apologize

Sepertinya inspirasi mempunyai siklus yang sama dengan hujan: kata-kata menguap dan terangkat lalu berkumpul padu di awan, hingga tumpah ruah di bumi.
Aku hanya mengumpulkan beberapa tetesnya saja dan menuliskannya di sini.

Ya, seperti hujan yang selalu turun selama ini, sesering itu pula ingin saya isi blog ini dengan tulisan dan tulisan. Hujan belakangan ini bahkan sampai-sampai menyebabkan banjir di ibukota dan banyak tempat, sebanyak itu pula seharusnya saya menulis dan menulis.

Maaf, sudah lama tidak posting. Terakhir nulis di blog ini, di awal November, saat jadwal musim hujan memulai perannya. Itu pun karna ‘paksaan‘ hujan, hingga tak ada pilihan lain selain menuliskan inspirasi ‘paksaan’ sang hujan saat berjam-jam berteduh (silakan baca postingan itu di sini).

Seperti manusia biasa lainnya, saya tak mau disalahkan akan ‘absen’ yang cukup lama ini. Maka saya meng-kambinghitam-kan kesibukan TA (Tugas Akhir) sebagai alasan utama dari ketidak-mampuan saya berkarya. Hehe. Hingga akhirnya, awal Februari ini saya sudah menyelesaikan studi S1 dan berhak menambahkan “S.T.” di belakang nama saya (walaupun jadwal wisudanya masih lama :))

“Nah lho.. ini sudah akhir Februari, Aas”, sisi bijak saya berbisik pada saya sendiri. “Benar juga.. Kurang tepat kalau TA sebagai alasannya. Seharusnya sudah ada tulisan baru setidaknya di awal bulan ini”, saya membenarkan bisikan sisi bijak saya tadi.

Saya juga sempat menyalahkan guru ngaji saya yang baru. Selama guru ngaji yang lama diganti oleh beliau, baru 2 kali beliau hadir sampai awal Februari ini. Padahal charging iman dan inspirasi harusnya saya dapatkan setiap minggunya. Maka sepertinya, kelesuan beramal bisa jadi disebakan oleh hal itu.

“Tapi 2 minggu berturut-turut ini beliau hadir terus kan As..”, sisi bijak saya berbisik lagi. “Hmmm.. benar juga, seharusnya 2 minggu ini saya full charged.”, saya membenarkan kembali bisikan itu.

Begitulah. Tak perlu mencari kambinghitam. Yang perlu dicari: tulisan yang pernah ada selama beberapa bulan vacuum ini.

Saya membuka history facebook timeline, dan note di hape. Ternyata memang sangat sedikit yang saya tulis. Ada tulisan sindiran bagi saya sendiri di note hape:

Tak ada salahnya menulis inspirasi yang terllintas di sini.Walaupun segores.

Bukankah sebuah lukisan hanyalah kumpulan goresan kuas?

 

Di Facebook ada juga tentang hujan:

Tengadahkan saja wajahmu pada hujan.
Jikapun wajah itu sedang gundah, biarlah titik-titik hujan itu mencubitnya manja.
Jikapun wajah itu sedang menangis, biarlah bulir-bulir hujan itu menyembunyikannya.

 

Sebenarnya masih ada yang lain, tapi rasanya belum perlu ditulis di sini. Sebagai penutup posting pertama saya di tahun ini, Saya hanya ingin melanjutkan menuliskan lagi apa yang saya tulis di awal tulisan ini. Dilanjutkan dengan bait selanjutnya:

 

Sepertinya inspirasi mempunyai siklus yang sama dengan hujan:kata-kata menguap dan terangkat lalu berkumpul padu di awan, hingga tumpah ruah di bumi.
Aku hanya mengumpulkan beberapa tetesnya saja dan menuliskannya di sini.

Sepertinya inspirasi mempunyai cahaya yang sama dengan bulan dan bintang: paduan indahnya memendarkan goresan kalimat-kalimat di atmosfer bumi.
Aku hanya mencoba menafsirkan dan menulisnya di sini.

Tapi sepertinya inspirasi mempunyai nada yang sama dengan namamu: getarannya beresonansi dengan jiwa hingga menjadi puisi.
Hanya saja aku tak mampu menuliskannya di sini.

Advertisements