_DSC1523

Ini kisah tentang gelombang kecil yang merindukan pertemuannya dengan pantai.

Seperti perjalanan ombak menemukan pantai: bermula dari gelombang kecil di suatu tempat di tengah samudera. Semakin lama, semakin membesar. Semakin jauh, semakin berenergi. Terus melaju walau tak tahu pantai mana yang akan ditemukannya.

Entah berapa ribu mil dilaluinya hingga menjelma menjadi ombak seperti itu. Tak terhitung ikan-ikan yang berenang dan berlompatan bersamanya. Karang-karang pun tak mampu menghalangi lajunya. Tak terhitung juga ia saksikan matahari terbit lalu terbenam lagi. Dan bulan beserta bintang setia menemani perjalanannya.

Suatu hari… Mungkin besok. Atau mungkin hari ini juga, sang ombak yang kian perkasa itu akan menemukan pantainya. Menyentuhnya. Dengan segala energi yang ia kumpulkan selama perjalannya. Dengan segala cerita yang akan ia bagi dengan pantainya itu. Memeluknya penuh rindu. Lalu meresap dan membasahi setiap butir pasirnya.

Lalu ada kisah lain tentang gelombang kecil yang merindukan pertemuannya dengan pantai.

Entah karena keinginannya atau hal lainnya, kisah ini tak seperti perjalanan ombak tadi: bermula dari gelombang kecil di suatu tempat di tengah samudera, lalu ia meminta matahari mengangkatnya mengangkasa. Bersatu padu di atas lautan sebagai awan.

Tak terhitung berapa lama ia berlayar bersama bahtera awan itu. Selalu ditanyakannya setiap elang dan camar yang melintas tentang keberadaan pantai yang dirindukannya. Bersama angin, ia titipkan pesan,”bersabarlah.. Aku juga sedang berusaha bersabar”.

Suatu hari.. Mungkin besok. Atau mungkin sebentar lagi. Awan yang menghitam akan berlabuh di atas tepian pantai. Dan ia akan turun sebagai tetesan-tetesan hujan di sepanjang pantai yang begitu ia rindukan. Menyentuhnya. Menyapanya dengan semua manfaat yang tumpah ruah. Memeluknya penuh rindu. Lalu meresap dan membasahi setiap butir pasirnya. Dan satu lagi, dihadiahkannya pantainya itu dengan segores lengkung pelangi.

Ternyata ada lagi kisah lain tentang gelombang kecil yang merindukan pertemuannya dengan pantai.

Tapi ia memutuskan untuk menuliskan ceritanya sendiri. Ia hanya mencoba berprasangka baik: Pertemuan dengan pantai itu tentu sudah dipastikan Tuhannya. . . . .

Advertisements