“Hilal telah terlihat!!!”

Entahlah… Mendengar itu, tiba-tiba aku bergetar. Sudut mata tanpa terasa basah. Mungkin itulah yang disebut sebagai getar rindu. Mungkin juga getar kegentaran.

“Hilal telah terlihat!!!”, seperti itu yang kudengar. Tapi kabar itu berdesir seperti ada seseorang yang membisikiku, “Pengantinmu, orang yang kau rindu telah tiba!”

Apa yang dinanti dan dirindu begitu lama, akhirnya tiba. Jika memang kabar itu benar, ia telah benar-benar tengah memelukku hangat. Sungguh, aku rindu hangatnya tilawah yang berdengung di kamar-kamar, masjid, pasar, bahkan bus dan haltenya. Semuanya menikmatinya. Aku merindukan tarawih yang memenuhi masjid dan langgar kecil, juga manisnya Qiyamulail sebelum sahur bersama keluarga dan orang-orang tersayang. Manisnya berbuka dan pertemuan dengan Rabb…. Kerinduan akan kehangatan dan manis yang berbeda di Bulan Ramadhan.

“Hilal telah terlihat!!!”, memang itu yang kudengar. Tapi informasi itu bersahut-sahutan seperti ada yang berteriak, “Raja dan pasukannya telah terlihat di gerbang!”

Apa yang kulakukan sekarang? Belum ada persiapan yang berarti untuk menyambutnya. Jika berita itu benar, maka sang raja telah menjabat tanganku hangat sekarang. Raja itu adalah diriku sendiri. Aku telah membuat kesepakatan dengannya. Tentang tekad berpuasa yang penuh dan berkualitas. Tilawah konsisten kuantitas dan kualitasnya. Malam-malam yang panjang dengan shalat malam. Tangan yang ringan berinfaq dan bersedekah.  Sang Raja menatapku tajam. Meyakinkan bahwa aku mampu memenuhi tekad itu.

“Hilal telah terlihat!!!”, sekali lagi, itulah yang kudengar. Tapi berita itu berdenging seperti  ada yang berkata, “Hakim telah datang. Ia telah siap mengetok palunya!”

Hakim itu adalah juga diriku. Aku telah berjanji sebelum berpisah dengannya. Jika kabar benar, maka para pengawal sang hakim telah menodongkan laras senapannya ke wajahku, lalu bertanya, “Mana janjimu di Ramadhan sebelumnya? Bukankah kamu berjanji agar menjadi orang yang lebih baik setelah perpisahan sebelumnya? Alih-alih menjadi lebih baik, kamu sekarang bahkan sekarang lebih buruk! Tidak lebih baik dari sebelumnya!!!”

Pengawal yang lainnya juga berkata, “Dosamu tercatat sangat banyak. Bulan ini adalah kesempatan yang besar memohon pada Sang Maha Pengampun. Tapi ingat, manusia tidaklah maha pengampun. Mintalah maaf pada mereka semua! Kesalahanmu pada mereka juga sangat banyak!!”

Mendengar itu semua, “seharusnya” aku menangis. Menangis tersedu-sedu.

******

 Note:

Tulisan di atas saya tulis saat sidang isbat. Ternyata hasilnya kementrian agama memutuskan bahwa 1 Ramadhan jatuh pada tanggal 21 Juli 2012.

Ada rasa kecewa. Ada juga rasa lega. Paling tidak masih ada 1 hari lagi untuk meminta maaf kepada semuanya akan semua salah dan khilaf, baik yang disengaja, disadari, atau tidak.

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Advertisements