Kalender_1_4dddf630a6

Di penghujung tahun, seperti tahun-tahun sebelumnya, kita selalu menyaksikan atau mendengar kaleidoskop, baik itu di TV, radio, dan media lainnya. Bahkan saat saya menulis ini, masih saja dikabarkan tentang kaleidoskop ini.

Jenuh. Monoton.

Isi dari kaleidoskop selalu sama tiap tahunnya. Sama ceritanya. Hanya pemerannya saja yang diganti. Selebihnya, sedikit improvisasi.

Kita akan selalu mendengan kabar yang begini-begini saja: Artis yang menikah, tapi yang cerai lebih banyak. Ada yang tertangkap sebagai pengguna narkoba. Seseorang membunuh lantaran dendam, bahkan pada ibunya sendiri. Kasus pencurian motor. Bentrok dan tawuaran warga. Banjir di mana-mana, terutama di ibukota. Parahnya, semua saling menyalahkan.

Kita juga akan selalu mendengar cerita tentang negara ini: Korupsi mengakar kuat. Pelakunya banyak yang ditangkap. Namun lebih banyak yang petantang-petenteng. Ada yang tertangkap tangan. Ada pula yang menghilang. Ada yang sudah jelas-jelas bukti dan saksi, tapi sampai sekarang statusnya cuma sebagai tersangka melulu, atau hanya diganjar hukuman ringan. Sayangnya, ada juga yang belum terbukti, bahkan hanya sekedar maling sendal, tapi dihukum sedemikian berat.

Berita seputar olahraga apalagi. Absulutely monoton: Juara liga ini-itu. Juara piala ini-itu. Pemain terbaik dunia versi ini-itu. Transfer dan bursa pemain dengan angka fantastis. Di negeri ini malah sangat parah: timnas yang selalu mengecewakan. PHP. Untungnya, pemain mudanya masih bisa diandalkan. Mungkin ideologi mereka masih polos tentang sportivitas.

Tuh kan.. Isi dari kaleidoskop selalu sama tiap tahunnya. Sama ceritanya. Hanya pemerannya saja yang diganti. Selebihnya, sedikit improvisasi.

Tapi kaleidoskop yang ditulis di sini sedikit berbeda. Karena cukup beda ceritanya dari tahun-tahun sebelumnya.

Sedikit cerita tentang “saya”. Jika sungkan membacanya, tak masalah. Jika sedikit penasaran, silakan lanjut baca.

Jika di tahun-tahun sebelumnya sangat monoton: sekolah / kuliah, tugas menumpuk, dan semua aktivitas hampir yang selalu sama tiap tahunnya,maka di tahun ini saya merasakan hal yang lain. Sebuah masa peralihan. Ya.. Sepanjang tahun ini adalah proses peralihan itu. Dari seorang pelajar menjadi profesional. Dari seorang remaja menjadi dewasa. Dari seorang seorang (akan) menjadi dua orang.. (ups…tolong doakan saja sesegera mungkin. Aamiin!)

Singkatnya gini: di awal tahun mengejar rampungnya tugas akhir, sidang, revisi, hingga berhak disebut ST (Sarjana Teknik). Akhirnya kuliah yang panjang itu berakhir juga.

Sambil menunggu gelar ST tadi resmi dengan toga di hari wisuda  pertengahan tahunnya (lama juga), Alhamdulillah langsung diberikan kesempatan oleh Alloh sebagai arsitek muda. Ada beberapa desain sederhana, terutama interior dan borongannya saya garap. Walaupun banyak gak taunya (maklum, kuliah kurang serius), tapi Alloh membuat orang-orang percaya pada saya. Mungkin inilah maksud Rasulullah, pintu rezeki akan tebuka bagi orang yang silahturahim, dan sedekah juga tentunya. Kepercayaan dan pengalaman sedikit ini cukup menguatkan diri saya untuk menyebut diri saya: seorang wiraswasta arsitek. 😀

Alhamdulillah sudah beberapa perumahan saya bantu buat gambarnya. Dengan bantuan teman arsitek lain, kami malah pernah membuat animasi perumahan. Beberapa kantor pun sudah dikerjakan, tentu dengan bantuan kenalan tukang-tukang (sebenarnya baru kenal), sehingga kami bukan sekedar desain, tapi juga borong kecil-kecilan.

Di akhir tahun ini saya cukup banyak permintaan desain; rumah, kantor, dan beberapa outlet. Ada juga pengerjaan bangunan yang lagi progress (renovasi, interior, dan perabotnya). Cukup jenuh mendesain,akhirnya saya nulis saja malam ini.

Harapan saya, yang sekarang masih berkantor nomaden (di mana saya bawa handphone dan tas punggung dengan laptop, di situlah kantor saya, hhe), sesegera mungkin akan punya kantor (studio arsitek; workshop) sendiri. Semoga modalnya terkumpul (tolong di-amin-kan ya).

Harapan saya juga, negeri ini akan semakin baik. Tidak monoton lagi beritanya. Bergerak ke arah yang lebih baik. Dipenuhi cinta. Dengan kerja nyata dan bersih. Dan harus harmoni tentunya.

Oya, harapan saya juga, seseorang tadi harus juga segera jadi dua orang. (yang ini juga tolong dengan sangat didoakan juga).

Semoga kita semua menjadi pribadi beruntung seperi yang digambarkan Rasulullah: hari ini lebih baik daripada kemarin. Dan hari esok lebih baik daripada hari ini.

Advertisements