Hujan deras menahanku cukup lama di mushola komplek ini, mendorongku masuk ke ruang perpustakaan kecil di sana. Lalu jemari dan mataku melirik sebuah Sirah Nabi Muhammad dan dengan lincahnya membuka lembar demi lembar hingga menuju ke kisah Perang Mu’tah.

Kisah perang paling tidak seimbang – 3.000 pasukan Muslim melawan 200.000 tentara gabungan Romawi – ini memang sudah lama kubaca. Tapi bersama dingin dan gemuruhnya hujan malam ini, ada hangat yang memeluk dan getar yang menelusup di dada ketika membaca kisah ini lagi. Kisah tentang pengorbanan. Kerinduan pada surga. Strategi yang brilian.

Dikisahkan bahwa Rasulullah mengutus 3.000 tentara pilihannya dalam ekspedisi militer ke Syam. Beliau menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai komandan pasukan, dan bersabda, “Apabila Zaid gugur, penggantinya adalah Ja’far bin Abi Thalib. Apabila Ja’far gugur, penggantinya adalah Abdullah bin Rawahah”.

Pasukan Muslim tak pernah membayangkan akan berhadapan dengan pasukan musuh yang jauh lebih unggul dalam jumlah seperti itu. Bahkan dari segi persenjataan, pihak musuh lebih unggul. Informasi yang didapat, Heraklius (Kaisar Romawi Timur) sudah siap dengan 100.000 pasukannya. Pasukan sebanyak itu masih ditambah lagi dengan pasukan gabungan dari Lakhm, Judzam, Balqin, Bahra, dan Balli sebanyak 100.000 pasukan. Total 200.000 pasukan. Rasionya, 1 pasukan muslim berbanding dengan 67 pasukan gabungan Romawi.

Pasukan sebesar itu cukup membuat gusar pasukan Muslim. Jika bukan karna iman dan kerinduan akan syahid, tentu tentara yang hanya 3.000 orang itu akan lari menjauh. Ada usulan untuk menulis surat kepada Rasulullah tentang jumlah musuh yang harus mereka hadapi, entah Beliau akan mengirimkan bala bantuan pasukan tambahan (padahal, 3000 pasukan, termasuk jumlah yang paling banyak dimilki tentara Muslim saat itu), atau mungkin Beliau akan memberikan perintah tertentu.

Usulan yang disepakati hampir seluruh pasukan itu tertolak ketika Komandan perang ke-3, Abdullah bin Rawahah  memotivasi seluruh sahabatnya dengan berkata:

“Demi Allah! Apa yang tidak kalian sukai dalam kepergian ini sebenarnya adalah sesuatu yang kita cari, yaitu mati syahid.. Kita memerangi mereka karena agama ini, yang dengannya Allah memuliakan kita. Maka berangkatlah! Karena di medang juang sana hanya ada satu dari dua kebaikan yang akan kita jemput: kemenangan atau mati syahid.”

Maka seperti segenggam pasir yang menantang sapuan gelombang ombak nan menjulang, kedua pasukan bertemu di suatu daerah yang bernama Mu’tah. Maka dengan gagah berani dan kerinduan yang dalam akan syahid sembari membawa bendera pasukan Muslim, komandan pasukan, Zaid bin Haritsah merangsek menerobos ke barisan musuh. Gagah berani. Heroik. Terus menerus mengibaskan pedangnya, berjuang dengan kemantapan iman. Tak peduli entah sudah berapa tusukan tombak mencabik tubuhnya. Hingga tubuh itu tak mampu lagi bertahan dan akhirnya terjerembab di tanah. Ia menemukan syahidnya.

Lalu bendera pasukan diambil alih oleh Ja’far bin Abi Thalib. Tak kalah gagah. Heroik. Hingga pasukan musuh telah mengerumuni kudanya, dan ia pun terhempas jatuh. Tapi Ja’far masih bisa bangkit dan terus bertempur hingga tangan kananya putus oleh sabetan pedang musuh. Lalu bendera diraihnya dengan tangan kirinya. Namun tangan kirinya pun terpotong oleh senjata musuh. Masih dengan sisa nafas dan tenaganya, bendera masih bisa berkibar dengan diapitkannya kedua ujung lengannya tadi. Dan akhirnya, syahid pun menjemputnya. Tubuhnya terbelah menjadi dua oleh serangan terakhir seorang prajurit Romawi. beruntunglah Ja’far.. Karena Allah menganugerahinya dua sayap yang dengan sepasang sayap itu, ia bisa terbang ke manapun di surga. Karena itu Ja’far dijuliki sebagai Dzul-Janahain (orang yang memiliki dua sayap).

Lalu giliran Abdullah bin Rawahah yang mengambil alih bendera. Ia maju dengan kudanya, namun tampak keraguan ada padanya. Pada saat itu ia melantunkan syair untuk membunuh keraguan itu:

“Wahai jiwa segeralah turun ke sini… Turunlah atau engkau akan dibenci… Biarlah mereka berteriak dan menghiba… Mengapa kulihat engkau tidak suka surga.”

Ia maju ke depan hingga akhirnya syahid pun ditemuinya….

Begitulah… pada kisah perang Mu’tah ini kita akan selalu menemukan apa arti keimanan yang terpatri. Kita akan selalu iri akan kerinduan yang dalam akan syahid, dan perjumpaan dengan Rabb semesta alam. Ada hangat yang memeluk dan getar yang menelusup di dada ketika membaca kisah ini lagi. Kisah tentang pengorbanan. Kerinduan pada surga.

Selanjutnya perang ini juga bercerita tentang strategi brilian dari seorang yang disebut Syaifullah, pedang Allah.

Bendera pasukan Muslim lalu diambil seorang prajurit bernama Tsabit bin Arqam, lalu berteriak, “Wahai kaum Muslimin, angkatlah seseorang di antara kalian!”

Semua bersepakat menunjuk Khalid bin Walid. Maka setelah mengambil bendera,  ia bertempur dengan gagah dan brilian. . . .

Jauh dari medan pertempuran, Rasulullah mengabarkan ke orang-orang di Madinah dengan lantaran wahyu, “Zaid mengambil bendera, lalu ia gugur. Kemudian Ja’far yang mengambilnya dan ia pun gugur. Kemudian Ibnu Rawahah yang mengambilnya dan ia pun gugur…”, sampai di sini Rasulullah mulai berkaca-kaca dan meneteskan air matanya, lalu melanjutkan, “..Hingga salah satu dari pedang-pedang Allah mengambil pedang itu dan akhirnya memberikan kemenangan pada mereka.”

Malam sudah cukup larut. Biarlah kisah tentang kerinduan akan mati syahid dan pertemuan dengan Allah dari perang Mu’tah tadi menemani malam penuh kesahduan dan ghirah esok dan seterusnya.. Biarlah kisah kebrilianan Sang Pedang Allah yang terhunus menjadi pengingat untuk dituliskan juga.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan Surga untuknya. . .” (Q.S. 9: 111)

Advertisements