Aku menelusuri jalan itu. Di antara remang-remang permulaan malam, ketika matahari hampir menarik seluruh sinarnya dan rembulan mengintip di balik awan. Kaki terus menapak, lunglai. Sedangkan kedua mata ini, dengan seksama memperhatikan setiap sudut jalan yang memang tidak punya lampu jalan, hanya dibantu cahaya lampu teras rumah di sepanjang jalan.

Sekantong plastik jingga yang kucari. Isinya hanya bungkusan rapi dari Koran. Ya..hanya itu. Tidak lebih. Bahkan isinya pun aku kurang tahu.

Seperti biasa, setiap pulang dari kampus, dengan penat dan lelah yang memuncak – mengingat jarak kampus ke kota sekitar 32 km – adalah hal yang wajar bila mahasiswa tertidur di bus. Bangku paling depan, samping kiri sopir dekat jendela adalah salah satu tempat favoritku di bus. Selain mempunyai view yang istimewa, dashboard bus yang ada di depan bangku sangatlah fungsional. Aku bisa meletakkan berbagai instrumen perkuliahan, mulai dari map, tabung gambar, sampai jaket sekalipun. Kantong plastik jingga itu aku letakkan di situ. Dan aku tertidur.

Begitu cerobohnya aku ini! Kantong itu tertinggal. Rasa sesal berkecamuk. Bersalah. Panik. Merasa begitu berdosa. Ini bukan masalah seberapa berharga atau mahalnya isi yang ada di dalam plastik itu. Tapi ini mengenai setetes hidayah dan amanah. Ini menyangkut niat untuk berubah dan menolong. Tapi aku telah merusaknya.
(more…)

Advertisements