“Saya ingin jadi pengusaha!!”, begitu bebernya pada seorang pengusaha sekaligus motivator itu, juga di depan para audiens.

“Sungguh? Apakah Anda serius?”, selidiknya.

“Serius, Pak!”

“Memang Anda lulusan dari mana?”

“Saya sarjana dari universitas terbaik negeri ini. Cum Laude. Kebetulan saya bawa ijazahnya”, lalu ia menunjukkan ijazahnya itu.

Sang pengusaha berpikir sejenak. Lalu ia mengambil ijazah itu dan membakarnya di depan mata sang sarjana muda itu. Pemuda itu hanya melongo. Begitu pun para Audiens.

“Dengan begini Anda benar-benar akan menjadi pengusaha! Anda tidak bisa tergantung lagi pada ijazah ini yang memungkinkan Anda menjadi pegawai. Anda benar-benar harus menjadi pengusaha!”

Sepotong kisah di atas adalah salah satu gambaran kisah nyata yang diceritakan oleh Mas Muhammad Rofiq saat jumpa di salah satu Pecel Lele Lela miliknya. Beliau adalah pengusaha developer  dan pemilik 2 outlet Pecel Lele Lela di Palembang. Yang juga bersama isteri menjalankan 4 cabang TK Khalifah, dan sedang dalam proses pendirian SD. Pengarang buku best-seller Membuat Uang Bersujud di Kaki Anda .

Lalu ada kisah lainnya, tentang Thariq bin Ziyad. Sang pembebas Andalusia. Kita sudah sering mendengar kisah panglima ini yang membakar seluruh kapal yang membawa dirinya dan pasukannya ke tanah Spanyol itu. Tak ada opsi untuk lari dari medan tempur. Hanya ada dua konsekuensi saat itu: Kemenangan atau mati syahid.

Kisah tentang sahabat Rasul pun diceritakan oleh Mas Rofiq sebagai penguat apa yang disampaikannya. Sambil menyeruput Strawberry Shake, saya hanya bisa mendengar dan ngangguk-ngangguk.

Obrolan kami sehabis tarawih malam itu berputar tentang konsekuensi. Ia memaparkan, Entrepreneur semuanya terbentuk dari konsekuensi yang harus dihadapinya. Dan konsekuensi itu sebagian besar berasal dari ‘kepepet’. Dari kepepet, maka ada kekuatan besar bersama kita.

Saya belajar banyak dari sosok sederhana ini. Dia bercerita, semua berawal dari kejatuhan bisnis developernya di 2008,  dimana dia menghadapi kredit macet sekian milyar. Untuk menutup hutang, ia harus mampu menjual satu rumah setiap bulannya. Hampir 3 bulan belum ada rumah yang terjual, hampir saja rumah dan mobil mereka harus direlakan untuk menutup hutang. Ia mengakui, dari kekuatan ‘kepepet’ tadi, maka mau tak mau, ia mencari jalan keluar. Maka sebelum genap 3 bulan, 4 rumah dapat terjual sekaligus…

Flashback sedikit. Bayangkan, peserta E-Camp (Entrepreneur Camp), termasuk ia dulu, ditelantarkan di sebuah kota kecil (di Kepulauan Riau) dengan hanya bermodalkan KTP. Tanpa uang, tanpa handphone. Tanpa ada seorang pun yang dikenal. Dan mereka harus pulang minimal dengan uang 1 juta. Maka wajar, banyak pengusaha terbentuk di sana.

Saya jadi berpikir panjang. Menganalisa. Konsekuensi sangat berkaitan erat dengan ancaman dan keyakinan. Rasa takut akan resiko yang harus dihadapi, tapi ada keyakinan kuat bahwa akan ada selalu jalan. (Jadi teringat kandungan surat Al-Insyirah..)

‘Kepepet’ adalah sebuah konsekuensi alami yang terjadi. Sebagian orang sukses memang dianugerahi keadaan ini. Keadaan yang menekannya dengan ancaman financial, reputasi, bahkan nyawa. Keadaan yang mengharuskannya berjuang gigih memecahkan masalahnya itu.

Tapi sebagiannya  lagi, dibantu atau menciptakan sendiri konsekuensi itu. Seperti contoh kisah di atas, itu adalah bentuk konsekuensi yang diciptakan sendiri. Konsekuensi yang akan menetukan seberapa besar resiko dan seberapa kuat usaha. Konsekuensi yang tentunya akan menentukan arah hidup kita.

Saya jadi berpikir panjang. Sangat panjang. Konsekuensi apa yang akan dianugerahkan kepada saya. Atau, konsekuensi apa yang harus saya  ciptakan.

Mari kita memikirkannya. Mari kita mengupayakannya.

Bismillahi tawakkaltu ‘alallah….

Advertisements