image

Saya ingin sedikit berbagi cerita saat bekerja. Ada (calon) klien yang mau membangun rumah. Saya tidak akan membahas terang desainnya, apalagi nilai proyeknya. Karna desain denahnya saja belum kelar, he he..

Kemarin saya diajak sang ibu (calon klien tadi) ke lokasi tanahnya. Cukup luas. Dua kapling dengan masing-masing luasnya 15×19 m2. Satu kapling sudah dibangun oleh anaknya yang lebih tua (tinggal finishing fasade saja), yang satu kapling masih kosong. Tanah inilah yang mau digarap rumah baru.

Yang menarik dan menginspirasi adalah rumah yang sudah ada itu. Saya diajak masuk sebagai referensi desain yang akan dibuat nanti. si Ibu berkata, “yang punya rumah ini orangnya ingat mati lho”. Saya hanya mengernyitkan dahi. Bingung. Tapi tak ambil pusing.

Rumah ini cukup luas. Terutama ruang tengah dan dapurnya. Ruang tengahnya sekitar 8×6 m2 tanpa sekat dengan ruang tamu yang lebarnya 3×4 m2. Jadi kesan luasnya sangat terasa. Sedangkan dapurnya juga sangat luas, sekitar 8×3 m2.

Yang cukup aneh adalah dinding pemisah antara ruang tengah dan dapur. Ada 2 pintu di sana. 1 pintu dengan 2 daun pintu, dan pintu satunya lagi pintu biasa dengan 1 daun pintu. Saya berpikir, untuk apa 2 pintu yang berbeda untuk menghubungkan 2 ruangan? 1 pintu tentu lebih efisien. Ditambah lagi,katanya, untuk menuju ke dapur, kami menggunakan pintu yang kecil. Sedangkan pintu yang besar, yang berdaun pintu dua hanya dibiarkan terkunci.

Seperti bisa membaca kebingungan saya, si Ibu kembali berkata, “yang punya rumah ini orangnya ingat mati lho”.

Saya kembali bingung.

Lalu si Ibu melanjutkan, “pasti bingung dengan 2 pintu di sini kan? yang punya rumah ini orangnya ingat mati. Dapur yang besar ini nantinya untuk tempat memandikan jenazahnya. Pintu yang besar ini sekarang memang tidak dipakai. Dikunci. Fungsinya agar memudahkan orang-orang menggotong jenazahnya setelah dimandikan.”

Nyeessssss…. Merinding mendengarnya.
Allah.. Allah… Allah..

Betapa kita terlalu sering lupa akan kematian. sesuatu yang pasti terjadi pada semua makhluk.

Kita terlalu sibuk merencanakan kehidupan, tanpa merencanakan kematian.

Saya sepintas teringat kisah seorang Arab Badui yang begitu jujur pada Allah tentang kematian yang dimimpikannya. ketika ia akan diberikan ghanimah, ia menolaknya.
“Tidak ya Rasulullah, bukan untuk ini. Aku berperang agar ini!” Ia menunjuk satu titik di nadi lehernya. “Kalau dia jujur Kepada Allah..”, Kata Sang Nabi, “Dia akan mendapatkan apa yang dicitakannya.” Dan benar, di perang berikutnya, sebuah anak panah menancap tepat di titik yang dulu ia tunjuk dengan jarinya. Ia mendapatkannya, mati syahid sesuai apa yang dimimpikannya.

Semoga menginspirasi.
Wallahu’alam

Advertisements