GALAU: ber·ga·laua sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran);
ke·ga·lau·ann sifat (keadaan hal) galau

Sampai sekarang, istilah “galau” masih saja hangat terlontar, baik itu lewat status FB, tweets, sampe BBM-an. Padahal tren kata “galau” ini – yang saya sadari – mulai menyeruak di pertengahan tahun 2011. Hebat.. lebih awet dari tren Harazuku dan Gangnam Style!!.

Saya memetik pengertian galau menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) di awal tulisan ini. Coba baca lagi. Coba pahami.Nah kan… memahami pengertiannya saja bisa buat galau. Hhe..

Dalam perkembangannya, kata ‘malang’ ini semakin disalah-artikan. Atau lebih tepatnya: dipersempit maknanya. Saya hanya mencoba memandang makna kata ini dalam perspektif yang lebih luas dan objektif, berusaha menyelamatkan kata yang sudah lama nge-tren ini dari esensi maknanya yang memang luas. (maaf kalau bahasanya sok ketinggian..)

Sedikit review pelajaran Bahasa Indonesia pas SMA dulu, bahwa ada kata-kata yang mengalami nasib perluasan makna dan penyempitan makna. Contoh, kata ‘saudara’ dulu hanya untuk panggilan orang yang sekandungan. Tapi sekarang mengalami perluasan menjadi panggilan untuk orang-orang sebaya. Contoh kata yang mengalami penyempitan makna: sarjana. Dulu kata ini diperuntukkan pada orang-orang terpelajar. Tapi sekarang hanya untuk lulusan universitas. Bisa jadi, kata ‘galau’ adalah salah satu kata yang mengalami penyempitan makna seperti di atas.

Well, menurut saya, galau adalah satu dari bentuk proses berpikir. Bahkan bisa disebut garis awal dari pemikiran-pemikiran yang penting. Tergantung sebijak dan sejernih apa kita berpikir.

Idea note_20140506_142429_01

Seperti gambar di atas, lingkaran bundar adalah pikiran kita. Gambar tanda panah  di luarnya adalah informasi. Sedangkan yang di dalam adalah prosesnya.

Pikiran manusia adalah sebuah tempat dengan pintu masuk yang sangat banyak tak tehitung. Tapi hanya memiliki sedikit saja pintu keluar. Begitu banyaknya informasi yang masuk ke otak kita. Informasi baik maupun buruk. Informasi penting ataupun sampah. Informasi bermanfaat atau mungkin merugikan. Semuanya masuk deras. Mirip dengan efek rumah kaca: semua kalor yang masuk mengendap. Sulit keluar. Semua informasi yang masuk ini tidak mungkin dibiarkan mengendap. Tugas otak lah untuk mengelolanya. Mensintesanya.  Mengelola semua lintasan informasi itu untuk menuju beberapa jalur yang lebih sistematis dan terarah. Mensitensa semua bentuk informasi menjadi beberapa pola yang lebih padu dan berbentuk. Mengeluarkannya ke pintu output yang disebut gagasan dan keputusan.

Proses pikiran kita dalam mengelola ataupun sintesa informasi itu ke dalam bentuk gagasan dan keputusan itulah yang disebut dengan GALAU. Boleh sepakat. Boleh juga tidak.

Pernah saya dengar  istilah gini: galau tingkat kabupaten, galau tingkai provinsi, bahkan galau tingkat nasional. Kebanyakan orang memberi tingkatan galau ini berdasarkan separah apa galau yang dialami seseorang. Tapi ketika kita memahami galau sebagai proses berpikir seperti yang saya jelaskan di atas – tentu tergantung sebijak dan sejernih apa proses berpikir itu, maka semakin tinggi tingkat galau, semakin besar efeknya bagi dirinya dan sekitarnya.

Misalnya saja  nih, ada seorang mahasiswa yang galau akan kapan ia akan menyelesaikan sarjananya. Maka, seluruh proses berpikirnya adalah bagaimana menemukan judul yang tepat. Bagaimana mendapatkan data yang lengkap. Bagaimana menyusun skripsi yang matang. Hingga ia melewati sidang skripsinya dengan hasil memuaskan. Itu adalah galau tingkat personal

Lalu, ketika seorang figur publik ingin dipilih sebagai kepala daerah. Maka ia akan melakukan usaha terbaiknya agar dipilih. Pencitraan. Lobby. Bantuan sosial. Itu galau tingkat daerah/provinsi. Hanya saja, entah ia menjadi pemimpin yang baik atau tidak, sangat dipengaruhi sejernih apa niatnya dari awal.

Ada juga galau dengan dengan output salah kaprah. Freak. Banyak contoh pemuda pemudi yang putus cinta, atau cintanya ditolak. Apa outputnya: narkoba, bahkan bunuh diri. Minimal mogok makan. Itu galau tingkat basement. Negatif.

Kita mungkin sangat hapal sejarah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Karena kegalauan akan disegerakannya Indonesia merdeka, para pemuda lah yang menculik para proklamator ke Rengasdengklok untuk merumuskan kemerdekaan itu. Itu adalah galau tingkat nasional.

Bagaimana galau tingkat internasional, bahkan mungkin tingkat alam semesta? Silahkan telusuri saja kisah para tokoh-tokoh sejarah dunia. Seperti Napoleon yang menyatukan seluruh Eropa. Seperti Genghis Khan yang menyatukan seluruh suku di Mongol hingga menggemparkan dunia. Termasuk kisah para Rasul dan sahabat. Seperti Nabi Ibrahim dengan proses berpikir dengan iman tentang Tuhan, hingga meluluhlantakkan seluruh patung berhala, juga saat diperintahkan menyembelih putrannya. Seperti juga Rasulullah yang ditemui Jibril di gua Hira untuk menerima ayat pertama, “Bacalah! Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan..”

Jadi, ketika kita merasa galau, syukurilah. Karena otak kita masih mampu berpikir, memproses dan mensintesa informasi menjadi gagasan. Ketika kita disebut galau, maka tesenyum saja, sambil berbisik, “Semoga galau ini menghasilkan gagasan bermanfaat dan produktif!”.

Oya, satu hal lagi. Ketika output gagasan dan ide baik itu dihasilkan, maka tentu yang harus segera kita lakukan adalah “Take Action.”

Memang selalu ada persimpangan antara gagasan dan action, yaitu jalan terus ke action atau evaluasi. Dalam perjalanan itu, ada proses lagi yang disebut ”gelisah”.  Pembahasan tentang proses berpikir ini insyaAllah akan dilanjutkan ke tulisan edisi sebelumnya.

Masih takut GALAU? Hadapi saja kawan…

Advertisements