Ketika berkunjung ke sekolah, cobalah mampir ke salah satu bangunan di sana: “Mushola”. Sekedar shalat Dhuha, atau shalat Zhuhur ketika memang sudah masuk waktunya. Maka kita akan bertemu beberapa anak berwajah polos namun berseri-seri. Di bagian sisi lain mushola, kita akan melihat beberapa anak yang berkerudung rapi dan manis. Di antara mereka ada yang sedang shalat, atau sedang tilawah Al-Qur’an. Di sudut lainnya, di antara mereka ada yang belajar bersama atau sekedar membaca santai. Di sudut lainnya, ada yang sedang rapat – lebih mirip diskusi – tentang kegiatan Islami yang akan mereka adakan di sekolah. Mereka lah anak-anak Rohis.

Lalu, cobalah juga berjalan keluar, menelurusi bagian-bagian lain sekolah. Di bawah pohon rindang di taman sekolah, sekelompok anak sedang latihan harmonisasi vokal. Ya.. mereka sedang latihan nasyid. Bisa jadi untuk mengisi salah satu acara di ceramah umum, pesantren Ramadhan, perpisahan, atau persiapan lomba. Di beberapa selasar, kita akan menemukan beberapa mading (majalah dinding). Ada salah satu mading yang berisi tausiyah, kaligrafi, sains, pengetahuan umum, dan humor Islami. mading itu pun, ternyata juga kreasi anak Rohis.

Di lapangan, kita juga akan melihat para ‘Pasukan Pengibar Bendera’ sedang latihan baris-berbaris. Lalu ada juga anak-anak yang latihan mendribel bola basket. Ada juga anak-anak PMR yang latihan membuat tandu dan memasang perban. Anak Rohis ternyata juga ada di sana. Bersemangat dengan eksul lainnya yang sesuai dengan minatnya. Di kelas-kelas, ada klub karya ilmiah, klub komputer, klub jurnalistik, dan klub-klub lainnya yang berkumpul. Dan ternyata, anak Rohis juga di sana. Bahkan tak jarang, ketua dari ekskul-ekskul tadi beberapa juga dari Rohis.

Usia remaja bisa diibaratkan sebagai masa lembab. Mengapa demikian? Seperti halnya benih tanaman, masa itu adalah masa pertumbuhan yang signifikan. Perlakuan dan penempatan benih yang benar dan sesuai, sangatlah menentukan tumbuhnya kembangnya menjadi taman yang tertata, atau mungkin hanya tanaman menjalar yang mengganggu. Seperti itu juga usia remaja.

Dari jalan-jalan kecil tadi, kita dapat melihat bahwa Rohis adalah salah satu media tumbuh benih terbaik. Dalam hal keagamaan, jelas Rohis adalah ekskul yang menitik beratkan pada Islam. Mereka yang mungkin awalnya shalat 5 waktu bolong-bolong, semakin hari komitmen shalatnya semakin tak tergoyahkan. Semakin hari, ditambah dengan shalat-shalat sunnah dan tilawah Quran. Tak ada orang tua yang tak senang melihat kemajuan ini. Bahkan anak-anak itu menjadi cahaya di rumahnya, yang menggerakkan ayah dan ibunya serta sudara-saudaranya untuk tidak pernah tinggal shalat 5 waktu. Bayangkan, dalam usia remaja, mereka sudah mulai menjadi teladan!!

Masih dari jalan-jalan kecil tadi, kita juga dapat melihat, dalam hal lain pun anak Rohis tak ketinggalan. mereka tetap belajar dan berdiskusi di mushola. Coba tanya pada guru kelas. Prestasi akademik anak Rohis juga baik. Tidak jarang di antara mereka menjadi ranking umum dan ranking kelas. Bahkan alumni-alumninya pun kebanyakan masuk ke universitas favorit. Tak bisa dihitung, alumni-alumni Rohis yang terbukti berhasil di dunia kerja: mulai dari pegawai teladan, pengusaha, sampai pejabat.

Maka ketika dikatakan, Rohis adalah taman yang menawan, bukanlah hal mengherankan. Terbukti, ia mampu menumbuhkan potensi-potensi akademik, keorganisasian, kepemimpinan, seni, fisik, dan tentu, religi.

Maka ketika dikatakan, Rohis adalah laboratorium generasi terbaik bangsa, bukanlah juga hal yang mengherankan. Terbukti, ia mampu melahirkan pemimpin dan profesional yang bekapasitas dunia dan akhirat yang seimbang.

Advertisements