Sumpah Pemuda

Saya hanya berandai-andai. Seandainya suatu saat para pemuda terbaik negeri ini berkumpul pada 28 Oktober – seperti pemuda terdahulu pernah lakukan di tahun 1928 – untuk mengikrarkan kembali “Sumpah Pemuda”. Tentu ikrar ini sedikit direvisi. Bisa jadi disebut “Sumpah Pemuda II”(ini hanya ‘berandai-andai’ loh..). Mungkin akan begini bunyinya:

 

SUMPAH PEMUDA!

Kami pemuda dan pemudi Indonesia bersumpah!
Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan.

Kami pemuda dan pemudi Indonesia bersumpah!
Berbangsa satu, bangsa tanpa pembodohan.

Kami pemuda dan pemudi Indonesia bersumpah!
Berbahasa satu, bahasa tanpa pembohongan.

 

Redaksi ikrar di atas sebenarnya tanpa sengaja muncul di wall Facebook saya tadi pagi. Diposting oleh salah satu sahabat, yang sekarang masih sebagai aktivis mahasiswa. Ternyata setelah ditelusuri, redaksi itu lantang diikrarkan para mahasiswa saat aksi 1998 dulu.

Sebenarnya  Sumpah Pemuda sudah sangat integral menyuarakan kesatuan dan komitmen pada Indonesia yang kita cintai ini. Tidak perlu adanya revisi. Sumpah pemuda II di atas sebenarnya lebih ditujukan pada ‘pemuda’ yang tidak memahami secara integral, atau malah mengingkari tiga pilar sumpah tersebut.

Kata ‘sumpah’, maknanya sudah gamblang. Secara umum, semua orang memahami definisi dan makna kata itu. Kepatuhan ataupun pelanggaran akan sumpah hanya ditentukan oleh sejauh mana manusia mengimani Tuhannya dan takut akan akibat dari pelanggaran tersebut di dunia ataupun hari akhir nanti.

Sedangkan kata ‘pemuda’ memang perlu diberi tanda petik, bahkan digaris-bawahi. Karna kata yang bermakna dalam ini yang sering disalah-artikan, hingga menjadi sebab  ketidak-pahaman, bahkan pengingkaran bagi  ikrar yang menjadi pondasi awal negara ini.

Pemuda identik dengan sebagai sosok individu yang berusia produktif dan mempunyai karakter khas yang spesifik yaitu revolusioner, optimis, berpikiran maju, memiliki moralitas, dan sebagainya. Kelemahan mecolok dari seorang pemuda adalah kontrol diri dalam artian mudah emosional, sedangkan kelebihan pemuda yang paling menonjol adalah mau menghadapi perubahan, baik berupa perubahan sosial maupun kultural dengan menjadi pelopor perubahan itu sendiri.

Celakanya, ketika pemuda hanya diartikan secara parsial, yaitu hanya pada pengertian usia saja, sedangkan watak utama dilupakan, jelas ikrar sumpah pemuda II di atas lebih gamblang dipahami.

Benar memang sekarang kita bertanah air satu. Tapi sebenanya kita dalam penindasan pemimpin korup bahkan dipasung dan didikte oleh negara lain.

Benar memang sekarang merupakan satu bangsa. Tapi strata sosial sangat mengaga. Pejabat membodohoi rakyatnya. Para konglomerat membodohi rakyat. Bahkan yang  memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi membodohi rakyat.

Benar memang sekarang kita menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Tapi bahasa itu dirangkai dengan manis. Menjadi janji-janji dan pembelaan penuh kebohongan.

Ada satu kondisi lagi yang lebih celaka. Ketika memang para pemudanya berkomitmen dengan ikrar itu. Tapi mereka tidak melupakan pemuda sebagai rentang usia. Maka ketika mereka dipercaya. Ketika mereka sudah duduk pada tampuk kekuasaan. Ketika mereka adalah pegambil kebijakan. Ketika itu pula mereka sudah berumur 40 tahunan.  Sudah lewat dari rentang usia sebagai pemuda.

Mungkin mereka akan berbisik, “Gue kan bukan lagi pemuda.. Gak terikat sumpah itu lagi.”

Kalau sudah begini, Sumpah Pemuda harus derivisi untuk yang ketiga kalinya. Kali ini kata ‘pemuda’ harus diganti dengan kata yang memang mewakili seluruh orang, sampai ke para pejabat  yang mulai berkeriput dan ubanan yang semakin tambun oleh uang rakyat.

Ya.. sebuah sumpah yang bisa dimengerti  oleh orang-orang pikun sekalipun.

Memang benar negeri ini akan maju oleh pemuda yang cerdas. Tapi tentu hancur oleh oleh orang cerdas yang licik. Cukup licik untuk selalu berlindung pada pembenaran.

 

Advertisements