image

Begitu memasuki pertengahan juz 16 Quran, maka kita disambut oleh surat Maryam. Aku begitu suka surat ini. Ayat-ayatnya seperti bersajak, didominasi oleh akhiran “.. iyya..”. Begitu enak didengar, begitu enak dilafalkan – walau suaraku ini cukup parau – dengan tartil tentunya.

Mariya, lafaz orang-orang barat menyebutnya. Kita lebih mengenalnya dengan “Maryam”. Sesuai dengan namanya, surat ini juga menceritakan tentang wanita suci ini. Buka dan baca saja terjemahannya, saya tidak akan menceritakanya di sini. Hhe…

Surat ini juga mengingatkan kita akan kisah sahabat sekaligus paman Rasulullah, Ja’far ibn Abi Thalib. Di hadapan Raja Negus dan pemuka agama di Habasyah, beliau dan rombongan – para sahabat yang diperintahkan Rasulullah hijrah ke Habasyah – diinterogasi tentang agama yang dibawa Rasulullah sampai tentang kedudukan Isa Almasih putra Maryam.

Ja’far lalu membacakan Surat Maryam. Merdu. Menggugah. Hingga merasuk dan menggetarkan dada sang raja dan para pemuka tadi. Hingga mereka larut dalam tangisan. Pada hari itu mereka mendengarkan ayat-ayat tentang akidah yang lurus, tanpa merendahkan Isa yang mereka anggap sebagai Tuhan selama ini.
Isa adalah satu dari Nabi Allah yang diangkat pada kedudukan yang tinggi.

Setelah selsai membaca Maryam, surat selanjutnya adalah Thaha. Aku teringat kasih lain, masih di zaman yang sama dengan Ja’far tadi. Kisah masuk Islamnya ‘Umar.

Dengan dada yang bergemuruh amarah,’ Umar mendapati adiknya sendiri yang ternyata telah memeluk Islam sedang membaca Surat Thaha bersama suaminya dan Said bin Tsabit. Meledak amarahnya hingga ia memukul adiknya itu sampai tersungkur dan hidungnya berdarah.

Melihat itu, ‘Umar sedikit mendingin dan meminta mushaf yang bertuliskan Surat Thaha tadi pada adiknya. Dengan syarat berwudhu dahulu, umar mendapatkan mushaf itu. Lalu dibacanya. Dadanya bergemuruh. Tapi ini adalah gemuruh iman. Pada hari itu ia membacaayat-ayat tentang akidah yang lurus. Tentang Rabb semesta alam yang sebelumnya ia ingkari. Maka pada hari itu ia langsung mencari Rasulullah untuk menyatakan keimanan. Maka sang musuh penentang Islam bebalik menjadi pahlawan pembela Islam.

Tulisan singkat ini mungkin hanya secuil dari ibrah yang terkandung sebenarnya. Terus lanjutkan tilawahnya. Tak peduli target tilawah Ramadhan ini satu kali khatam atau berkali-kali khatam. Yang terpenting, kita konsisten menjalaninya.
πŸ™‚

Advertisements