Bolehkan malam ini aku berdialog denganmu? Tentang dirimu. Jika pun tak mungkin, cukuplah aku saja yang bicara. Cukup simak saja.

Di malam pertama kau muncul, aku hanya melihat segaris lengkung tipis di langit. Ada yang bilang itu disebut ‘hilal’. Ada juga yang menyebutnya ‘new moon’. Entah apa perbedaan keduanya, atau mungkin hanya beda istilah, aku tak perduli. Yang jelas, kau sadari atau tidak, aku mulai menyukaimu saat itu. Ditambah lagi, langit malam itu cukup cerah. Bebintang dan konstelasinya begitu menawan di sekeliling lengkung tipismu itu. Aku hanya berbisik, “Seandainya garis tipis lengkungmu tak setipis itu…”

Malam kedua dan seterusnya, aku bertambah menyukaimu. Lengkung cahaya tipis itu semakin menebal. Semakin bercahaya. Begitu harmonis cahanya itu dengan titik-titik cahaya konstelasi Scorpion, Centaurus, Crux, Libra, juga Lupus di malam itu. Menjelang fajar, orion, Taurus, bahkan Venus pun mengiringi kecantikanmu itu.

Mulai pada malam ke tujuh, mulai ada rasa benci padamu. “Kau terlalu egos!!”, begitu teriakku. Kau mulai kehilangan bentuk. Tidak lengkung lagi. Yang aku tak suka: kau mendominasi cahaya langit. begitu angkuhnya kau  di atas sana, hingga si Scorpion kehilangan capitnya. Bahkan beberapa konstelasi lain pun tampak absen pada malam itu. Di mana gerangan Centaurus, Crux, Libra, Orion, dan bebintang lainnya?

Kau terlalu egois!! Hanya karna cahaya pinjaman dari matahari, kau tega mereduksi cahanya para bintang yang susah payah mengirimkan cahaya jutaan bahkan miliaran tahun cahaya! Ditambah lagi, kau bersekongkol dengan awan kabut, yang mempercantik dirimu, seolah-olah kau berjalan di atasnya. Semakin meenutupi kerlip para bintang.

Kebencian itu berlanjut sampai malam ke dua belas.

Di malam itu aku tertegun. Kebencian itu mulai mencair. Hinga sampai ke malam ke empat belas, aku kembali menyukaimu. Benar-benar menyukaimu!

Cahaya benderang. Bulat utuh. Sangat memesona. Mereka bilang namamu di malam ini adalah ”Purnama”. Ada juga yang menyebutnya “Full Moon”. Tapi aku lebih suka nama yang diberi orang Jepang: “Mangetsu”.

Kecemburuan bintang-bintang kulupakan begitu saja. Toh, ketika kau di sisi barat langit, bintang-bintang masih bisa kutatap di sisi timur langit. ketika kau di sisi timur, bintang-bintang tetap tampak di sisi barat langit.

Sekarang aku hanya akan khawatir. Beberapa malam ke depan, aku pasti kecewa kepadamu. Kecewa pada bulat sempurnamu yang semakin tergerus, menjadi cembung, lalu menjadi setengah lingkaran lagi. Kekhawatiran akan rasa benci yang akan menghinggapi lagi. Aku hanya berkesimpulan, semoga itu adalah bentuk dari rindu.

Siklus rindu itu akan terus berjalan. Sejalan dengan fase bulan di setiap malam.

Advertisements