Ketika diminta untuk mengisi materi tentang SWOT, aku langsung terpikir untuk mencari dan membuka kembali binder-binder di rak buku. Catatan tentang materi itu pernah kutulis di sana semasa SMA dulu. Binder-binder itu sudah lama tak kubuka. Tampak lusuh sejak bertahun-tahun tersimpan di pojok kamar. Memang hanya ada dua binder yang kupunya, tapi ada ratusan makna dan ilmu tersimpan di sana (hhe.. lebay).

Memang binder tak mempunyai kapasitas yang dapat disamakan dengan ratusan giga harddisc. Sangat jauh. Tapi memang media favorit di waktu itu tak  dan tak bukan: binder

Di dalamnya ada catatan sekolah maupun awal kuliah, les, pelatihan (dauroh) yang kuikuti semasa SMA, termasuk catatan ngaji. Ada juga beberapa puisi (buatan sendiri dan kawan sekelas), lirik lagu nasyid, bahkan lagu ciptaan kawan sendiri. Ada juga sketsa-sketsa gambar yang kubuat sendiri. Buatan kawan juga ada (walaupun – menurutku – tidak sebagus gambar buatanku ^.^ ). Di dalamnya juga aku menempelkan  artikel menarik dan sebagian klipping kartun buatanku yang dulu selalu terbit dimuat di koran. Maklumlah, aku salah satu crew wartawan pelajar di Visi – sekarang namanya Ekspresi – Sumatera Ekspress, salah satu koran terkemuka di daerahku.

Di bagian covernya lebih menarik lagi. Aku menyebutnya cover pamer kreativitas. Di cover depan maupun belakang, dimasukkan dan ditempelkan apa saja yang menarik. Mulai dari coret-coretan pake spidol, stiker unik, sampe hasil print dari gambar favorit dan hasil belajar Photoshop. Di salah satu cover belakang binder, aku paling suka hasil tempel+gambar tim kesayanganku dulu: Juventus. Lapangannya dari kertas kado hijau yang digunting, ditempel, dan dikasih garis lapangan. Gawangnya gambar sendiri. Pemainnya juga gambar sendiri, digunting, dan ditempel juga (tapi tanpa kepala). Kepala pemainnya kugunting dari majalah (atau poster ya.. lupa), lalu ditempel juga. Jadilah sebuah karya lapangan mini dengan pemainnya yang seperti karikatur.

 

Pokoknya rame isi binder itu!! Serasa melihat diriku sendiri yang masih berseragam abu-abu yang ada di sana.

Sekarang, binder sudah kalah jauh dengan laptop ataupun tablet, dan aku pun lebih memilih mengikuti perkembangan teknologi yang semakin praktis dan mudah. Tapi binder-binder itu cukup ampuh membawaku kembali ke duniaku dulu. Saat aku masih berseragam abu-abu sampai menjadi mahasiswa baru.

note: beberapa tulisan di binder-binder itu pernah aku masukkan di blog ini. Dan aku akan memulai memasukkan beberapa isinya itu (terutama yang berupa gambar) ke dalam blog yang satunya: bukanarsitek.wordpress.com

Advertisements