dibesarkan ini , Palembang.

Advertisements